
Indonesia adalah negara demokrasi, hal itu tertulis dalam pasal 1 ayat (2) Undang-undang dasar (UUD) 1945. Salah satu ciri negara demokrasi adalah rakyat, baik langsung atau tidak, berhak menyoroti pemerintah, bebas mencari informasi, menyatakan pendapat, dan mengkritik pemerintah. Namun dalam berjalannya demokrasi di Indonesia ini, masih ada kebebasan yang dibatasi oleh kekuasaan yang berkuasa. Salah satunya adalah pembungkaman berekspresi lewat karya seni, atau yang biasa disebut “pembredelan karya seni”.
Seni adalah cerminan keadaan sosial dan politik
Karya seni sendiri adalah salah satu media untuk melakukan kritik sosial. Dalam karya seni terdapat potret diri kita, baik sebagai individu maupun komunitas bangsa. Karena karya seni sendiri bisa menjadi cerminan keadaan sosial dan politik yang sedang terjadi. Pada era Orde Baru, dibawah pemerintahan presiden Soeharto pembredelan seni sering terjadi.
Pembredelan karya seni pada Orde Baru menjadi alat untuk membatasi dan mengendalikan narasi publik. Kini, di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gribran Rakabuming Raka, pembredelan karya seni kembali muncul. Hal itulah yang menimbulkan kekhawatitran bahwa #IndonesiaGelap bukan sekedar tagar, namun sebuah kenyataan yang mengancam kebebasan berekspresi.
Pembinaan karya seni Sastra
Pada Orde Baru, pemerintah secara aktif menyensor dan melarang berbagai karya yang dianggap mengancam stabilitas atau bertentangan dengan ideologi resmi. Salah satu contohnya adalah Novel dengan judul “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer. Melansir detikcom, Pemerintah melarang peredarannya melalui Surat Edaran Nomor 73106/Sekjen PDK/1980 dengan alasan karya tersebut dianggap meresahkan dan membahayakan ideologi Pancasila.
Lucunya setelah puluhan tahun, Bumi Manusia justru direkomendasikan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai salah satu dari 177 buku dalam program “Sastra Masuk Kurikulum”. Pengumuman ini disampaikan pada 20 Mei 2024 sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi siswa
Pemberitaan karya seni Rupa
Pada Desember 2024, pameran lukisan Tunggal Yos Sprapto bertajuk “Kebangkitan: Tanah untuk Kedaulatan Pangan” di Galeri Nasional dibatalkan secara mendadak. Dilansir dari Tempo.co, Yos mengaku dilarang masuk ke ruang pameran tempat karyanya dipajang di Gedung A Galeri Nasional akibat sejumlah karya yang dia pamerkan dianggap melanggar norma sosial oleh penyelenggara.
“Saya senimannya saja tidak bisa masuk ke dalam ruang di mana saya menaruh karya-karya saya,” kata Yos di Gedung YLBHI-LBH Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat pada Sabtu (21/12/2024).
Pembinaan karya seni teater
Pada bulan Februari 2025, pertunjukan Teater Payung Hitam berjudul “Wawancara dengan Mulyono” di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) gagal ditayangkan karena ruang pertunjukan digembok oleh pihak kampus.
Melansir Tempo.co, “Tadi pagi saya ke sini itu pintu Studio Teater sudah digembok,” kata sutradara sekaligus pemain kelompok Teater Payung Hitam Rachman Sabur kepada Tempo, pada Sabtu (15/02/2025).
Padahal sebelumnya, Rachman dan pemain lain yaitu Tony Broer sempat berlatih di studio itu pada Jumat malam, 14 Februari 2025 hingga sekitar pukul 23.00 WIB. Selain itu, pemasangan baliho acara juga sempat dicopot sebelumnya oleh lembaga kampus. Kelompok Teater Payung Hitam memasang baliho berukuran 3 x 4 meter di depan Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung pada Rabu, 12 Februari 2025. Namun keesokan harinya, baliho itu lenyap setelah dicopot pihak kampus.
“Alasannya untuk dokumentasi,” kata Rachman.
Pembinaan karya seni musik
Masih pada bulan yang sama dengan pembredelan pementasan teater payung Hitam tepatnya 20 Februari 2025. Band Sukatani di akun Instagramnya menggunggah video menyatakan lagu menarik “Bayar Bayar Bayar” dari sejumlah platform, seperti Spotify dan YouTube. Dua personel Sukatani, Muhammad Syifa Al Lufti dan Novi Citra Indriyati juga menyatakan permintaan maaf kepada Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Listyo Sigit Prabowo dan institusi polri atas lirik lagu yang banyak transmisi frase “Bayar Polisi” tersebut.
Unggahan itu mengejutkan publik, apalagi dua personel Sukatani sendiri ketika tampil di panggung selalu menggunakan nama samaran Alectroguy dan Twister Angel, dan selalu menutup seluruh tubuh dan wajah dengan kain. Karena unggahan itu pula yang menyebabkan Novi yang ternyata guru sekolah dasar tiba-tiba dihentikan dari Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) di Purbalingga.
Melansir Kompas.id , Sebagian besar masyarakat mengirimkan permohonan maaf Sukatani serta izin Novi dari guru sekolah adalah akibat dari tekanan. Polda Jawa Tengah mengakui ada beberapa polisi yang meminta keterangan kepada Sukatani terkait lagu ”Bayar Bayar Bayar”, tetapi membantah adanya intimidasi terhadap band itu. Menurut Kepala Bidang Humas Polda Jateng Komisaris Besar Artanto, Sabtu (22/2/2025), klarifikasi polisi itu dilakukan secara profesional sesuai tugas pokoknya.
Bertentangan dengan demokrasi
Pada dasarnya, pembredelan seni bertentangan dengan prinsip demokrasi dan hak asasi manusia. Karena seni adalah salah satu media untuk menyuarakan kebenaran dan mencerminkan realitas masyarakat. Pembredelan karya seni di Indonesia, baik di masa lalu maupun saat ini dengan alasan menjaga stabilitas, moralitas, atau netralitas institusi menunjukkan bahwa pengendalian terhadap narasi publik masih menjadi prioritas bagi pemerintah. Ini juga bukti bahwa perjuangan untuk kebebasan berekspresi masih jauh dari selesai.
Kasus-kasus terbaru di era pemerintahan Prabowo-Gibran menjelaskan bahwa #IndonesiaGelap bukan sekadar tagar, tetapi kenyataan yang harus dihadapi. Dan untuk mencegah kembalinya praktik-praktik represif ala Orde Baru, diperlukan komitmen untuk melindungi masyarakat dan menjamin kebebasan berekspresi sebagai hak fundamental setiap individu.
Kita tidak bisa membirakan segala pembungkaman berekspresi lewat karya seni terus terjadi. Karena ketika seni dibungkam, bukan hanya seniman yang dirugikan, tetapi juga masyarakat secara luas karena kehilangan akses terhadap perspektif alternatif dan pemikiran kritis. Hari ini mereka membungkam seni, lama-kelamaan apakah tulisan berdasarkan fakta juga akan dibungkam? Kita tak bisa terus diam, kita harus terus bersuara!
Penulis: Rizqho Prayoga
Editor : Sabrina Gita