Feature

Wajah Baru di Sudut Kota Semarang: Biografi Kreatif Kampung Mural Petemasan
Feature

Wajah Baru di Sudut Kota Semarang: Biografi Kreatif Kampung Mural Petemasan

Apa jadinya jika kebebasan kreatif para seniman bertemu dengan hangatnya keterbukaan warga di sebuah gang buntu? Kampung Petemesan memberikan jawabanya, sebuah ruang dimana seni tak lagi berjarak dengan kehidupan. Di jantung Kota Semarang yang padat, tepatnya di Kelurahan Purwodinatan, terdapat sebuah gang buntu yang kini menjadi titik sentrum baru bagi anak muda dan seniman. Kampung Petemasan, kini tidak lagi dikenal sebagai sudut kota yang gelap, melainkan telah bersulih rupa menjadi galeri terbuka yang penuh warna. Awal Mula dan Inspirasi Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Rangga, selaku ketua Karang Taruna banyak bercerita mengenai kampung ini saat di wawancarai awak LPM vokal. Sebelumnya warga setempat tidak terlalu mengenal apa itu seni mural, bagi mereka, coretan di tem...
Feature

Sepinya Hutan Dayunan Tak Lagi Menyimpan Mitos, Melainkan Ketidakadilan

Bebukitan hijau yang diselimuti perkebunan, berpadu dengan aroma tembakau khas menyambut siapa saja yang melewati jalanann berkelok menuju Desa Dayunan. Pemandangan asri ini seolah menawarkan ketenangan. Namun di balik keelokan itu, tersimpan sebuah cerita perjuangan yang pelik. Di balik gelap malam yang menyelimuti Desa Dayunan, ancaman yang dirasakan warga bukan lagi berkaitan dengan setan-setan atau mitos kuno, melainkan setan berwujud "PT fiktif" yang setiap bulannya melakukan kriminalisasi dan mencoba merebut lahan garapan warga. Ancaman ini nyata, menghantui setiap jengkal tanah yang menjadi tumpuan hidup masyarakat setempat. Hadir bagai bayangan yang selalu mengikuti langkah warga. Dalam dinginnya kawasan kaki Gunung Prau, suasana hangat terjalin antar petani dan teman-teman j...
Dugderan: Tradisi Penyambutan Bulan Suci Ramadhan 2026
Feature, feature news

Dugderan: Tradisi Penyambutan Bulan Suci Ramadhan 2026

  Malam turun, tapi kota belum kehilangan kemerlapnya. Riuh yang berlapis, bising yang bergetar di dada, dan keceriaan yang memantul di setiap sudut cahaya. Lampu-lampu menyala seperti mentari, sementara tawa, panggilan pedagang, dan derap langkah kaki bersahut-sahutan membentuk irama yang teratur sekaligus tergesa, seperti kota yang enggan memperlambat nafasnya. Langkah-langkah terhenti di sebuah simpang, seolah waktu pun ikut menahan napas. Deru mesin meraung lirih dalam barisan panjang yang tak sabar. Sahutan klakson tak berhenti bergema. Lampu kendaraan berkedip seperti kunang-kunang kota yang kelelahan. Parkiran berpencar jauh, sementara udara terasa sesak. Bukan semata karena asap knalpot, melainkan desakan manusia yang menuju pusat cahaya di alun-alun pelataran Masjid A...
Gencar Pembangunan, Minim Parkiran
Berita, Berita Kampus, Feature

Gencar Pembangunan, Minim Parkiran

  Suara deru motor bercampur klakson terdengar riuh di halaman Gedung Utama Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Mahasiswa yang baru datang sibuk mencari celah untuk memarkirkan kendaraannya. Sayangnya, celah itu semakin sulit ditemukan. Sebagian motor dipaksa berhimpitan, sebagian lain justru diparkir melintang, menutup jalur keluar. Pemandangan serupa juga bisa ditemui di Gedung Pusat dan area Kampus 4. Ketiga titik tersebut sama-sama menjadi tempat padat dengan aktivitas mahasiswa. Kondisi kacau itu kini tak hanya dirasakan langsung, tetapi juga terdokumentai di dunia maya. Sebuah akun Instagram anonim dengan username @parkir_upgris konsisten mengunggah video-video parkir aneh mahasiswa UPGRIS, mulai dari motor yang parkir berhimpitan, parkir yang menutupi jalur pejalan kaki...
Berkenalan dengan Lek Moh: Petani Pundenrejo yang Terenggut Ruang Bertaninya
Feature, Wawancara

Berkenalan dengan Lek Moh: Petani Pundenrejo yang Terenggut Ruang Bertaninya

“ Dulu tidak pernah kehabisan beras, sekarang harus beli mahal ” – Lek Moh Sambil berlakon dan menggaungkan ' Hidup Petani Pundenrejo!!!' di berbagai tempat, nyatanya Mohammad atau yang sering disapa 'Lek Moh' adalah hanya salah satu warga Pundenrejo yang rindu akan kehidupan indah bertaninya. Bagi Lek Moh, bertani bukan hanya menanam padi untuk mendapatkan uang. Lebih dari menanam, menurutnya 'bertani' adalah raga dari kehidupan. "Makna bertani, kalau orang desa ya, rogone itu. Kalau memang orang desa ya tani ya nyawane , kui rogone. Kesatuan, tani juga, terus cekelane ya pacul, karo sarapan cekelane yo pacul langsung nok sawah ," ucapnya. Kisahnya dengan dunia pertanian dimulai sejak kecil. Lek Moh lahir dari ayah dan ibu petani. Ayah Lek Moh bertani dari terbit fajar, lalu ...
Temanggung Jadi Pemberhentian Kedua ‘Bandeng Keliling’, Kolektif Hysteria: Penyakit Kejiwaan
Feature

Temanggung Jadi Pemberhentian Kedua ‘Bandeng Keliling’, Kolektif Hysteria: Penyakit Kejiwaan

Program Bandeng Keliling dari Kolektif Hysteria Semarang telah berada di pemberhentian keduanya, yakni Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada hari Jumat (7/2/2025), setelah sebelumnya singgah di Kota Magelang. Bandeng Keliling sendiri, merupakan program lawatan dari Kolektif Hysteria yang pada tahun ini dikelilingkan ke-34 titik di Pulau Jawa dan Bali, dengan mengkampanyekan semangat manifesto "Tulang Lunak Bandeng Juwana". Seperti kota sebelumnya, manifesto tersebut dikemas ke dalam sebuah Film Dokumenter berjudul "Legiun Tulang Lunak: 20 Centimeters per Year", yang diproduksi oleh Semaya Studio dan berisikan tentang perjalanan 20 tahun Kolektif Hysteria, terkait praktik-praktik berkeseniannya. Dalam kesempatan kali ini, berkolaborasi dengan Komunitas Paron yang diwakili oleh...
Temu Jaringan Kampus: Menguatkan Kolaborasi Komunitas dan Perguruan Tinggi dalam Isu Perkotaan
Berita, Feature

Temu Jaringan Kampus: Menguatkan Kolaborasi Komunitas dan Perguruan Tinggi dalam Isu Perkotaan

Memahami suatu perkotaan tidak hanya bisa dilihat dari satu disiplin keilmuan, hal inilah yang menjadi dasar PekaKota Institute. Sebuah platform pembelajaran isu perkotaan, dibawah naungan Kolektif Hysteria. Pada prinsipnya PekaKota sebagai ruang yang mendorong keterlibatan warga dalam proses pembentukan kota, dengan menekankan kerja-kerja lintas disipliner. Sebagai langkah nyata dalam mewujudkan hal tersebut PekaKota Institute maupun Kolektif Hysteria, dalam beberapa program bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi. Salah satunya dengan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), kolaborasi ini dimulai sejak tahun 2016 dan sampai sekarang. Kerjasama yang sudah terjalin ini rencana akan diperluas ke beberapa program studi dari berbagai p...
MAY DAY: GEMURUH RIUH PENYAMPAIAN ASPIRASI HAK BURUH
Feature, Indepth News

MAY DAY: GEMURUH RIUH PENYAMPAIAN ASPIRASI HAK BURUH

Menilik ke kantor Gubernur Jawa Tengah dan Gedung DPRD Jawa Tengah, pagi itu tanggal 1 Mei 2025 diisi masa aksi dari beberapa serikat pekerja. Bertepatan dengan May Day beberapa aktivis buruh menyuarakan beberapa tuntutan yang fokus pada hak-hak dasar buruh. Perjuangan buruh tidak hanya tentang menuntut hak-hak dasar seperti upah layak dan jam kerja yang manusiawi, tetapi juga tentang menciptakan kondisi kerja yang aman dan sehat. Peringatan hari buruh diperingati oleh para pekerja pekerja yang memiliki Sejarah Panjang dalam perjuangan hak-hak pekerja. Peringatan Hari Buruh dimulai pada tahun 1920-an, namun kemudian dilarang selama masa Orde Baru karena dikaitkan dengan gerakan komunis. Setelah era Orde Baru berakhir, peringatan Hari Buruh kembali dirayakan oleh buruh di Indonesia d...
Dibalik Semangat Mendukung Timnas, ada Semangat lain yang Terus Menyala: Perjuangan atas Hak dan Keadilan.
Berita, Feature, Straight News

Dibalik Semangat Mendukung Timnas, ada Semangat lain yang Terus Menyala: Perjuangan atas Hak dan Keadilan.

Krumunan masyarakat memadati halaman depan kantor Gubernur Jawa Tengah pada Selasa malam (25/3/2025). Mereka berkumpul untuk menyaksikan laga ke-7 Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana Tim Nasional Indonesia berhadapan dengan Bahrain. Layar besar yang dipasang di area terbuka menjadi pusat perhatian. Sementara para suporter duduk tanpa alas kaki, mengikuti pertandingan dengan penuh semangat. Suasana di lokasi tidak hanya diwarnai euforia sepak bola, tetapi juga ekspresi keresahan atas situasi sosial dan politik yang tengah terjadi. Di antara sorak-sorai penonton, berbagai tulisan dan spanduk berisi pesan protes terbentang di sudut-sudut sekitar Gubernuran. Kalimat seperti “Cabut UU TNI”, “Gamma Never End Game”, dan “Kami Lelah dengan Kekerasan” terlihat jelas d...
Keresahan Warga di Balik Meriahnya Event Gebyuran Bustaman: Terenggutnya Ruang Publik, hingga Turunnya Kualitas Hidup Masyarakat
Berita, Feature

Keresahan Warga di Balik Meriahnya Event Gebyuran Bustaman: Terenggutnya Ruang Publik, hingga Turunnya Kualitas Hidup Masyarakat

Kampung kota yang dikenal memiliki tradisi Gebyuran Bustaman-nya yang unik. Bahkan, di sepanjang gangnya terpampang banyak mural yang kaya akan makna sejarah kampung tersebut. Menjelang terselenggaranya tradisi tahunan ini, Kampung Bustaman nyaris tidak memiliki akses ruang publik. Biasanya warga kampung menggunakan bekas Rumah Pemotongan Hewan (RPH) untuk melaksanakan acara. Berdasarkan informasi yang beredar, penutupan berawal dari renovasi ruang di dalam RPH. Renovasi dilakukan karena kayu penyangga bangunan tersebut sudah mulai lapuk. Ketika tahap renovasi sempat terhenti untuk beberapa saat. Kayu-kayu penyangga yang sudah dipugar itu, dibiarkan begitu saja tanpa adanya perawatan. Warga kampung beranggapan bahwa tumpukan kayu tersebut sudah tidak gunakan lagi. Lalu, warga menjualnya...