Majalah Hayamwuruk Kembali Terbit, Angkat Isu Budaya dan Folklor

Sabtu, 29 November 2025 Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Hayamwuruk menggelar serangkaian acara bedah majalah edisi XXVI berjudul “SWARANING RAKYAT: GEMA FOLKLOR DARI JANTUNG TANAH JAWA”. Tema majalah yang mereka angkat adalah budaya dan folklor, hasil keputusan bersama redaksi yang memilih menjauhi isu politik yang sebelumnya kerap mendominasi edisi-edisi terdahulu.

Ken Widayati, salah satu pembicara pada acara ini menyatakan bahwa budaya itu tidak hanya sesuatu yang perlu kita jaga, tapi juga perlu kita pahami.

“Budaya tidak hanya sebagai sesuatu yang perlu kita jaga, tapi juga perlu kita pahami,” jelasnya.

Menurutnya, jika budaya itu pelestarian tanpa pemaknaan hanya akan membuat budaya kehilangan alasan untuk dipertahankan. Tetapi ketika kita paham tentang budaya itu, maka kita akan bisa menjaganya karena kita memahami nilainya.

Pemimpin Redaksi LPM Hayamwuruk, Petricia Putri Marricy (Icy), menjelaskan bahwa gagasan menghidupkan kembali majalah muncul setelah vakum panjang sejak 2017. Ia menyebut bahwa preferensi tim yang lebih tertarik pada isu sosial dibanding politik mendorong redaksi beralih ke tema budaya. Setelah sepakat Persiapan majalah dimulai sejak Juni, bersamaan dengan produksi buletin yang masih berjalan. Proses plotting dan penentuan penanggung jawab dilakukan paralel, mengikuti pola kerja multitasking yang diterapkan oleh Icy untuk memastikan kedua produk tetap dapat diproses.

Dalam proses penyusunan majalah, berbagai kendala tentu tidak terhindarkan. Icy menceritakan tantangan yang mereka hadapi sekaligus pengalaman menarik yang terjadi selama persiapan penerbitan majalah.

“Tapi yang menurutku paling menarik adalah lebih ke niat mereka untuk bisa liputan jauh-jauh,” paparnya.

Tentunya acara ini tidak hanya membahas seputar pembuatan majalah saja. Rangkaian acara bedah majalah juga menampilkan pameran kecil sebagai ruang apresiasi atas proses penyusunan dan kerja lapangan tim redaksi. Kegiatan ditutup dengan harapan agar majalah LPM Hayamwuruk dapat kembali terbit secara rutin.

“Makanya kayak idealisme, aku bilang kayak aku mau ngajak anak-anak buat bikin majalah lagi deh meskipun berat kayak yaudah lah gitu,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *