MENILIK URGENSI KEPEDULIAN JURNALIS AKAN KESELAMATAN HIDUP WARGA DI PESISIR JATENG

Jumat (24/1/2025) Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Jawa Tengah mengadakan acara Talkshow dan Launching Media Fellowship dengan tema “Jurnalis Peduli Pesisir, Selamatkan Urip Wong Jateng” yang berlokasi di Klu Cafe, Jalan Bukit Putri No. 26, Kecamatan Ngesrep Banyumanik,Semarang. Kegiatan dibuka dengan beberapa macam dilanjutkan dengan acara inti yang terdiri atas dua acara yaitu Talkshow dan Launching Media Fellowship. Acara talkshow pertama dengan mengundang beberapa narasumber diantaranya Fahmi Bastian selaku Direktur Eksekutif (ED) Walhi Jateng, Hotmauli Sidabalok, Ph.D seorang pakar pesisir yang kerap disapa Mbak Uli, Marzuki masyarakat Tambakrejo, Soleh nelayan Bedono dan Usman nelayan Batang.

Jurnalis pengetahuan akan pentingnya isu lingkungan pesisir menjadi faktor berkurangnya ketanggapan akan menggambarkan keadaan pesisir yang dari tahunnya semakin tenggelam. Hal ini menjadi salah satu tujuan diadakannya talkshow ini untuk membahas permasalahan pesisir, karena permasalahan tersebut bukan hanya permasalahan para nelayan tetapi juga permasalahan kita semua.

“Persoalan pesisir bukan hanya persoalan para nelayan tapi juga persoalan kita semua” ujar Azalya Tilaar selaku moderator.

Pada tahun 2021 Walhi Jateng mencoba mengkaji kondisi yang terjadi di pesisir yang ada di Jawa Tengah baik di bagian utara maupun selatan. Fahmi Bastian mengatakan bahwa menjadi pesisir hilirnya dari permasalahan yang ada di wilayah bagian atas, seperti dengan adanya banjir karena terjadi perubahan fungsi tanah yang ada diatasnya. Semua itu memiliki kesinambungan satu sama lain. Berdasarkan pandangan pribadi Pakar Pesisir, Dosen Magister Lingkungan dan Perkotaan Universitas Soegijapranata, berbagai permasalahan yang terjadi seperti tenggelam karena banjir/rob, rusaknya ekosistem dan ketidakadilan geografi. Faktor penyebab yang dutarakan seperti respon warga yang harus menaikkan rumah menjadi solusi pemerintah atas infrastruktur jalan yang macet. Hal ini menjadi penting mengapa suara warga layak didengarkan.

“Strategi warga adalah menyuarakan itu dan bagaimana suara mereka didengarkan” tambah Bu Uli.

Hal yang sama disampaikan oleh Parid Ridwanuddin seorang analisis kebijakan kelautan dan perikanan. Pentingnya media memberitakan kepada masyarakat tentang permasalahan warga yang ada di pesisir ini. Media kurang tanggap menyuarakan terkait isu lingkungan pesisir karena beberapa faktor yaitu jumlah konten yang terbatas karena kapasitas jurnalis, terdapat tantangan besar terkait isu tersebut dan peliputan yang membutuhkan investasi cukup besar. Hal ini disampaikan oleh Iwan Arifianto.

“Media dapat menjadi penghubung antara sejarawan dengan publik. Media perlu menyoroti isu lingkungan pesisir, perlu melakukan pembuatan konten bervariatif, perbanyak kegiatan peningkatan kapasitas jurnalis, penguatan media alternatif, media sosial dan jurnalisme warga,” ujar salah seorang anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang tersebut.

Kegiatan ditutup dengan Closing Statement oleh beberapa narasumber dan dilanjutkan dengan penyampaian informasi beasiswa Media Fellowship “Jurnalisme Peduli Pesisir, Selamatkan Urip Wong Jateng”. Media Fellowship merupakan program beasiswa yang diberikan kepada 20 orang terpilih. Peserta tersebut akan diterjunkan di beberapa titik untuk melakukan penelitian serta kajian tentang tenggelamnya daerah pesisir. Beberapa pesan kunci yang diharapkan keluar antara lain Jateng Tenggelam, Diam Bukan Pilihan, Perempuan dan Anak Kelompok Rentan, Kearifan Lokal Vs Kebijakan Negara, Inisiatif Warga Membangun Ekonomi Lokal, Komoditas atau Keberlanjutan.

 

Penulis: Rizqho Prayoga

Editor : Ika Nugraha

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *