

“Salam Kendeng! Lestari!”
Tahukah kalian bahwa ada tradisi di Sukolilo, Pati yang digelar tiap tahunnya bernama tradisi lamporan. Tradisi ini diperingati setiap bulan Muharam atau Suro pada tanggal Lima. Mungkin kalian sedikit asing dengan kata “Lamporan” itu sendiri. Lamporan adalah tradisi yang dilakukan oleh sedulur sikep atau penganut kepercayaan Samin Surosentiko (Salah satu tokoh masyarakat Kendeng yang dipercaya melawan VOC) dan segenap warga sekitar sebagai bentuk tolak bala dari hama dan penyakit yang menyerang tanamam dan ternak milik mereka.
Tahun ini, tradisi lamporan dengan tema “Nyiwer Kendeng” dilaksanakan pada sabtu, 18 januari 2025 di Alas Sonokeling, Dukuh Misik, Sukolilo, Pati. Acara dimulai jam 19.00 WIB hingga nyaris tengah malam. Acara malam itu dibuka dengan nyanyian tembang-tembang jawa khas dengan iringan gamelan, pembacaan geguritan ibu pertiwi, serta sambutan dari Gunretno, tokoh sedulur sikep dan koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK).
Gunretno menyampaikan bahwa tradisi lamporan adalah pengingat agar petani kembali pada alam dan menjaga bumi. Alam tidak hanya rusak karena pupuk dan obat kimiawi, tetapi juga karena ulah manusia dan industri. “Siklus yang memelihara, bukan menghancurkan” ucapnya. Sebelum memulai acara inti, ada pula pertunjukan teatrikal berupa tarian umbul donga kendeng ibu pertiwi.
Setelah rangkaian acara pembukaan, lamporan pun dimulai. Semua orang yang datang diberi obor dari bambu lengkap dengan sumbu yang sudah dinyalakan. Arak-arak an ratusan orang itu berjalan mengelilingi Desa Misik dengan lafal mantra-mantra dan saut-sautan yang terdengar sakral. Sebuah ritual tradisional yang mengingatkan kita pada zaman dimana digital belum merongrong kehidupan kita. Berjalan mantap keluar dari alas, sambil melewati jalan tepian sungai, rumah-rumah warga dengan kontur tanah yang tidak rata.
Setelah massa bertemu di titik awal lagi, dilanjutkan dengan Brokohan. Brokohan adalah tradisi doa bersama sebagai bentuk syukur dan upaya melestarikan hasil alam pegunungan kendeng. Setelah doa bersama, makanan akan dibagikan dan dinikmati bersama saat itu juga. Sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan jika kalian sekali-kali dapat berpartisipasi dalam tradisi lamporan ini. Banyak pengunjung dari luar kota yang turut datang hingga dari mancanegara sekalipun. Tradisi ini mengajarkan kita bahwa menjaga alam adalah sebuah bentuk syukur paling kecil atas limpahan hasil yang diberikan.
Penulis : Ika Nugraha
Editor : Sabrina Gita