
Bulan Ramadhan menjadi bulan yang dirindukan seluruh umat islam. Bulan istimewa ini menjadi kadang mencari berkah Illahi. Umat Islam seluruh dunia menyambut kedatangan bulan ini dengan penuh kebahagiaan. Begitupun negara seribu pulau ini, yang mayoritas umatnya beragama Islam. Hal ini menjadikan suasana Ramadhan di Indonesia cukup berbeda dari negara lain.
Salah satu fenomena unik pada bulan Ramadhan di Indonesia yaitu banyaknya masyarakat berburu makanan dan minuman menjelang waktu berbuka puasa. Tentunya fenomena ini dijadikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh keuntungan, bahkan masyarakat yang biasanya tidak berdagang pun membukakan diri untuk mengisi kesempatan yang menguntungkan ini. Beberapa dampaknya cukup signifikan ada yang menguntungkan bagi masyarakat tetapi beberapa juga terdapat kerugian.
Penjualan Takjil memberikan dampak besar bagi perekonomian pedagang kecil dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Hal ini merupakan kesempatan besar bagi kelompok UMKM untuk meraup keuntungan. Para pedagang menjual berbagai macam takjil, mulai dari makanan ringan. minuman manis, hingga makanan berat. Bagi pedagang kaki lima bulan Ramadhan memberikan peluang untuk membantu perekonomian mereka ditengah tantangan ekonomi yang ada saat ini.
Harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan, mulai dari kebutuhan sandang dan pangan. Melansir dari Republika.Id Pada tahun 2024 dampak ekonomi ramadhan dan lebaran akan mempengaruhi kuartal I dan kuartal II 2024. Dengan target pertumbuhan ekonomi 2024 sebesar 5,2 persen, efek musiman ramadhan dan lebaran akan mendorong pertumbuhan kuartal I dan kuartal II 2024 mencapai lebih dari 5 persen. Hal ini didorong oleh pengeluaran konsumsi rumah tangga yang diprediksi meningkat selama bulan suci ramadhan dan perayaan Idul Fitri
Di era digital saat ini penjualan takjil juga bisa berpengaruh pada aspek ekonomi, pasalanya para pedagang takjil dapat membuka kesempatan dengan menjual dagangnya secara daring melalui platform e-commerce atau aplikasi pesan-antar makanan. Dampaknya pun juga bermanfaat bagi pelaku konsumen sehingga memudahkan mereka untuk tidak bersusah payah mengantri. Para penjual juga bisa mempromosikan dagangannya melalui platform media sosial. Hal tersebut tentunya mempermudah informasi baik dari penjual maupun pelaku konsumen.
Fenomena takjil juga mempermudah memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, contohnya di beberapa daerah mengadakan festival atau bazar takjil, seperti Dandangan di Kudus dan Dugderan di Semarang. Hal ini tentunya membantu para pedagang-pedagang kecil memperoleh pasar yang tepat. Para distributor seperti jasa antar makanan pun juga ikut memperoleh keuntungan dari adanya penjualan takjil selama Ramadhan ini karena pasar di media sosial pun cukup meningkat sehingga memeberikan kesempatan yang besar bagi para food dalivery.
Selain aspek ekonomi, takjil juga mempengaruhi aspek sosial. Takjil juga sudah melekat pada budaya di Indonesia, salah satu dampaknya yaitu dapat menjadi sarana atau media bagi masyarakat untuk bersilaturahmi membangun sebuah hubungan sosial. Peran takjil juga memperkuat identitas dan kebersamaan umat muslim. Tak jarang juga ada beberapa kalangan dari berbagai agama yang ikut berburu takjil selama bulan Ramadhan ini, hal itu menjadi suatu keunikan bahwa Ramadhan di Indonesia bukan hanya tempat bagi para umat muslim saja tetapi dari berbagai agama pun juga bisa ikut merasakan kemeriahannnya.
Namun peran takjil juga memberikan beberapa impact buruk bagi masyarakat seperti kualitas dan keamanan makanan yang berpotensi buruk bagi kesehatan. Hal tersebut karena pedagang takjil terkadang merupakan pedagang musiman yang hanya berdagang pada saat bulan Ramadhan saja. Umumnya pedagang-pedagang ini belum pernah mendapatkan pembinaan terkait keamanan pangan. Hasil pengawasan Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada tahun 2020 pada pangan jajanan berbuka puasa (takjil) menunjukkan bahwa dari 168 sampel yang diperiksa, sebanyak 9 sampel (5,36%) Tidak Memenuhi Syarat (TMS) karena mengandung bahan berbahaya dalam pangan (formalin dan rhodamin B). Salah satu dampak dari kandungan formalin pada makanan yang dikonsumsi manusia adalah mual, muntah, perut perih, diare, sakit kepala hingga gangguan jantung.
Kebersihan tempat penjualan dan kemasan plastik yang digunakan sekali pakai pada jajanan takjil juga memberikan suatu keresahan bagi lingkungan, pasalnya selama Ramadhan disebutkan oleh kepala Kabid persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) pada kasus data di kabupaten Nunukan Kalimantan Utara, bahwa sampah plastik selama bulan Ramadhan meningkat 10% dari sampah yang biasanya 20 kubik atau sekitar 16 ton perharinya. Akan tetapi, hal ini bisa kita cegah bersama-sama mulai dari kesadaran diri masing-masing dengan membawa kantong belanja atau juga wadah tempat makanan.
Itulah beberapa aspek yang bisa dibahas seputar takjil yang memberikan suatu sudut pandang dari berbagai perspektif sehingga dapat memberikan eksplorasi takjil dari sudut pandang sosial budaya, ekonomi, kesehatan, dan teknologi.
Penulis : Dhea Silvia Gayatri
Editor : Sabrina Gita