

Sabtu, 14 Februari 2026, bertepatan dengan Hari Valentine, Unit kegiatan mahasiswa (UKM) Teater Gema Universitas PGRI Semarang mengadakan pentas kolaborasi dengan Teater Gemati yang bertajuk “Soliloquium de Tempore”. Pementasan tersebut menjadi ruang temu antara mahasiswa aktif dan para alumni yang masih berproses di dunia teater.
Teater Gemati sendiri merupakan kelompok teater umum di Semarang yang mayoritas anggotanya adalah lulusan Teater Gema. Dirintis pada 2025, pementasan ini menjadi produksi perdana mereka. Ketua Umum Teater Gema, Sandy, menyebut kolaborasi tersebut sebagai bentuk fasilitasi sekaligus upaya menjaga kesinambungan proses kreatif antar generasi.
“Teater Gemati itu suatu kelompok teater umum di Semarang yang notabene kebanyakan lulusan dari Teater Gema, yang masih semangat berproses, jiwanya masih berteater, jadi mereka membuat sebuah kelompok yang namanya Teater Gemati,” tutur Sandy selaku ketua umum Teater Gema.
Pementasan tersebut menjadi produksi perdana mereka, sementara Teater Gema berperan dalam memfasilitasi ruang pertunjukan sekaligus membantu kepanitiaan. Kolaborasi itu tidak hanya tampak pada dukungan teknis, tetapi juga dalam keterlibatan pemain dari anggota Teater Gema. Sejumlah aktor yang telah lulus kembali tampil satu panggung bersama anggota aktif, sehingga menghadirkan dinamika tersendiri dalam proses latihan.
Jeje, pemeran tokoh Ester dari Teater Gema, mengungkapkan bahwa latihan berlangsung sekitar satu bulan. Ia harus menyesuaikan diri dengan pemain lain yang telah lebih dulu membawakan naskah tersebut pada pementasan sebelumnya.
“Sebenarnya latihan termasuknya cepat cuma satu bulan aja sebenarnya itu berat, tapi juga kayak bangga juga karena kan ini juga tampilnya sama mas-mbak kita yang udah lulus,” ungkapnya.
Proses latihan juga diwarnai kendala pengaturan waktu. Sebagian pemain Teater Gemati telah bekerja dan berkeluarga, sehingga latihan hanya dapat dilakukan satu kali dalam seminggu. Meski demikian, semangat kolaboratif tetap terjaga hingga hari pementasan.
Naskah “Soliloquium de Tempore” karya Kartikawati dan disutradarai A. Sofyan Hadi mengisahkan tentang cinta, penantian, serta konflik yang terjadi dalam satu ruang dan waktu. Cerita dibalut komedi, satire, dan kritik sosial yang relevan dengan kondisi saat ini. Salah satu kutipan yang menguatkan nuansa reflektif pertunjukan berbunyi, “Kereta ini bisa membawa pulang? Saya tidak punya tujuan, tersesat. Rumah yang saya maksud bukan bangunan, tapi tempat bersandar.”
Antusias penonton memadati ruang pertunjukan. Mereka tertawa dan ikut berinteraksi dengan pemain. Penonton yang hadir tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja, ada juga rombongan keluarga yang mengajak anak mereka untuk menonton pertunjukan ini.
Kastem, salah satu penonton yang berasal dari Teater SS UNNES. Menceritakan pengalamannya setelah menonton pertunjukan tersebut.
“Mungkin pas monolog di akhir itu ya, itu kayak bener-bener feel-nya dapat sih. Kerasa banget sedihnya di situ. dan harapannya semoga lebih sukses lagi dan tambah berkembang terus, anggotanya sehat selalu,” ungkap Kastem.
Melalui kolaborasi ini, Teater Gema dan Teater Gemati menunjukkan bahwa hubungan antar generasi tidak berhenti setelah kelulusan. Panggung menjadi ruang pertemuan kembali, sekaligus bukti bahwa proses kreatif dalam komunitas teater dapat terus berlanjut lintas waktu dan generasi.
Penulis : Herlia Zahara
Reporter : Kurniawati Ditya
Editor : Syasi Julia