Malam turun, tapi kota belum kehilangan kemerlapnya. Riuh yang berlapis, bising yang bergetar di dada, dan keceriaan yang memantul di setiap sudut cahaya. Lampu-lampu menyala seperti mentari, sementara tawa, panggilan pedagang, dan derap langkah kaki bersahut-sahutan membentuk irama yang teratur sekaligus tergesa, seperti kota yang enggan memperlambat nafasnya.
Langkah-langkah terhenti di sebuah simpang, seolah waktu pun ikut menahan napas. Deru mesin meraung lirih dalam barisan panjang yang tak sabar. Sahutan klakson tak berhenti bergema. Lampu kendaraan berkedip seperti kunang-kunang kota yang kelelahan. Parkiran berpencar jauh, sementara udara terasa sesak. Bukan semata karena asap knalpot, melainkan desakan manusia yang menuju pusat cahaya di alun-alun pelataran Masjid Agung Semarang.
Di tengah keramaian itu, malam bukan sekadar gelap yang menyelimuti, melainkan pesta yang menghidupkan kota. Tempat suara-suara bertemu, harapan berbaur, dan kegembiraan menemukan bentuknya di jantung Semarang yang berdenyut.
Di balik riuh yang memantul di alun-alun itu, semarak Dugderan tidak tumbuh begitu saja. Keramaian yang menghidupkan jantung Semarang tersebut lahir dari persiapan yang disusun hari demi hari, jauh sebelum lampu-lampu dinyalakan dan panggung ditegakkan. Ketua Yayasan, H. Khoirul Ikhsan, S.T., M.M., menjelaskan bahwa Dugderan 2026 digelar pada 7 hingga 16 Februari 2026, dengan masa persiapan sekitar dua minggu yang melibatkan berbagai unsur kedinasan. Dinas Perdagangan Kota Semarang menangani sektor UMKM, sementara prosesi adat dikoordinasikan oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang.
Ia menegaskan, tujuan utama Dugderan tetap sama dari tahun ke tahun: menyambut datangnya Ramadan. Simbol “duk” dan “der” bukan sekadar bunyi, melainkan penanda tradisi Kota Semarang dalam mengawali bulan suci Ramadhan.
Prosesi puncak digelar pada 16 Februari. Rombongan bergerak dari Balai Kota Semarang pukul 12.30, memulai rangkaian adat sebelum melangkah menuju Masjid Agung Semarang, titik yang menjadi jantung seremoni.
Di masjid itulah para ulama bermusyawarah menentukan halakah sebagai simbol penetapan awal Ramadan. Hasil musyawarah itu kemudian diserahkan kembali kepada umarok untuk diumumkan secara resmi oleh Wali Kota Semarang. Pada momen itulah, tradisi, agama, dan pemerintahan bertemu dalam satu simpul yang telah mengakar puluhan tahun di kota ini.
Tahun ini, skala perayaan terasa berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika tahun lalu pembukaan berlangsung lebih sederhana, kali ini rangkaian acara dibuat lebih besar dan lebih terstruktur. Momentum yang bertepatan dengan hari libur turut mendongkrak jumlah pengunjung, membuat arus manusia memadati kawasan sejak siang hingga larut malam.
Namun, di balik kemeriahan yang membesar itu, tidak semua berjalan dengan lancar. Akses masuk menjadi persoalan utama. Kantong parkir di sekitar kawasan dinilai belum memadai.
“Kalau tidak ada penataan atau tambahan kantong parkir, ya seperti ini. Mau masuk ke alun-alun sudah tidak bisa, akhirnya parkirnya di luar,” ujar Khoirul Ikhsan.
Pernyataan itu bukan sekadar catatan teknis. Saya merasakannya sendiri. Perjalanan menuju pelataran masjid seperti ujian kesabaran sebelum memasuki pesta. Macet panjang mengular, kendaraan berjalan tersendat, dan langkah kaki semakin berat di tengah arus manusia yang tak putus. Napas terasa sesak, bukan hanya oleh asap dan debu, tetapi oleh kepadatan yang memaksa tubuh berdesakan dengan waktu.
Saya berhenti sejenak di tepi trotoar, membiarkan arus manusia lewat seperti gelombang yang tak pernah surut. Anak-anak menggenggam balon berbentuk naga, remaja tertawa sambil menenteng minuman, orang tua berjalan pelan menjaga jarak agar tak terpisah dari rombongan. Di tengah himpitan itu, saya merasa kecil sekaligus menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari diri sendiri, tradisi yang hidup karena orang-orang memilih untuk hadir.
Meski demikian, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Dugderan menjadi hiburan terbuka bagi publik tanpa tiket masuk. Siapa pun boleh datang tanpa membayar, meski wahana dan permainan tetap berbayar. Sebuah konsep pesta rakyat yang inklusif sekaligus menggerakkan ekonomi.
Begitu memasuki jantung keramaian, aroma makanan menyergap lebih dulu. Lontong petis, lontong sayur, jajanan coro dengan santan dan cokelat, hingga wedang jahe dan bir peletok tersaji berdampingan. Asap tipis dari tungku-tungku kecil berbaur dengan cahaya lampu warna-warni. Di antara gemerlap modernitas, mainan kapal otok-otok dan gerabah masih bertahan, seolah menolak punah oleh zaman.
Tak jauh dari deret kuliner, wahana permainan berputar tanpa henti. Saya sempat menaiki kora-kora yang menjulang tinggi, mengayun cepat membelah udara malam. Saat perahu besi itu melambung, lampu-lampu kota terlihat seperti ratusan bintang yang bergetar. Di bangku panjang yang sama, reaksi manusia beragam; ada yang menggenggam erat besi pengaman dengan wajah pucat, ada yang pura-pura berani sambil menahan teriakan, ada yang diam menikmati denyut jantung yang berdegup lebih cepat dari biasanya. Ketika ayunan mencapai titik tertinggi, jeritan histeris pecah bersamaan, seolah ketakutan dan kegembiraan tak lagi bisa dibedakan.
Turun dari wahana itu, kaki terasa ringan sekaligus gemetar. Saya menyadari, Dugderan bukan hanya tentang menyambut Ramadan atau menggerakkan ekonomi. Ia juga tentang adrenalin, tentang tawa yang lepas tanpa beban, tentang manusia yang sebentar saja lupa pada rutinitasnya dan membiarkan dirinya terayun bersama malam.
Di antara deret stan itu, Ibu Ani dari Mijen berdiri di balik meja jajanan pasarnya. Sudah dua tahun ia mengikuti Dugderan.
“Ya selain ini acara tahunan, saya ingin menggunakan kesempatan ini ya, kesempatan untuk mencari rezeki. Juga karena memang penghasilan saya itu juga dari sini, dari jualan ini,” tuturnya.
Ia datang sejak awal penyelenggaraan. Pada akhir pekan, bahkan sejak siang, lapaknya sudah siap menyambut pembeli. Menurutnya, omzet di Dugderan lebih tinggi dibanding hari biasa, terutama saat Sabtu dan Minggu.
Namun ia juga melihat perubahan. “Kayaknya sekarang ini sudah mulai hilang ya,” tanggapannya terhadap makanan khas Dugderan, yaitu Roti Ganjel Rel yang sudah jarang terlihat.
Dari sisi pengunjung, pengalaman Dugderan terasa beragam. Seorang pemuda asal Semarang yang baru pertama kali datang mengetahui informasi acara ini dari media sosial. “Lumayan bagus, cuma agak mendesak, sesak,” ucap Haikal, salah satu pengunjung.
Aura, mahasiswa 19 tahun asal Ngaliyan, datang karena video Dugderan terus muncul di linimasanya. “Rame banget, tapi asik,” katanya. Ia menilai jajanan yang dibelinya masih sepadan dengan harga,“Worth it.”
Ketika malam semakin larut dan langkah mulai terasa berat, saya menoleh sekali lagi ke arah pelataran Masjid Agung Semarang. Lampu-lampu masih menyala, suara tawa belum surut. Di sana, saya melihat bukan sekadar keramaian, melainkan pertemuan antara masa lalu dan masa kini, antara simbol “duk” dan “der” yang diwariskan turun-temurun, dengan generasi muda yang mengenalnya lewat media sosial.
Dugderan bukan hanya perayaan menjelang Ramadan. Ia adalah denyut kolektif sebuah kota. Di alun-alun yang sama, doa dipanjatkan, rezeki dicari, tawa dilepaskan, dan kenangan diciptakan. Semarang tidak sekadar menyambut bulan suci, ia merayakan dengan hiruk-pikuknya, lalu menyimpan dalam ingatan warganya sebagai cerita yang berakar hingga abadi dalam ingatan.
Penulis : Mutiara Dewi Aisyah
Reporter: Latifa Syafitri
Editor : Syasi Julia
