

Selasa (18/2/2025), di depan kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Jawa Tengah tengah berlangsung demonstrasi yang dilakukan oleh Aliansi Semarang Menggugat. Aksi dengan tema “ Negara Sekarat, Prabowo Gibran Mencekik Rakyat” tersebut berlangsung ramai. Diikuti oleh beberapa massa aksi yang terdiri atas elemen masyarakat sipil dan beberapa lembaga universitas. Dilatar belakangi oleh keresahan serta permasalahan yang ada pada akhir-akhir ini membuat masyarakat geram akan kebijakan yang dikeluarkan oleh rezim Prabowo Gibran.
“Kita organik berdasarkan keluhan dan aspirasi makanya kami memakai Tajuk Aliansi Semarang Menggugat bukan BEM SI yang mana mereka menggunakan Tajuk Indonesia Gelap” ujar Muhammad Rafi selaku Koordinator Lapangan UNDIP.
Tak lama setelah pelantikan pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI ke-8 tersebut sudah muncul beberapa tindakan dan kebijakan yang dianggap menyusahkan rakyat. Keresahan timbul di lapisan masyarakat dan membuat rakyat mempertanyakan kebijakan tersebut. Segenap mahasiswa turut resah dengan adanya kebijakan pemerintah dan beberapa mahasiswa dari berbagai universitas turut menyuarakan keresahannya.
“Ada dari UNDIP, UPGRIS, UNTAG, UNIMUS, UNDIP, UNNES,POLINES, dari organisasi ekstra seperti HMI, GMNI, PMII, PMKRI, GMKI pun juga terlibat” imbuhnya.
Sebelumnya, Minggu (16/2/2025) dari berbagai lembaga yang terlibat sudah melakukan konsolidasi untuk menyampaikan poin tuntutan yang akan disuarakan pada saat aksi. Setelahnya, konsolidasi internal dilakukan oleh BEM UPGRIS dengan mahasiswa UPGRIS yang dilaksanakan di Aula PKM pada Senin, 17 Februari 2025. Keterlibatan Mahasiswa UPGRIS dalam menyampaikan poin tuntutan terkait efisiensi anggaran sektor pendidikan.
“Karena kita kampusnya adalah kampus pendidikan dan beberapa isu telah disampaikan lembaga lain dalam poin tuntutan jadi kami berfokus pada efisiensi anggaran pada sektor pendidikan yang dimana ini juga berakibat terancamnya siswa, mahasiswa yang tidak dapat melanjutnya pendidikan”. Ujar William selaku Kementrian Luar Negeri BEM UPGRIS.
Tuntutan disampaikan oleh Aliansi Semarang Menggugat yang dianggap sebagai dalang keresahan dan permasalahan yang ditimbulkan. Adapun poin tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut yaitu :
1. Tuntut segera sahkan RUU Masyarakat Adat.
2. Tuntut segera sahkan RUU Perampasan Aset.
3. Melakukan revisi pada UU kementerian negara untuk menghentikan kegemukan pada kabinet merah putih.
4. Menuntut percepatan reshuffle menteri yang bermasalah maksimal enam bulan.
5. Tolak tegas konsesi tambang bagi Perguruan Tinggi.
6. Tolak bentuk militerisasi dalam ranah sipil.
7. Menagih janji pemerintah dalam menekan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
8. Menolak Represifitas Aparat Penegak Hukum.
9. Menegakkan etika penyelenggara negara.
10. Memprioritaskan prioritas utama terkhusus pendidikan dan kesehatan.
11. Usut tuntas proyek Ibu Kota Nasional.
12. Evaluasi secara penuh proyek Strategis Nasional.
Aksi demonstrasi ditutup dengan senja di atas langit kantor Gubernur dan DPRD Jateng, dengan berkumandangnya adzan maghrib.
Simbolik “Tai” dalam Seruan Aksi Semarang Menggugat
Aksi berlangsung ramai dengan massa aksi dari berbagai universitas turut ikut bersuara. Di tengah-tengah aksi terdapat pelemparan Pai Sapi biasa disebut kotoran sapi atau orang menyebutnya Tai. Pelemparan kotoran tersebut merupakan aksi simbolik yang mencerminkan kemarahan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan dan tindakan pemerintah.
“Kebijakan yang dibuat Pemerintah Prabowo Gibran adalah kebijakan-kebijakan tai yang di mana aku rasa sangat jelas tidak mewakilkan dan berefek buruk terhadap masyarakat luas” ujar korlap aksi tersebut.
Tengah menjadi perbincangan terkait isu RUU masyarakat adat, RUU perampasan aset, beredarnya berita pelantikan Staff khusus di kementrian, kebijakan gas melon, pendidikan dan kesehatan tidak ditempatkan pada skala prioritas, jatah kelola tambang bagi Perguruan Tinggi, dan masih banyak isu lainnya. Tindakan dan kebijakan yang dilakukan membuat masyarakat resah akan keadaan negara ini kedepannya. Hal ini melatar belakangi simbolik Pelemparan kotoran sapi sebagai bentuk mengkritisi terhadap perlakuan tidak adil kepada rakyat indonesia. Aksi tersebut menunjukkan betapa simbolik pelemparan kotoran menjadi alat ekspresi untuk memperlihatkan kemarahan dan keresahan masyarakat terhadap situasi yang mereka alami.
penulis: Ardi Seila
Editor: Sabrina Gita Salsabella