Pesta Awal Tahun: Banjir Pantura Sayung-Demak Menghambat Aktivitas Warga

Semarang kembali mengalami krisis ekologi. Sepanjang jalan Sayung hingga Demak mengalami kelumpuhan akses jalan akibat banjir. Pada Jumat (07/02/205) banjir mencapai 70 cm per pukul 06.50 WIB. Hal tersebut berimbas pada aktivitas warga yang tinggal di daerah terdampak.

Selama Desember hingga februari, semarang diguyur hujan deras dan menyisakan Rob. Kenaikan air Rob dimulai pada Senin (3/02/2025) dengan ketinggian mencapai betis manusia dewasa. Sampai kemarin Kamis (06/02/2024) banjir mengalami kenaikan dari 32 cm menjadi 50 cm.

“Semua daerah Genuk untuk Unissula dan RSI di dalamnya aman kering karena sudah ditinggikan namun akses jalanya yang lumpuh. Satu daerah Perum Genuk juga terendam banjir sampai ke Genuk Sari pokoe satu kecamatan terendam,” pengakuan Eva mahaiswi Semarang berdomisili di Genuk.

Dampak banjir menjadikan warga kesulitan untuk mencari makanan, meraskaan pemadaman listrik, dan melihat pemandangan kemacetan yang panjang.

“Dampaknya kekurangan bahan makanan, terus akses keluarnya susah. Listrik terkadang di padamkan karena bisa mencelakai orang kalau ada aliran listrik yang bocor karena dulu ada tiga kalau nggak salah korban meninggal karena kebocoran listrik di air” tambah Eva.

Banjir memperburuk aktivitas industrial hingga domestik warga. Warga terpaksa memutar otak mencari cara untuk tetap bertahan.

“Karena kerjaku di Kaligawe ya, pastinyaa susah buat aksess berangkat kerja. Orang-orang yang kerjanya disekitar situ motornya dititipin SPBU trus mereka jalan sampe kantor,” kata Aldila salah satu pekerja di Kaligawe.

“Imbasnya itu pada aktivitas nya yang kurang berjalan baik kak, dan warga harus jalan kaki sekitar satu kilo untuk berangkat kerja setiap pagi soalnya motornya dititipin dan ngga bisa lewat kak, trus kalo kegiatan di rumah juga rada sulit gitu kak seperti masak mandi” kata Charis warga Sayung.

Kerugian material dan kesehatan menjadi imbas dari banjir yang terjadi,

“Motor mogok ketika berangkat dan pulang, terlambat masuk, ⁠potong gaji, lebih capek karena harus dorong motor, dan perlu biaya tambahan buat servis. Sakit di kaki gatel -gatel” keluh Heri warga Sayung.

Setiap hari air naik dan turun tanpa aba-aba. Sebagai warga asli daerah Sayung- Demak sudah terbiasa dan selalu siap. Sampai kini warga masih menunggu bantuan dari pemerintah.

“Sudah biasa. Siap gak siap ya kita harus selalu siap. Selama tiga bulan ini juga belum ada bantuan dari pemerintah sama sekali” tambah Heri.

 

Penulis: Sabrina Gita Salsabela
Editor: Ika Nugrahaning Saputri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *