DISKO PANTURA X SEMARANG BOOK PARTY: Membangun Kesadaran Literasi dan Bertukar Pikiran untuk Menuju Perubahan

Sabtu, 28 Februari 2026, Kolektif Disko Pantura bersama Semarang Book Party dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan dan Penerbitan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) menggelar kegiatan Diskusi Kotor (Disko) ke-lima dengan tema “Bantuan Penyelenggaraan Jaminan Sosial: Membaca Ulang Realitas Jaminan Kesehatan”.

Kegiatan ini berlangsung dari pukul 14.00-17.15 WIB di Lantai 1 Gedung UPT Perpustakaan dan Penerbitan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus). Sebelum kegiatan dimulai peserta yang datang diperbolehkan membaca buku yang sudah tersedia atau berkenalan, berbincang dan bertukar pengalaman dengan peserta lain untuk mengisi waktu luang sampai kegiatan dimulai. Para peserta berasal dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum yang bersedia untuk bertukar pikiran. Hal itu selaras dengan tujuan berdirinya Disko Pantura yaitu untuk menghidupkan kembali ruang-ruang dialektika yang saat ini sudah mulai terkikis,

“Disko ini merupakan sebuah wadah untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasi, menjadi salah satu wadah supaya kita tidak memendam sebuah gagasan dan bisa mengutarakan isi dari gagasan kita,” ujar Abil, salah satu perwakilan dari Disko Pantura.

Melalui forum ini, penyelenggara membebaskan peserta untuk beropini. Semua gagasan objektif maupun subjektif dapat diterima dengan baik. Dengan harapan semuanya dapat melebur dan dapat mengungkapkan gagasan masing-masing.

“Kita mengambil isu-isu yang terdekat dengan kita atau mungkin kita alami sendiri seperti pada Disko kelima yaitu BPJS, karena kita juga merasakan semua. Jaminan sosial yang diberikann oleh pemeritah untuk semua kalangan masyarakat, jadi semua orang punya opini dan tidak perlu yang berdasarkan riset. Pada Disko kali ini aku harap semua itu melebur dan mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan,” tambah Abil.

Hal serupa juga disampaikan oleh Madzhap, selaku peserta diskusi. Ia berpendapat dengan adanya topik ini dapat memberikan kesadaran sosial. Karena semua masyarakat pasti mengetahui tentang BPJS.

“Soalnya topiknya dekat ya sama kita, semua orang itu pasti punya BPJS,” ujarnya.

Skema Diskusi dibagi menjadi beberapa sesi. Diawali dengan pembacaan aturan yang sudah disepakati, kemudian dilanjutkan dengan diskusi premis pertama dimana dalam diskusi ada pihak pro, kontra dan netral sesuai dengan apa yang mereka yakini. Lalu mereka menyampaikan alasan dari salah satu dari ketiga fraksi yang dipilih, dan itu berlangsung selama empat sesi. Setelah kegiatan diskusi selesai acara ditutup dengan buka puasa bersama dan sesi dokumentasi.

Menurut Madzhab, melalui dialog terbuka dari peserta yang berbeda latar belakang, ia dapat melihat sudut pandang baru mengenai isu BPJS dan berbagai persoalan lainnya. Ia juga berharap Disko dapat lebih sering mengadakan ruang diskusi dengan topik-topik yang dekat dengan masyarkat.

“Semoga lebih banyak lagi audiensnya, dan topik-topiknya itu lebih dekat lagi sama kita masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Andika Wisnu Pratama

Reporter: Muzammil Azmi

Editor: Syasi Julia

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *