
Dulu, terdapat satu lagu yang sering diputar pada momen Idulfitri dan telah menjadi bagian dari tradisi musikal masyarakat Indonesia. Lagu berjudul “Hari Lebaran” merupakan salah satu karya legendaris dari komponis Indonesia, Ismail Marzuki. Pada tahun 1950-an, ia menggubah lagu Hari Lebaran usai menurut permintaan Mas Yos, salah seorang seniman dan pemilik perusahaan rekaman lagu di Jakarta. Melalui melodi yang sederhana namun hangat, lagu ini menyampaikan pesan kebahagiaan, kebersamaan, serta permohonan maaf setelah menjalani ibadah Ramadhan.
Ismail Marzuki dikenal sebagai komponis yang sering menyisipkan pesan sosial dalam karya-karyanya. Pada masa setelah Indonesia merdeka, negara-negara ini memiliki bayi yang tengah bersiap dan berusaha berdiri di atas kondisi ekonomi dan sosial. Banyak rakyat yang hidup dalam keterbatasan, sementara harapan terhadap pemerintahan yang baru terbentuk masih sangat besar. Dalam konteks ini, lagu Hari Lebaran dapat dimaknai sebagai refleksi terhadap realitas tersebut.
Mengulik lebih jauh makna lirik lagu “Hari Lebaran”
“Setelah berpuasa satu bulan lamanya
Berzakat fitrah menurut perintah agama
Kini kita beridul fitri berbahagia
Mari kita berlebaran bersuka gembira
Berjabat tangan sambil bermaaf-maafan
Hilangnya balas dendam habis marah di hari lebaran”
Penggalan lirik tersebut menggambarkan perjalanan manusia setelah menjalani puasa selama sebulan penuh. Tak hanya menahan lapar dan dahaga belaka, tetapi juga membersihkan diri. Perintah zakat sebagai bentuk kepedulian kepada sesama, hingga mencapai hari kemenangan yang dirayakan dengan kebahagiaan dan kebersamaan. Kemenangan ini menjadi wujud kembalinya manusia pada kesucian dan keharmonisan dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama.
“Minal aidin wal faizin
Maafkan lahir dan batin
Selamat para pemimpin
Rakyatnya makmur terjamin”
Lirik ini tampak seperti ucapan Idul Fitri yang hangat tentang saling memaafkan, namun diam-diam menyelipkan sindiran halus. Ibaratnya mengucapkan selamat kepada para pemimpin sambil mengingatkan bahwa rakyatnya makmur terjamin. Sebuah kalimat yang terdengar indah, namun justru terasa seperti pertanyaan besar “benarkah demikian? atau hanya sekedar harapan yang terus terulang setiap tahun?”
“Dari segala penjuru mengalir ke kota
Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik trem listrik perey
Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore
Akibatnya tengteng selop sepatu terompe
Kakinya pada lecet babak belur berabe”
Situasi yang digambarkan dalam lirik tersebut adalah masifnya arus rakyat desa yang berbondong-bondong ke kota saat hari raya dengan pakaian terbaik mereka. Namun, di balik keindahan itu terselip ironi, perjalanan yang melelahkan, bahkan sampai berjalan kaki imbas ketimpangan transmisi seolah-olah merayakan kebahagiaan yang dipaksakan di tengah keterbatasan. Kemeriahan yang terlihat justru menyiratkan gambaran dan kerasnya realita hidup yang tetap mereka jalani.
“Maafkan lahir dan batin
lang tahun hidup prihatin
Cari wang jangan bingungin
lan Syawal kita ngawinin”
Lelucon tersirat tampak menggema dalam penggalan lirik tersebut. Kendati momen saling memaafkan, muncul sebuah pernyataan tentang hidup prihatin, sulit mencari pekerjaan, hingga tuntutan pernikahan di bulan Syawal menjadi teror setiap tahun. Ini menunjukkan bahwa di balik suasana Lebaran yang sakral, realitas ekonomi tetap menekan, dan kebahagiaan sering kali harus dinegosiasikan dengan kondisi hidup yang serba pas-pasan.
“Cara orang kota berlebaran lain lagi
Kesempatan ini dipakai untuk berjudi
Sehari malam main ceki minum brandi
Pulang sempoyongan kalah main pukul istri
Akibatnya sang ketupat melayang ke mate
Si penjudi mateng biru dirangsang si istri”
Lirik ini menampilkan potret sarkas tentang kehidupan kota saat Lebaran, yang seharusnya penuh nilai sakral namun justru diisi dengan berjudi, mabuk, dan kekerasan. Pesta yang seharusnya suci berubah menjadi ironi sosial, karena moral seolah-olah runtuh di balik kemeriahan yang tampak. Pada akhirnya, kebahagiaan digantikan oleh pengungsi pada saat yang berakhir pada konflik dan penderitaan.
“Maafkan lahir dan batin
lang taon hidup prihatin
Kondangan boleh kurangin
Korupsi jangan kerjain.”
Penutup lagunya mengisyaratkan bahwa memadukan suasana saling memaafkan dengan kenyataan hidup yang masih memprihatinkan, lalu menyisipkan sindiran tajam tentang gaya hidup dan moral. Ajakan mengurangi kondangan terasa seperti kritik pada kebiasaan seremonial yang berlebihan di tengah keterbatasan ekonomi. Puncaknya, larangan korupsi menjadi pemikiran langsung, seolah mengingatkan bahwa jangan ada penyelewengan dalam setiap keterbatasan.
Lagu “Hari Lebaran” bukan sekedar lagu perayaan, namun juga tersimpan kritik halus terhadap realitas kehidupan masyarakat. Ismail Marzuki mengajak pendengarnya untuk tidak sekedar merayakan, tetapi juga membayangkan bahwa perayaan Idul Fitri menjadi momentum refleksi diri dan membangun hubungan antarmanusia guna terciptanya kehidupan yang adil dan menguntungkan.
Penulis:Andika
Editor: Dhea