
Tirto Adhi Soerjo lahir sebagai Raden Mas Djokomono di Cepu, Blora, Jawa Tengah pada tahun 1880. Beliau adalah seorang tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia, dikenal juga sebagai perintis persuratkabaran dan kewartawanan nasional Indonesia. Tirto membangun sebuah surat kabar bernama Medan Prijaji dengan modal sendiri.
Sarekat Priyayi
Alasan Tirto Adhi Soerjo mendirikan Medan Prijaji bukan hanya sebagai media informasi, tetapi sebagai alat perjuangan untuk membela hak rakyat pribumi, melawan ketidakadilan kolonial, dan membangun kesadaran nasionalisme. Surat kabar ini menjadi tidak penting dalam sejarah pers Indonesia dan pergerakan nasional, yang akhirnya berkontribusi pada lahirnya gerakan kemerdekaan Indonesia.
Medan Prijaji menjadi surat kabar nasional pertama di Indonesia. Surat kabar tersebut menggunakan bahasa Melayu dalam tulisannya. Selain itu, seluruh pekerja mulai dari pengasuh, percetakan, penerbitan dan wartawan adalah pribumi. Tirto menjadi orang pertama yang menggunakan surat kabar sebagai alat propaganda dan pembentukan pendapat umum.
Bergabungnya Tirto Dengan Budi Utomo
Kondisi Sarekat Prijaji yang semakin meredup membuat Tirto akhirnya bergabung dengan Budi Utomo sebagai anggota cabang Bandung. Tirto pernah memuat tentang Budi Utomo di Medan Prijaji. Pada saat penyelenggaraan rapat besar Budi Utomo pada tanggal 17 Januari 1909, Tirto menyampaikan pendapatnya bahwa Budi Utomo perlu merangkul para pedagang pribumi sebagai anggota Budi Utomo. Selain itu, Tirto juga menekankan agar Budi Utomo fokus mengajar anak-anak negeri serta mengharapkan Budi Utomo menjadi perhimpunan yang tangguh secara perlahan.
Hubungan Tirto dengan Budi Utomo tidak selamanya berjalan baik. Keretakan hubungan ini dimulai setelah kepulangan Tirto dari Lampung pada tanggal 2 Mei 1910. Pada hari itu, Tirto melayangkan protes kepada Budi Utomo melalui Medan Prijaji. Di dalam surat kabar itu, Tirto menuduh bahwa Budi Utomo memboikot surat kabarnya karena rasa cemburu terhadap kesuksesan surat kabarnya yang dibuktikan dengan tidak pernahnya Budi Utomo mengirimkan laporan ke surat kabarnya.
Perselisihan ini bermula saat Budi Utomo berencana menunjuk Ernest Douwes Dekker sebagai editor majalah milik Budi Utomo yang saat itu dekat dengan pengurus Budi Utomo. Tirto berpendapat bahwa seharusnya surat kabar harus dipimpin oleh orang dalam karena sejak awal Budi Utomo didirikan untuk menonjolkan semangat kejawaan. Hal ini juga berkaitan dengan perasaan Tirto yang bosan dengan keadaan bahwa kaum pribumi dianggap lebih rendah dibandingkan dengan bangsa Belanda, Tionghoa dan Arab yang menempatkan Hindia Belanda sesuai Undang-Undang Kolonial, padahal banyak kaum pribumi yang mempunyai kecakapan hanya untuk memimpin sebuah surat kabar.
Perjuangan Tirto selesai pada tanggal 7 Desember 1918 di Batavia. Beliau wafat karena mengidap depresi. Pada tahun 1973, pemerintah mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional. Pada tanggal 3 November 2006, Tirto mendapat gelar sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres RI no 85/TK/2006.
Prinsip dan perlakuan Tirto, sangat melukiskan jiwa nasionalis pada bangsa ini. Sebagai cucu dari tokoh Pers Nasional, kita perlu mengemban prinsip beliau dalam memberitakan informasi. Sehingga tujuan utama Pers adalah untuk menyuarakan dan membela hak-hak rakyat.
Penulis: Muhammad Rafisyach Amallul Sholich /Ni’matus Shofiyah
Editor : Sabrina Gita Salsabella