

Sabtu, 31 Januari 2026, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Vokal menggelar kegiatan bedah buku #ResetIndonesia bersama Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah, dan Aksi Kamisan Semarang. Bertempat di Aula Gedung B Universitas PGRI Semarang, kegiatan ini diselenggarakan secara memikat dan terbuka untuk umum.
Kegiatan dimulai pada pukul 16.00 WIB dimeriahkan oleh penampilan teatrikal Meramu yang diperankan oleh kawan-kawan Semarang. Lalu di sela diskusi buku, disuguhkan penampilan dari Band Beruga yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif.
Buku #ResetIndonesia merupakan sebuah karya yang mengulas gagasan tentang Indonesia baru. Buku ini ditulis oleh Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Bernaya Harobu dengan tujuan mengajak pembaca meninjau ulang arah pembangunan dan tata kelola negara. #ResetIndonesia lahir dari kesaksian empat generasi jurnalis yang terlibat dalam tiga ekspedisi keliling Indonesia, yang merekam langsung realitas sosial, lingkungan, dan politik di berbagai sudut negeri selama 16 tahun perjalanan ekspedisi, dari 2009 hingga 2025. Tiga ekspedisi tersebut meliputi Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa (2009-2010) yang menyoroti persoalan maritim dan pulau-pulau kecil, Ekspedisi Indonesia Biru (2015) yang merekam isu lingkungan, pendidikan dan konflik sosial, serta Ekspedisi Indonesia Baru yang berlangsung selama 424 hari (selesai Agustus 2023). Melalui perjalanan tersebut, para penulis menemukan berbagai persoalan struktural di hampir seluruh sektor, mulai dari pertanian, kelautan, hutan, hingga tata kelola negara dan sistem politik.
Dari situlah muncul keyakinan bahwa di setiap sudut negeri masih hidup mimpi-mimpi tentang keadilan, kesejahteraan, dan masa depan yang lebih baik. Buku ini hadir bukan hanya sebagai upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar yang kerap diabaikan, tetapi justru menjadi kunci untuk membongkar persoalan yang lebih kompleks. Pertanyaan-pertanyaan seperti, mengapa air keran di Indonesia tidak dapat langsung diminum? Dari mana seharusnya problem Indonesia yang ruwet dapat diurai? Apa akar persoalan yang sebenarnya? Adakah solusi yang dapat ditawarkan? Dan jika ada, mulai dari mana membenahinya?
Farid Gaban, salah satu penulis buku #ResetIndonesia sekaligus pembicara pada kegiatan ini, menceritakan bagaimana kondisi Indonesia yang penuh dengan segudang masalah. Mulai dari ketimpangan ekonomi, kesenjangan sosial, pencemaran lingkungan, hukum, pendidikan, dan tata kelola negara yang sakit. Melalui ceritanya tentang ‘kerusakan pemerintahan di indonesia’, Farid Gaban berhasil memantik emosi dan pemikiran para peserta sore itu.
Ia menegaskan bahwa kerusakan hari ini sudah sampai ke akar, maka perbaikan harus di mulai dari akar. Farid Gaban juga menekankan bahwa buku #ResetIndonesia tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang dan penuh tantangan. Buku tersebut merupakan hasil akumulasi refleksi dan perjuangan yang berawal dari Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Ekspedisi Indonesia Biru, hingga Ekspedisi Indonesia Baru.
Melalui tulisannya Farid Gaban memaparkan tujuh pilar gagasan inti untuk #ResetIndonesia, yakni setiap orang berhak punya tanah (reforma agraria), memulihkan keragaman hayati (basis biodiversitas), mengembalikan gerakan koperasi sebagai pusat gerakan ekonomi politik rakyat (kembali ke koperasi), jaminan hidup untuk semua (jaminan sosial), reformasi pendidikan, desentralisasi dan federasi dan reformasi sistem politik dan kepartaian.
#ResetIndonesia hadir bukan sebagai buku yang semata-mata menghakimi atau mengklaim bahwa Indonesia harus mengulang peradabannya secara serampangan. Dengan terbitnya buku #ResetIndonesia, diharapkan dapat membuka cara melihat berbagai kalangan tentang kondisi Indonesia hari ini, sekaligus mengajak pembaca merefleksikan urgensi untuk melakukan “reset” sebagai langkah awal membenahi sistem yang telah lama rapuh. Maka dari itu, buku ini layak untuk dibaca dan didiskusikan.
Penulis: Azmi Muzammil
Editor: Syasi Julia