Semarak 36 Tahun Teater Gema : Kekeluargaan adalah Benteng Terakhir Kehidupan

Sabtu (31/01/2026), Teater Gema Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang merayakan Hari Lahir ke-36 dengan tema “Kekeluargaan adalah Benteng Kehidupan Terakhir.” Melalui tema ini Teater Gema ingin mewujudkan tentang rasa kekeluargaan yang lebih kuat meskipun sudah diusia 36 tahun. Pesta kali ini dikemas dengan konsep mengenang sejarah 36 tahun lalu. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini Teater Gema ingin mengajak untuk mengingat kembali proses dan perjungan yang pernah diukir.

“Jadi kita terkadang lupa kalau banyak sejarah terukir indah yang perlu kita kenang, dalam Teater Gema yang ke-36 ini kita mencoba membedakan itu kita mencoba untuk lebih mengingat lagi sejarah itu, dan dulu tekadnya itu seperti apa sampai pada 36 ini masih berjalan sepertinya” jelas Sendy selaku ketua Teater Gema.

Acara ini tidak hanya dihadiri kalangan pelajar internal saja namun pelajar dari luar daerah semarang seperti Tegal, Jepara, Salatiga bahkan sejumlah turis juga ikut hadir menyaksikan penampilan mereka.

Rangkaian acara pada perayaan kali ini dimulai dengan pemotongan tumpeng sebagai simbolis pembuka tahun ke 36, kemudian penampilan pentas lakon yang bertajuk “Ana Sing Orang Ana”. Lakon ini diperankan dan disutradarai oleh anak-anak Teater Gema, sebagai sebuah studi pentas bagi anak-anak Teater Gema yang baru dilantik. Pesan dari lakon tersebut adalah melatih diri untuk sabar dan ikhlas, mengikhlaskan yang datang dan pergi. Selain pentas lakon, juga ada kolaborasi dengan Band Indra Soekma.

Marisa mahasiswi UIN Malang, mengungkpakan kesannya pada perayaan kali ini ”Teater gema ini sangat menginspirasi sekali, bagus dan kedepannya semoga tambah baik” jelasnya.

Harapan juga disampaikan langsung oleh Julia mahasiswi pendidikan matematika ”Harapannya tetap menciptakan karya yang lebih bagus lagi, terus sering-sering aja sih ngadain yang gratis-gratis gini biar banyak yang nonton” ucapnya.

Ketua Teater Gema, Sendy, berpesan untuk tetap berkarya di antara banyaknya bentuk keresahan keuangan berekspresi yang kini mulai banyak terjadi.

“Kita masih belum ada halangan untuk terus berkarya. Apapun itu, berkarya tidak harus dengan konsep yang sama. Benteng itu adalah tameng atau kekuatan di situ dimana kita harus tetap kokoh, harus tetap bersatu ya untuk kebaikan apapun itu yang membuat kita selalu berbuat positif terutama dalam berkesenian” tegasnya.

Walaupun terdapat kendala pada akhir acara, dikarenakan acara harus selesai lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Namun, ikatan kekeluargaan teater gema tetap terjalin melalui runtutan acara yang berlangsung. Kegiatan ditutup dengan bancakan (makan bersama) yang dikuti seluruh pengunjung yang hadir.

 

Penulis: Bunga Nadya

Reporter: Aghni Nastiti Wilujeng

Editor: Dhea S Gayatri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *