
Badan Semi Otonom Sekolah Kolong Langit (BSO SKL) mengadakan pembelajaran kepada anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian di pendidikan. Berlokasi di Posyandu Mekar Melati RW 05, Jalan Tanggungrejo Raya, Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang pada Sabtu (17/05/2025).
Kegiatan ini dilakukan setiap Sabtu pagi. Sekolah Kolong Langit menjadi wadah untuk anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian di Pendidikan. BSO SKL merupakan salah satu badan otonom yang bergerak di bawah naungan Fakultas Pendidikan Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi Informasi (FPMIPATI),
“BSO SKL ini merupakan luaran dari BEM sendiri sehingga semua gerak-gerik dan juga tingkah laku itu diawasi langsung oleh ketua BEM FPMIPATI” ujar Maftuh Fauji Dimyati selaku ketua BSO SKL.
Sekolah Kolong Langit ini diinisiasi oleh mahasiswa 2016/2017 yang bertepatan dengan pendirian Badan Semi Otonom ini pada tahun yang sama,
“Untuk yang menginisiasi sendiri yaitu mahasiswa semester mungkin sudah lulus ya karena beasiswa SD sendiri didirikan tahun 2016 2017,” jawab Maftuh
Peran tentor dalam proses pembelajaran menjadikan salah satu solusi penyampaian yang efektif. Pembentukan kurikulum atau sistem pendidikan yang diterapkan dalam BSO SKL tak luput dari peran tentor.
“Untuk di BSO SKL ini, karena ini cakupannya lumayan besar sehingga tentunya dari BSO SKL sendiri pun apabila mengajar, tidak memungkinkan karena pastinya akan kekurangan tanaga pendidik. Maka dari itu kami mengadakan tentor” ujar Maftuh.
Pembagian bidang yang sebagai bentuk kurikulum diterapkan dalam BSO SKL diantaranya Badan Pengurus Harian (BPH) Tentor, Bidang Sains dan Matematika, Bidang Seni dan Kreativitas, Bidang Sosial dan Agama serta Bidang Bahasa,
“Ada BPH Tentor, Sains dan Matematika, Seni dan Kreativitas, Sosial dan Agama, dan yang terakhir Bahasa” ujar Indah.
Manfaat BSO SKL juga diterima oleh tentor, sebagaimana BSO SKL menjadi wadah pengembangan kompetensi mengajar.
“Karena saya rasa ini bisa menjadi wadah saya untuk mengembangkan kompetensi saya, terlebih saya dari jurusan Pendidikan” jawab Indah salah satu Tentor SKL.
BSO SKL tak luput dari kendala dan tantangan yang dihadapi dalam segi pelaksanaannya diantara lain komunikasi dan mengurus anak-anak,
“Kendala yang masih kami hadapi itu kesulitan akan komunikasi dengan anak-anak terutama dari anggota yang baru maupun tentor dan juga anggota yang lama karena memahami sikap anak itu lebih sulit” jawab Maftuh.
Tanggapan Bagas Prio Saputro selaku ketua BEM FPMIPATI terkait kendala yang ada di BSO SKL adalah dikembalikan koordinasi internal,
“Dari hal tersebut mengarah ke internal BSO nya, untuk koordinasi dan komunikasi itu bisa baik karena di dalamnya juga ada komunikasi yang baik. Kalau memang masih ada kendala komunikasi dan koordinasi itu jadi kendala ya kembali lagi ke BSO nya sendiri” jawabnya.
Harapan dilontarkan dari Maftuh guna menyadarkan elemen masyarakat guna penanggulangan keterbelakangan Pendidikan.
“Harapan yang lebih besar itu, kami berharap pembelajaran atau pengembangan serta penanggulangan akan keterbelakangan Pendidikan ini dapat terlaksana tidak hanya di Semarang atau di tempat kami beroperasi, tetapi juga di kota-kota atau provinsi-provinsi yang lain” ujarnya.
Penulis: Andika Setya Wardana
Editor: Sabrina Gita
