Berkenalan dengan Lek Moh: Petani Pundenrejo yang Terenggut Ruang Bertaninya

Dulu tidak pernah kehabisan beras, sekarang harus beli mahal ” – Lek Moh

Sambil berlakon dan menggaungkan ‘ Hidup Petani Pundenrejo!!!’ di berbagai tempat, nyatanya Mohammad atau yang sering disapa ‘Lek Moh’ adalah hanya salah satu warga Pundenrejo yang rindu akan kehidupan indah bertaninya. Bagi Lek Moh, bertani bukan hanya menanam padi untuk mendapatkan uang. Lebih dari menanam, menurutnya ‘bertani’ adalah raga dari kehidupan.

“Makna bertani, kalau orang desa ya, rogone itu. Kalau memang orang desa ya tani ya nyawane , kui rogone. Kesatuan, tani juga, terus cekelane ya pacul, karo sarapan cekelane yo pacul langsung nok sawah ,” ucapnya.

Kisahnya dengan dunia pertanian dimulai sejak kecil. Lek Moh lahir dari ayah dan ibu petani. Ayah Lek Moh bertani dari terbit fajar, lalu ibunya menyiapkan makan sambari membantu di sawah bersamanya dan ke-5 kakak Lek Moh. Menjadi anak bungsu yang tumbuh dekat dengan tanah dan tananam, membuat Lek Moh tidak perlu berlatih ekstra untuk menjadi petani. Perkenalannya dengan cangkul dan tanah berasal dari ayah.

Lek Moh Kecil

Laki-laki kelahiran 1980 ini menghabiskan banyak masa kecilnya di sawah. Saat kecil, Lek Moh memiliki rutinitas yang menyenangkan di sawah setelah pulang sekolah. Lek Moh kecil senang menciptakan ruang bermain di lahan kosong saat musim kemarau.

“Masa kecil kan tadi sudah main-main, sore itu kan ngembala kambing, ngangon , terus bawa layangan, bal-balan sama teman-teman, kalau dulu kan setiap habis panas kan ada lahan kayak gini kan, terus ditanami tebu gini kan, ya ada tempat buat bermain anak-anak,” ceritanya penuh antusias.

Namun, nyatanya kisah menyenangkan itu tidak bisa diwariskan kepada anak-anak Pundenrejo setelah adanya klaim tanah dari PT LPI. Tidak hanya membatasi ruang bermain, tanah tersebut juga dipagari kawat ‘pagar berduri’ yang mengancam keamanan anak-anak desa,

“Sekarang apalagi semenjak di kuasai LPI, tuh ada pagar berduri. Dulu anak kecil pernah main layangan, terus jatuh terluka. Kalau dulu kan memang seringnya kalo sore do main layangan, do main bal-balan. Sekarang kayak begitu kan waktu di kuasai ini (PT LPI). Buktinya masih ada kan. Masih, itu masih. Kawat duri, itu bahayanya,” ucapnya.

Sisa kenangan Lek Moh hanya ia nikmati sendiri. Tanah yang seharusnya menjadi Saksi bisu masa kecil Lek Moh sudah berbeda. Tanahnya yang dulu menyimpan kenangan indah, sekarang menyimpan duka yang tak berkesudahan. Sebelum PT LPI menggerus haknya, remaja Lek Moh ternyata sudah mengenal Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo (Germapun) dari sang Ayah. Usia remajanya diisi dengan mengikuti ayahnya yang juga aktif di Germapun yang saat itu ia berusia 17 tahun pada tahun 2000 an.

 

Lek Moh dan Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo (Germapun)

Hingga saat ayahnya meninggal Lek Moh mulai mendalami Germapun lebih masif lagi. Tahun 2020 an, Lek Moh baru memperbarui statusnya dari anggota menjadi pengurus Germapun. Tekatnya semakin kuat saat ia sendiri merasakan konflik tanah dengan Perusahaan. Sialnya saat menggarap sawah turunan Ayahnya, tidak lama Ia mendapati pengusiran oleh PT LPI yang didampingi oleh aparat yang seharusnya mengayomi masyarakat.

Dimulai dari perusakan tanaman 2021, yang saat itu Ia ingat betul bahwa sawahnya masuk musim panen. Perusakan tersebut datang tanpa angin tanpa hujan. Tanpa pemberitahuan tanpa negosisasi maupun kesepakatan, tanah Lek Moh harus rusak karena mereka,

“Jadi kan tandurannya kan dirusak. Belum ada kesepakatan. Komnasham juga datang di Bupati dulu. Kalau belum ada kesepakatan. Tapi kenyataannya itu dirusak,” ucapnya.

Pihak LPI dinilai rancu saat mengakui kepemilikan tanah tersebut adalah dalam bentuk HGB (Hak Guna Bangunan). Petani paham bahwa HGB seharusnya tidak ditanami atau dijadikan perkebunan. Pengusiran warga Pundenrejo pada tahun 2021 dengan izin HGB membuat warga mulai berpikir,

“Terus tiba-tiba pihak LPI masuk, Mbak, dengan izinnya HGB. Katanya jual-beli dari Bappipundip kan. Tapi kok jual-belinya HGB, hak guna bangunan. Tapi nyata di sini kan tidak ada bangunan sama sekali”

Masalah bertambah rumit saat Covid-19 datang. Warga menyadari arahan dari pemerintah pusat untuk menjaga kesehatan agar tidak berkerumun, menjaga jarak, dan beberapa aturan saat itu. Saat itu juga warga dianjurkan untuk tidak keluar rumah.

Begitupun para petani yang sudah tidak bisa bertani karena pengusiran PT LPI, akhirnya banting mengatur kegiatan ekonomi di pasar untuk menyambung hidup. Beberapa hal yang merumitkan para petani adalah faktor terkait aktivitas akibat Covid-19 yang hanya memperbolehkan pembukaan pasar selama 2 jam per hari pada pukul 10.00-12.00 WIB. Namun juga hanya boleh 3 kali dalam sepekan saja.

“Pasar itu, Mbak. Jatah jam 10.00 – Jam 12.00 disemprot,” katanya.

Pilihan perdagangan ini, menjadi alternatif para petani dan Lek Moh. Sebab, Ia harus mengganti status pekerjaannya dari ‘petani’ menjadi ‘pedagang’ saat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI. Kini, Lek Moh mencoba menghidupi keluarga dengan berdagang prabot plastik, tak jarang juga menjadi kuli atau pocahan.

“Dagang. Itu jualan plastik. Plastik itu, perabotan. Mencukupi semua kebutuhan keluaga. Kadang yo mocok mba ” jelasnya.

Melihat hal tersebut semakin membuat Lek Moh membarakan api semangat perjuangan bersama warga Pundenrejo. Lek Moh mulai mempelajari cara ber-vokal untuk Pundenrejo. Lek Moh bersama warga Pundenrejo difasilitasi oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) untuk belajar di Malang dan Jogja selama 3 hari terkait mekanisme aksi yang efektif, seperti cara ber-orasi dan ber-lakon.

Hasil dari pelatihan tersebut ternyata membuat Germapun lebih hidup dan terproges. Beberapa warga sudah bisa menerapkan hasil pelatihan, seperti Lek Moh yang berperan dalam seni lakon saat aksi. Dari Universitas hingga medan aksi sudah pernah diinjak Lek Moh dalam menyuarakan Konflik Pundenrejo agar didengar oleh pemerintah. Tak lama kemudian, banyak orang yang akhirnya bereaksi dan menyaksikan sendiri keadaan Pundenrejo. Hingga sampai sekarang, gerakan solidaritas dari luar Germapun mulai muncul dan semakin besar.

Lek Moh mendapatkan banyak hal dari Germapun, mulai dari ilmu hingga makna solidaritas,

“Berkesannya, tambah teman, tambah banyak solidaritas. Jadi tambah ilmu. Ini memangnya petani kan pendidikannya kurang kan, Mbak.Terus solidaritas kan ngasih ilmu gimana, gini-gini supaya kita tahu, supaya kita bisa. Ora ngawur, Mbak, caranya. Udah ya, tahu hukum dan tahu tata negara. Kan nyatanya petani memang benar mbak. Itu kan memang haknya petani,”

 

Bertani dan Lek Moh

Kisah yang dijalani Lek Moh saat petani menjadi berliku-liku dan banyak menyimpan senyuman. Setiap panen Lek Moh bisa merasakan hasil tanamannya sendiri bersama sang istri. Tak perlu hasil tani yang banyak, menurutnya beras yang bisa untuk menghidupi keluarga sudah lebih dari cukup. Dari hasil keringatnya di balik caping itu, Ia bisa merasakan nikmatnya berbagi pada warga yang membutuhkan.

“Oh dulu lho, Mbak. Pas petani ke rumah pun gara-gara di situ. Waktu panen, orang-orang yang mengais sisa gabah itu dikasih, Mbak. Dikasih, saling memberi. Itu orang petani juga bisa membantu. Kalo sekarang apa juga yang dikasih,” ungkapnya

Dari jerih payah mencangkul di sawah, para warga juga memiliki tradisi menyerah saat ada hajatan menggunakan beras. Namun sekarang, mereka harus membeli beras ke warung,

“Kalau ada warga yang punya hajat, kan. Kalau di desa kan sumbangannya. Beras 5 kilo gitu, Mbak. Dulu bisa nanem sekarang harus beli,” katanya.

Kesedihan bagi seorang petani adalah ketika harus membeli beras untuk makan,

“Kalau dulu kan nggak pernah beli beras. Sekarang kan beli beras mahal. Kalau dulu kan… tinggal panen. Panen. Terus, kalau dijemur kering, ditumpuk . Beras habis, nyelep . Untuk nanam lagi kan, tabungnya sedikit-sedikit,”

Bagi Lek Moh, bertani adalah kegiatan indah dan bisa menjadi obat penenang ketika jantung bergemuruh,

“Buat tombo ati bahagia, di apotek ngga ada obatnya itu, seneng memandang tanduran, ambune pari , ada harapan. Sekarang apa yang diharapkan,”

Kerinduannya dengan dunia menjadi petani tidak pernah terobati sampai sekarang. Hampir setiap kegiatan sehari-hari saat menjadi petani masih Ia ingat betul sampai sekarang,

“Kegiatan bangun pagi langsung macul, nunggu istri nganterin makanan umpomo wis ono parine langsung macul, jam 10/11 pulang mandi sholat, lalu berangkat lagi, lalu ashar pulang lagi lalu berangkat ngarit buat kambing. Hal ini membuat kangen,” diakhiri dengan senyum dan berkumpul penuh harap.

 

penulis: Sabrina Gita S

editor: Ika Nugraha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *