Semarang Writers Week 2025: Soroti Kehidupan Kelompok Rentan Kota melalui “Telisik Celah”

Semarang Writers Week (SWW) 2025, resmi digelar pada 8-10 Agsutus 2025 lalu tepatnya di Gedung Oudetrap, Kota Lama Semarang. Gelaran tahunan yang diselenggarakan Hysteria melalui pogram Peka Kota dan Purwa Rupa kini sudah memasuki tahun kelima, dan pada tahun ini mengangkat tema besar yaitu “Telisik Celah”.  Sheira Hesty Salsabela selaku Head Project menuturkan bahwa tema ini berangkat dari personal reason ia melihat Kota Semarang dengan gedung-gedung tingginya. Namun ketika ia mulai menjelajah melalui riset yang pernah dilakukan, ia melihat sisi lain dari kota yang besar ini. Ia menyadari ternyata ada beberapa tempat yang membuatnya merasakan masih ada kesamaan yang ia rasakan di kampung halamannya dan ia dapati di tengah-tengah kota besar ini.

“Ternyata ada kampung-kampung yang ‘guyub rukun’ gitu loh yang kayak di rumahku sendiri gitu. Dan aku kayak lebih pengen menelisik lagi kayak kehidupan apa lagi sih selain kampung-kampung yang kayak di kampungku ini yang ada di kota gitu, “ jelas Sheira.

Tema “Telisik Celah” ditujukan untuk mengungkap cerita-cerita yang jarang kita dengar dari kelompok rentan di perkotaan. Selama tiga hari berturut SWW 2025 menghadirkan bazar buku, diskusi-diskusi, pameran komunitas, kegiatan bersama anak-anak dan komunitas-komunitas yang bersisian dengan teman-teman kelompok rentan.

Telisik Melalui Diskusi

Pada hari pertama dan kedua, banyak diskusi-diskusi yang menarik perhatian seperti “Lapak Komunitas: Menjejak perempuan di Celah Kota” yang dihadiri oleh Girl Up, BaraPuan dan Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI). Membahas terkait bagaimana perempuan dapat beratahan di tengah besarnya mobilitas di kota yang apapun serba ada.

“Aku pengen menelisik untuk memperdengarkan cerita-cerita dari teman-teman dari kampung pesisir khususnya perempuan gimana sih struggle-nya kebertahanan. Kenapa bisa bertahan di tengah kota yang mobilitasnya banyak banget dan kadang tuh kehidupan pesisir tuh diterpinggirkan, gitu loh. Karena fokusnya biasanya hanya di Pemkot aja kan, misalnya pembangunan-pembangunan juga ada di tengah kota gitu, yang di dalam-dalam nggak. Terus aku juga terpantik, eh gimana juga ya kalau kehidupan perempuan aja udah rasanya kayak gini di dalam kota yang fasilitasnya lebih banyak daripada di desa gitu loh,” ungkap Sheira.

Kemudian dilanjutkan “Diskusi Panel: Waria di Sudut Kota” yang menghadirkan Perwaris (Persataun Waria Semarang) dan Vania Pramudiata Hanjani seorang dosen dan peneliti gender. Diskusi ini membicarakan terkait keadaan para Waria (Wnita Pria) yang ada ditengah kota besar Semarang. Meski terkadang sosok gender non-normatif yaitu “Waria” banyak ditakuti, apakah hal semacam itu hanya mereka lakukan sebagai suatu pekerjaan saja atau memang ada keinginan dari mereka yang menjadikan mereka merasakan hal yang sesuai untuk diri mereka sendiri.

“Mereka tuh membangun identitas itu apakah hanya sebagai profesi saja, apakah memang sudah ada pantikan gitu loh dari dalam hati mereka untuk, oh aku pengen mencoba sesuatu hal yang kayaknya ini lebih aku banget gitu daripada diriku yang dulu gitu. Terus perempuan yang mungkin itu adalah identitas gender yang sangat normal gitu loh biasa. Kenapa bisa tercipta stereotip dan label yang kayak waria tuh menyeramkan gitu,” tutur Sheira.

Pada hari terakhir, SWW 2025 mengajak anak-anak Rumpin Bangjo yang rata-rata anggota dari mereka merupakan anak-anak jalanan. Serta kebanyakan orang tua mereka berpikir lebih penting untuk memperkejakan mereka dari pada sekolah. Dalam diskusi ini SWW 2025 ingin berbagi mengenai bagaimana anak-anak tersebut tumbuh dengan baik di kota sebesar ini.

“Karena yang pengen disoroti kan gimana sih kebertahanan kelompok-kelompok rentan ini di tengah kota yang jauh dari arus dominasi bermegah-megahan kota gitu loh. Jadi kayak sebenarnya gimana sih cara mereka tumbuh gitu loh. Apa aja faktor-faktor yang mempengaruhinya dan membantu mereka tumbuh gitu kan,” jelas Sheira.

SWW 2025 membagikan keresahannya melalui kegiatan ini dengan memberikan kesempatan pada anak-anak untuk jujur, mereka mengadakan kegiatan menggambar kota impian seperti apa yang mereka harapakan.

“Terus kayak kita juga ingin tahu kehidupan anak-anak yang kami rasakan sama mereka kan pasti berbeda ya. Karena tadi orang tuanya mungkin lebih prefer ke mending kerja aja daripada sekolah gak sih. Terus dulu aku cuma sehari-hari main pulang sekolah, main sekolah, main udah gitu doang. Terus kayak, terus kenapa kekuatan apa sih yang membuat mereka bisa tetap ketawa ketiwi gitu menjalani kehidupannya. Terus makanya tadi kita hadirkan. Terus juga tadi kita kan menggambar dengan promt, nggambarin kota impian gitu kan itu kan, itu menurutku salah satu metode yang bisa kita ambil untuk tahu pemaknaan anak-anak terhadap lingkungan sekitarnya. Sebenarnya mereka tuh lebih pengen tinggal di tempat yang seperti apa sih. Karena, terus tadi tuh banyak yang gambar gunung,” tambahnya.

Harapan dan pesan yang hendak disampaikan melalui kegiatan ini ialah mereka berharap untuk kedepannya banyak yang lebih peduli dan peka terhadap hal-hal kecil di sekitar kita.

”Berharapnya semoga ke depannya ada event-event yang sama seperti ini atau lebih besar gitu loh. Karena aku interest-nya besar di sini, jadi kayak aku akan datang gitu kalau ada gitu. Dan siapa tahu juga bisa memotivasi atau menginspirasi teman-teman yang lain terkait hal ini untuk lebih mau duduk dan mendengar cerita-cerita yang mungkin jarang kita dengar di tengah kota gitu. Makanya mari kita telisik celah untuk tahu apa yang ada di dalamnya dan bagaimana selanjutnya kita harus hidup berbarengan bersama-sama dengan mereka,” ungkap Sheira.

Ia juga menambahkan, komunitas-komunitas yang hidup merupakan hal yang penting bagi kelompok-kelompok rentan untuk memperdengarkan suara mereka.

”Jadi kayak komunitas ternyata sepenting itu gitu loh untuk mendampingi kehidupan kita di tengah kota yang arus mobilitasnya sangat tinggi. Dan yang ngomonginnya tuh yang megah-megah saja gitu loh. Dan menurutku hal itu patut kita perhatikan lebih dalam lagi. Bahwa karena kita tinggal di kota, itu kita tinggal diberagam manusia yang lebih multikultural. Dan berarti kan kita harus memperdengarkan satu sama lain biar kita bisa hidup bersama dengan nyaman di satu kota ini gitu kan.” Pungkas Sheira.

Semarang Writers Week (SWW) membuktikan literasi tidak hanya perihal membaca tetapi juga mendengar dan memahami. Telisik Celah mengangkat kisah-kisah dari sudut kota yang jarang didengar, menjadi suatu ruang yang layak untuk kita duduk dan berdiskusi di dalamnya.

Penulis: Dea

Editor: Ika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *