
Selasa (16/09/2025) puncak peringatan September Hitam digelar di Kampus 1 Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Acara ini menjadi ruang refleksi untuk mengenang korban represi aparat sekaligus mengingat merawat publik atas pelanggaran HAM dan demokrasi di Indonesia.
Malam ini, adalah hari ke 2 merawat ingatan dan memberantas pelanggaran HAM pada acara yang bertajuk ‘September Hitam’. Rangkaian kegiatan dimulai pada pukul 17.00 WIB dengan pameran karya di depan Aula Gedung B, disusul pembacaan puisi dari perwakilan UKM kias. Puisi-puisi tersebut menjadi pengantar pada sesi diskusi bersama jejaring komunitas Bersemai Sekebun.
Dalam sesi diskusi, pemantik dari Bersemai Sekebun menekankan pentingnya ruang alternatif bagi generasi muda untuk bersuara. Solidaritas, menurutnya, tidak selalu diwujudkan melalui aksi jalanan, tetapi juga melalui tulisan, seni, dan aktivitas sehari-hari. Pemantik juga menjelaskan salah satu kegiatan Semai bertajuk menjelajahi taman bunga yang sekilas terdengar ceria namun sejatinya menjadi kritik kreatif atas ironi pelanggaran HAM.
Mereka juga membicarakan penolakan untuk menolak penolakan dan pentingnya menjaga empati agar tidak membuka luka lama. Diskusi berlangsung aktif dengan pertanyaan, cerita, dan refleksi pelajar yang membuat suasana semakin hidup. Celana tersebut berhasil menggugah para peserta untuk kemudian berbagi pengalamannya ketika turun ke lapangan.
Dilanjutkan dengan penampilan musik dari UKM Imortal dan pementasan drama dari UKM Teater Gema. Mereka mengungkapkan aspirasi melalui karya, hal itu dapat diwujudkan dengan disetiap lirik lagu dan disetiap kata pada puisi yang mereka tampilkan.
Selain pementasan drama, para kolaborator juga membawakan lilin dan membingkai foto mereka yang telah menjadi korban respresi aparat, salah satunya Alm. Affan Kurniawan yang dilindas oleh aparat sampai kehilangan nyawanya. Dengan diiringin penari dan taburan bungan, sebagai penghatar untuk mereka yang telah gugur.
“Kalau dari lilin dan bunga itu sebenanya simbolis untuk menghantar Kawan-kawan kita yang telah berpulang dan lilin Adalah sebuah harapan yang harus tetap menyala meskipun tadi gelap lilin harus tetap menyala, jikalaupun itu terang lilin juga harus tetap menyala dan lilin lambang Adalah dari suara yang masih menyala hingga saat ini ketika mereka sudah tiada,” lanjut Eng salah satu penyaji Teater September Hitam.
Beberapa peserta juga memberikan tanggapan dari penyajian September Hitam kali ini. Kevin, mahasiswa UIN Walisongo, menilai acara ini penting untuk diadakan setiap tahunnya,
“Menurut saya kegiatan ini layak untuk diselenggarakan kembali untuk emngingat Sejarah karena September Hitam itu bukan hanya hari tapi itu adalah peringatan sejarah yang memang harus bisa memulihkan kita,” tuturnya.
Senada, Rizieq dari masyarakat sipil juga menilai bahwa kegiatan ini memberi ruang belajar mengenai sejarah, demokrasi dan solidaritas. Selain itu kegiatan ini berhak untuk diselenggarakan setiap tahunnya,
“Kegiatan-kegiatan seperti ini memang perlu diselenggarakan tanpa harus menunggu siapa yang menelenggarakan, tanpa harus menunggu lembaga apa yang menelenggarakan. Tapi intinya adalah kita menjalin keterhubungan antarindividu. Itu yang sangat penting. Selain itu, kita juga tetap menjaga ingatannya,” ujarnya.
Meski sempat terkendala cuaca dan perubahan lokasi, puluhan mahasiswa dari UPGRIS maupun kampus lain tetap mengikuti acara hingga akhir. Peringatan ini mengingatkan bahwa mengingat pelanggaran HAM tidak boleh terjadi.
Penulis : Syasi Afrika Julianti
Reporter : Andika Wisnu Pratama
Editor: Sabrina Gita