

Semarang, 7 Mei 2026. Badan Eksekutif Mahasiswa UPGRIS menggelar kegiatan nonton bareng dan diskusi film bertajuk Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, di lapangan kampus 4 UPGRIS. Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB ini menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa untuk membedah krisis kemanusiaan dan eksploitasi alam di tanah Papua.
Kegiatan diawali dengan pemutaran film dokumenter karya Dandhy Laksono yang berkolaborasi dengan seorang antropolog Cypri Paju Dale. Sebagai sebuah film dokumenter, tokoh-tokoh yang tampil merupakan masyarakat adat Papua yang mengalami langsung dampak dari kerusakan lingkungan di wilayah mereka.
Film yang mulai ramai diputar dan diperbincangkan di forum-forum diskusi ini merekam realitas pahit yang dihadapi oleh masyarakat adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Melalui lensa kamera, penonton diajak melihat langsung perjuangan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu dalam mempertahankan hutan adat mereka. Fokus utama film ini menyoroti bagaimana ekspansi Proyek Strategis Nasional (PSN) terutama pengembangan industri bioenergi, perkebunan tebu, sawit, hingga food estate telah merampas tanah dan ruang hidup masyarakat lokal secara masif.
“Pesta Babi” bukan sekadar judul, melainkan sebuah metafora budaya yang diambil dari tradisi Awon Atatbon milik suku Muyu. Ritual adat besar yang melibatkan babi sebagai simbol sosial dan budaya ini sangat bergantung pada kelestarian alam. Secara tegas, isi dokumenter menggambarkan bahwa ketika hutan-hutan adat dibuka untuk proyek bioetanol dan ketahanan pangan skala besar, yang hancur bukan hanya ekosistem, melainkan juga identitas dan fondasi budaya masyarakat adat yang telah menetap selama berabad-abad.
Narasi dalam dokumenter ini tergolong berani dengan menyebut situasi di Papua sebagai bentuk “kolonialisme modern”. Film ini mengungkap bagaimana masyarakat lokal merasa tersingkir dari tanah leluhur mereka sendiri di bawah bayang-bayang militerisasi yang mengawal jalannya proyek investasi. Salah satu momen dalam film memperlihatkan warga adat memasang “salib merah” di lahan mereka. Sebuah simbol perlawanan terhadap penguasaan lahan oleh perusahaan.
Kehadiran film ini berhasil menempatkan isu Papua kembali ke meja diskusi publik. Film ini menjadi pengingat penting bahwa di balik ambisi kemajuan ekonomi dan ketahanan pangan nasional, ada suara-suara masyarakat adat yang kian terhimpit dan berisiko kehilangan masa depan mereka.
Saat sesi menonton film nampak beberapa penonton menggelengkan kepala karena melihat keadaan yang terjadi di tanah Papua. Setelah menonton film, dilanjut dengan diskusi yang dipantik oleh saudara Nofan, ada beberapa perwakilan dari mahasiswa Papua yang ikut menanggapi diskusi tersebut. Dalam diskusi yang berkembang, mencuat isu mengenai kerusakan lingkungan secara masif di tanah adat dan praktik militerisme yang merugikan masyarakat Papua.
Penulis: Dilla
Editor: Syasi Julia