

Judul : Penyalin Cahaya ( Photocopier)
Sutradara : Wregas Bhanuteja
Produser : Adi Ekatama, Ajish Dibyo
Pemeran : Shenina Syawalita Cinnamon, Lutesha, Chicco Kurniawan, Dea Panendra, Jerome Kurnia, Giulio Parengkuan, Ruth Marini, Lukman Sardi
Produksi : Rekata Studio, Kaninga Pictures
Genre : Thriller, Drama
Durasi : 130 menit
Sebuah film Indonesia yang mengangkat isu kekerasan seksual di lingkungan kampus dan upaya korban dalam mencari keadilan. Film ini menggambarkan teriakan diam korban yang selama ini dilupakan, serta bagaimana sistem seringkali melindungi pelaku. Disini tokoh utama tidak dipersenjatakan kekerasan, tetapi dengan akal, dan kesabaran. film ini membuka ruang diskusi, tak hanya realita di kehidupan masyarakat soal korban pelecehan yang kerap disalahkan tapi soal status sosial dan privilege dari seseorang yang kaya raya.
Penyalin Cahaya atau Photocopier merupakan film yang mengisahkan perjalanan seorang mahasiswi bernama Suryani (Sheinina Cinammon) dalam mengungkapkan kebenaran di balik kasus yang menimpa dirinya. Kejanggalan dimulai selepas diadakannya malam pesta perayaan kemenangan teater Matahari di rumah Rama (Giulio Parengkuan), sang penulis naskah dari teater tersebut. Fara (Lutesha) yang merupakan orang asing yang baru ditemuinya di Fotokopi sekaligus mantan anak teater Matahari sudah memperingatkan Suryani agar tidak hadir dalam malam pesta tersebut dan fokus pada beasiswa miliknya. Alih -alih menanggapi, suryani tetap ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Keesokan harinya beasiswa miliknya dicabut karena foto Suryani yang tengah mabuk tersebar di media sosial dan membuat dirinya kehilangan beasiswa kuliah. Heran dengan hal tersebut Suryani, bersikeras untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi karena ia sendiri tak ingat kejadian malam itu dengan dibantu oleh temannya yang berprofesi sebagai tukang fotokopi, yaitu Amin (Chicco Kurniawan).
Semakin dalam menyelami perkara tersebut, Sur tak hanya mengungkap kasusnya sendiri, tapi luka-luka lama temanya. Sur tau dirinya dilecehkan saaat pesta malam itu. Berawal dari niat ia berusaha untuk berbicara dengan menyerahkan bukti-bukti kepada dewan kode etik kampus untuk meminta pengusutan tetapi Sebagai korban yang sedang berusaha mencari keadilan. Sur dipersulit karena orang tuanya bahkan pihak kampus sekalipun tak mempercayai kesaksianya dan menyuruh untuk melakukan klarifikasi serta membuat permintaan maaf secara terbuka dan menyatakn semua tuduhan tersebut hanya rekaan semata.
Fenomena soal Suryani dengan segala keterbatasan diangkat dalam Penyalin Cahaya. Siapa yang mau mempercayai Suryani yang ceritanya dianggap halu, sedangkan si pelaku dengan pengaruh besarnya dan sedikit intimidasi bisa lolos dengan mudah bahkan membalikkan fakta. Suryani seolah-olah dipaksa untuk tunduk kepada realita karena tak memiliki privilage seperti Pelaku yang bisa mengatur apa saja dengan kuasanya.
Film Penyalin Cahaya memiliki banyak kelebihan yang menjadikannya layak untuk ditonton. Salah satunya adalah keberaniannya mengangkat isu sosial yang jarang disorot di perfilman Indonesia, yaitu kekerasan seksual di lingkungan kampus dan bagaimana korban seringkali tidak dipercaya serta disalahkan, sepanjang film kita diminta berfikir menebak-nebak, tegang dan semua disampaikan dengan visual yang menarik, aktingnya pun menganggumkan, karena relate dengan kehidupan masyarakat sekarang.
Namun, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Alurnya cenderung lambat, terutama di awal saat Suryani mulai menyelidiki apa yang terjadi pada dirinya. Selain itu, apabila tidak menyimak film tersebut dengan seksama maka kita akan kesulitan dalam memahami ending serta plot-plot. Film ini juga minim elemen komersial seperti humor atau romansa, sehingga lebih fokus pada pesan sosial dibandingkan aspek hiburan.
Meski demikian, Penyalin Cahaya tetap sangat direkomendasikan untuk ditonton. Bukan hanya karena ceritanya yang menarik, tetapi karena film ini mampu membuka mata penonton tentang ketidakadilan yang sering dihadapi korban kekerasan seksual yang sulit untuk speak up dan memilih bungkam karena tidak adanya dukungan orangorang disekitar. Film ini memberi ruang bagi penonton untuk merenung, berdiskusi, dan memahami betapa pentingnya berpihak pada korban serta berani melawan sistem yang tidak adil. Melalui kisah Suryani, film ini menyuarakan keberanian dan harapan bagi mereka yang selama ini bungkam.