HIMA PGSD UPGRIS Berdayakan Masyarakat RT 04 Kelurahan Tandang

Semarang, 7-8 Agustus 2026. Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (HIMA PGSD) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melaksanakan Program Aksi Transformatif untuk Masyarakat (PRATAMA) di RT 04/RW 13, Kelurahan Tandang, Kota Semarang. Mengusung tema “Kolaborasi Nyata Membangun Kesejahteraan, Manifestasi Kepedulian Mahasiswa dalam Pengabdian Masyarakat”. Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat melalui edukasi, pemberdayaan, serta aktivitas kreatif yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.

Rangkaian PRATAMA diawali dengan upacara pembukaan pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Workshop Edukasi Kesadaran Lingkungan dan Pemanfaatan Limbah Sampah Daur Ulang yang menghadirkan Nur Hasan Asyary, S.Pt., Staf Ahli Katimker Pengelolaan Administrasi dan Kinerja Penyuluhan Pertanian, sebagai narasumber.

Workshop berlangsung di Balai Pertemuan RT 04/RW 13 tersebut secara khusus menyasar bapak dan ibu warga setempat. Materi yang disampaikan tidak hanya membahas persoalan lingkungan, tetapi juga diarahkan pada upaya meningkatkan nilai ekonomi rumah tangga, menjaga kesehatan keluarga, serta mendorong penguatan kelembagaan di tingkat RT.

Dalam paparannya, Hasan mengulas persoalan sampah melalui lima perspektif, yaitu nilai ekonomi rumah tangga, dampak terhadap kesehatan keluarga, potensi penguatan kelembagaan RT dan kelurahan, praktik teknis yang aplikatif, serta nilai gotong royong. Ia menjelaskan bahwa berbagai jenis sampah rumah tangga, seperti kertas, botol plastik, kardus, kaleng, hingga minyak jelantah, memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan baik. Minyak jelantah, misalnya, tidak hanya berpotensi menjadi sumber pendapatan apabila diolah menjadi produk bernilai jual, tetapi juga dapat menimbulkan persoalan lingkungan apabila dibuang sembarangan ke saluran air.

Selain aspek ekonomi, Hasan juga menyoroti dampak pengelolaan sampah terhadap kesehatan masyarakat. Sampah yang menumpuk dan tidak dikelola dengan baik dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang meningkatkan risiko berbagai penyakit, seperti Demam Berdarah Dengue (DBD) dan diare.

Ia juga mengingatkan masyarakat mengenai bahaya pembakaran sampah plastik secara sembarangan yang dapat menghasilkan asap dan zat berbahaya bagi kesehatan, khususnya sistem pernapasan,

“Sampah jangan hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang. Kalau dikelola dengan baik, sampah rumah tangga seperti botol plastik, kardus, kertas, kaleng, hingga minyak jelantah sebenarnya memiliki nilai ekonomi dan bisa menjadi penghasilan tambahan bagi keluarga,” jelas Hasan.

Masyarakat diperkenalkan pada praktik pengelolaan lingkungan melalui penerapan konsep kampung zero waste dan kampung bank sampah yang telah diterapkan di berbagai wilayah. Praktik tersebut menjadi referensi bagi RT 04/RW 13 Kelurahan Tandang untuk mengembangkan sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan di tingkat lingkungan.

Tidak berhenti pada pemaparan teori, peserta juga mendapatkan pengetahuan praktis mengenai pembuatan komposter sederhana menggunakan ember bekas serta pemanfaatan lubang biopori. Kedua praktik tersebut diperkenalkan sebagai alternatif pengelolaan sampah organik yang relatif sederhana, murah, dan dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan rumah.

Antusiasme warga terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif. Berbagai pertanyaan disampaikan peserta terkait pengelolaan sampah rumah tangga, pemanfaatan limbah, hingga peluang pengembangan pengelolaan sampah sebagai kegiatan ekonomi masyarakat. Workshop kemudian ditutup dengan pemberian plakat penghargaan oleh ketua panitia kepada narasumber sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi dalam kegiatan tersebut.

Acara dilanjutkan dengan kegiatan sosialisasi 5A yang meliputi antibullying, antikekerasan seksual, antintoleransi, antikorupsi, dan antinarkoba. Sosialisasi yang ditujukan kepada anak-anak RT 04/RW 13 tersebut disampaikan oleh relawan mahasiswa PGSD UPGRIS dengan pendekatan edukatif dan komunikatif. Dalam sosialisasi tersebut, para volunteer memberikan pemahaman mengenai bentuk-bentuk tindakan bullying, kekerasan seksual, intoleransi, korupsi, dan penyalahgunaan narkoba, termasuk dampak, langkah pencegahan, serta upaya yang dapat dilakukan anak untuk melindungi diri. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari PRATAMA dalam membangun kesadaran sejak dini mengenai pentingnya lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan serta perilaku berisiko.

Memasuki hari kedua, Minggu, 8 Agustus 2026, rangkaian PRATAMA diawali dengan senam ceria bersama masyarakat. Kegiatan disambut dengan penuh antusias dan menjadi sarana untuk membangun interaksi yang lebih dekat antara mahasiswa dan warga. Setelah senam, kegiatan dilanjutkan dengan praktik kreatif pembuatan pot dari limbah plastik, seperti galon dan botol plastik bekas. Kegiatan yang diikuti anak-anak di lingkungan sekitar tersebut tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga memperkenalkan konsep pemanfaatan kembali barang bekas atau reuse melalui aktivitas yang menyenangkan.

Dalam prosesnya, anak-anak didampingi oleh volunteer dan panitia HIMA PGSD UPGRIS. Mereka diajak mengubah barang yang sebelumnya dianggap sebagai sampah menjadi benda yang memiliki fungsi dan nilai estetika. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk edukasi bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana di rumah. Hasil kreativitas anak-anak kemudian dimanfaatkan dalam kegiatan pembuatan Pojok Hijau Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Pot-pot hasil kreasi dari limbah plastik digunakan sebagai wadah tanaman untuk mempercantik lingkungan sekaligus memperkenalkan pemanfaatan tanaman obat keluarga kepada masyarakat.

Pembuatan Pojok Hijau menjadi penutup rangkaian PRATAMA 2026 di RT 04/RW 13, Kelurahan Tandang. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, HIMA PGSD UPGRIS tidak hanya menghadirkan kegiatan pengabdian dalam bentuk seremonial, tetapi berupaya membangun proses pembelajaran dua arah melalui keterlibatan aktif mahasiswa dan masyarakat.

PRATAMA 2026 diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk mengelola lingkungan secara lebih mandiri, kreatif, dan berkelanjutan. Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam menghadirkan kontribusi langsung bagi masyarakat. Melalui semangat “Kolaborasi Nyata Membangun Kesejahteraan”, PRATAMA menjadi pengingat bahwa perubahan di tengah masyarakat tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Ia dapat tumbuh dari hal-hal sederhana: memilah sampah, memanfaatkan barang bekas, menjaga lingkungan, mengedukasi anak-anak, dan membangun kepedulian secara bersama-sama.

Penulis: Muzzammil Yusuf Haniya

Editor: Syasi Julia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *