PENDANGKALAN MUARA YANG MEMPERSULIT NELAYAN ROBAN TIMUR UNTUK MELAUT

PENDANGKALAN MUARA YANG MEMPERSULIT NELAYAN ROBAN TIMUR UNTUK MELAUT

Minggu, 4 Oktober 2026. Pukul 14.00 tampak 40-50 kapal nelayan Roban Timur dan Roban Barat berdesakan di depan muara Sungai Kaliboyo Ada beberapa nelayan yang sedang menarik dan mengemudikan kapalnya masing-masing agar bisa masuk ke muara Kaliboyo untuk pulang menuju galangan kapal sehabis melaut, sementara sebagian besar lainnya memilih parkir kapal secara berurutan di depan muara.

Muara Kaliboyo mengalami pendangkalan selama 1-2 bulan belakangan. Menurut nelayan Roban Timur, pendangkalan terjadi sejak bulan Agustus 2026. Hal ini selaras denganǰ pernyataan nelayan Roban Timur dalam profil Desa Sengon yang disusun pada tahun 2024 lalu ketika musim kemarau dan angin muson timur, yang berlangsung pada bulan April hingga September, membawa serta bencana kekeringan dan pendangkalan muara. Dukuh Roban Timur, Desa Sengon, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang memiliki iklim tropis. Menurut data Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Batang tahun 2017–2022 disebutkan bahwa daerah Batang yang terletak di Pantura memiliki iklim tropis dengan jumlah hari hujan yang signifikan pada bulan Oktober hingga April, sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan April hingga Oktober.

Pendangkalan muara Kaliboyo disebabkan oleh terkikisnya vegetasi di bantaran sungai dan kawasan hulu, yang menyebabkan peningkatan laju sedimentasi dan pengendapan di muara sungai. Pendangkalan sungai merupakan pengendapan material – material padat di bagian dasar sungai akibat terbawa arus sungai Selain itu, pendangkalan biasanya dipengaruhi oleh tiga faktor: erosi, longsor dan sedimentasi. Erosi merupakan proses terkikisnya lapisan permukaan tanah yang berpindah ke tempat lain. Hariyono, seorang nelayan roban timur menuturkan, “Pendangkalan yang terjadi di muara Kaliboyo itu karena musim angin muson timur, pasir laut mengalami erosi sampai ke ujung muara Kaliboyo Selain itu, di wilayah hulu Kaliboyo sudah menjadi bendungan tepatnya di Kenconorejo. Bendungan ini ketika tidak dibuka secara otomatis tidak mengalirkan udara di wilayah hulu sehingga pasir yang menjadi sedimen di muara Kaliboyo menumpuk.”

Di sisi lain, pendugaan juga partisipasi ibu-ibu di Roban Timur dalam pepelangan hasil tangkapan laut. Ibu-ibu berkumpul di pesisir pantai Roban Timur, menunggu suaminya pulang selepas melaut untuk membawa hasil tangkapan laut ke tampat pelangan ikan dan penjualan hasil tangkapan laut. Yang seharusnya hanya menunggu di kapal galangan dan dengan jarak tidak jauh , setelah 1-2 bulan sejak pendangkalan muara terjadi, ibu-ibu di Roban Timur harus menempuh jarak yang cukup jauh sekitar 600 Meter ke pantai pantai untuk mengambil hasil tangkapan laut dan dijual. Hal ini disampaikan oleh Marfuah, “Ini saya lagi menunggu suami saya pulang dari laut, di bulan Agustus-Desember kami sudah biasa seperti ini karena kapal suami tidak bisa masuk ke muara yang disebabkan kandasnya kapal akibat pendangkalan, sehingga ibu-ibu di Roban Timur berbondong-bondong menuju pantai. Pendangkalan terus terjadi dan tidak ada pengerukan.”

Warga Kampung Nelayan Roban Timur menyampaikan harapannya agar Pemerintah Kabupaten Batang menangani permasalahan ini. Hal ini disampaikan oleh wahyudi selaku rukun nelayan roban timur “ pemerintah kabupaten Batang harus turun ke lapangan, melihat dan memikirkan kondisi nelayan Roban Timur, serta melakukan pengerukan untuk mengatasi pendangkalan. Sudah 1-2 bulan nelayan Roban Timur kesulitan untuk keluar-masuk kapal dari muara Kaliboyo, harus dilaksanakan sesuai amanat undang-undang No 7 Tahun 2016 tentang perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudi Daya Ikan dan Petambak Garam.

Penulis: Walhi Jawa Tengah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *