Film Dokumenter “Menolak Punah”: Refleksi Krisis Lingkungan Hidup

Semarang, 13 mei 2026. Sejumlah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) diantaranya LPM vokal, BP2M Unnes (Badan Penerbit dan Pers Mahasiwa), Surat Kabar Mahasiswa (SKM) Amanat, LPM optimus, LPM Menteng dan satu komunitas daerah Keluarga Mahasiswa Jepara Semarang (KMJS) menggelar kegiatan bertajuk Diskusi Terbuka dan Nonton Bareng Film ”Menolak Punah: saat semua semakin mudah dan murah,” di dalam auditorium kampus 1  Univeritas Islam Negeri Walisongo Semarang. Kegiatan diskusi dan nonton bersama yang berlangsung mulai pukul 19:00 WIB ini diharapkan dapat membuka kesadaran bagi para penonton betapa sangat tercemarnya lingkungan di sekitar kita, dan perlunya kita mengambil perubahan.

 

Kegiatan pertama dimulai dengan nonton bersama film dokumenter Menolak Punah. Film dokumenter yang disutradarai Dandhy Laksono dan Aji Yahuti dengan kolaborasi bersama tim Ekspedisi Indonesia Baru, The body Shoap Indonesia, Sunspirit, dan Sejauh Mata Memandang. Melalui film ini sang sutradara mengajak kita menelusuri apa yang sebenernya terjadi di balik pakaian kita, mulai dari bahaya limbah kain murah hingga misi menyelamatkan kapas dan warisan sandang nusantara dari kepunahan.

 

Dalam film ini penonton benar-benar disadarkan pada isu lingkungan yang jarang sekali dibicarakan masyarakat Indonesia yaitu mengenai fast fashion. Di saat muncul diskon produk pakaian, ataupun munculnya trand fashion terbaru, bahkan di saat kita menjumpai pakaian yang lucu, kita tanpa pernah berfikir panjang dengan segera membeli pakaian tersebut. Tidak peduli bahwa pakaian yang saat ini digunakan baru dibeli dan tanpa pernah peduli juga berfikir seperti mengapa harga pakaian tersebut begitu murah? dari bahan apakah pakaian tersebut dibuat? dan adakah dampak negatif atas perilaku konsumerisme fast fashion yang marak? Kita bahkan tidak pernah menyadari hal-hal kecil seperti itu.

 

Dalam sesi pemutaran film dokumenter Menolak Punah penonton banyak menjumpai realitas pahit mengenai dunia fast fashion, bahwa semenjak tahun 2000 hingga 2026 pupulasi global naik sekitar 30% namun konsumsi pakain melonjak hingga 100%. Kemudian tiga dari sepuluh orang Indonesia dapat membuang pakaian yang baru dalam sekali pakai. Budaya fast fashion ini banyak memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Seperti fakta bahwa 70% pakaian kita berbahan plastik sangat berbahaya karena setiap kita mencuci pakaian akan terjadi pelapasan mikro plastik ke lingkungan sehingga tercemar oleh mikro plastik, air yang kita minum, udara yang kita hirup hingga makanan yang kita santap banyak tercemar oleh mikro plastik dan masuk ke dalam tubuh. Tahun 2022 mikro plastik ditemukan di 75% sampel susu ibu hamil, dan di tahun 2025 juga ditemukan bahwa terdapat 46,14% polutan mikroplastik udara.

 

Film Menolak Punah juga dengan berani mengungkapkan bahwa tercemarnya lingkungan kita oleh budaya fast fashion tidak lepas karena pengaruh kebijakan pemerintah, jika pemerintah mendukung dan membantu para penenun lokal dalam penyediaan pohon-pohon kapas guna bahan kain pakaian berkualitas yang ramah lingkungan, kita dapat mengurangi pencemaran mikroplastik dari pakaian murah yang mengandung 70% plastik, namun sayangnya kapas di Indonesia masih kurang diperhatikan yang menyebabkan masifnya produksi kain tenun yang kurang ramah lingkungan.

 

Setelah sesi nonton bersama acara dilanjut diskusi interaktif dengan dua narasumber yaitu Hasan Labiqul seorang dosen cultural studies dan Mur Zaenab Dosen Ekologi UIN Walisongo. Selama sesi diskusi para penonton dari berbagai kalangan antusias dalam menyimaksesi diskusi interaktif. Acara ditutup  dengan sesi foto bersama setelah closing steatment oleh para narasumber.

Penulis: Azmi

Editor: Dhea

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *