Menengok ‘Pagoda Avalokitesvara’ sebagai Warisan budaya Semarang

 

Sumber gambar: detik.com

Ternyata Semarang masih menampakkan eksistensinya di dunia pariwisata. Selain menjajakan pariwisata interaktif, Semarang juga memperkenalkan potensi budaya melalui Wisata Budaya. Salah satunya, Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong yang memiliki ketinggian 45 meter di atas permukaan tanah. Pagoda yang terletak di Pudak Payung Kecamatan Banyumanik ini memiliki segudang cerita.

Sejarah Pagoda

Kebudayaan yang ditonjolkan pada pagoda ini identik dengan agama Budha. Pagoda Buddhagaya juga dikenal dengan nama Pagoda Dewi Kwan Im. Sebutan ini ditujukan karena terdapat patung Dewi Kwan IM. Pagoda ini juga memiliki nama lain Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta Kasih karena keberadaannya untuk menghormati sosok Kwan Sie Im Po Sat, sang Dewi cinta kasih.

Pagoda Megah ini memiliki ceritanya sendiri. Sejarah Pagoda Avalokitesvara bermula dari seorang pemuda asal Bogor bernama The Boan An yang kemudian menjadi Bhikkhu Ashin Jinarakkhita. Ia memimpin perayaan Waisak 2549 di Candi Borobudur pada tahun 1955. Pada momen tersebut, ia bertemu dengan tuan tanah Semarang yang bernama Goei Thwan Ling.

Goei Thwan Ling terkesan dengan kepribadian kepiawaian dari sang Bhikku. Kemudian, ia menghibahkan sebagian tanah miliknya untuk digunakan sebagai pusat dan pengembangan Buddha Dhamma. Lalu, tempat tersebut diberi nama Vihara Buddhagaya.

Telisik Lebih Dalam 

Menara yang dikaitkan dengan agama Budha ini dibangun pada tahun 2004 dan diresmikan pada tahun 2005. Jika dikiaskan manusia, pagoda ini melonjak dua di Tahun 2025. Meskipun masih berusia muda, ini cukup menarik perhatian masyarakat lokal maupun mancanegara. Keindahannya di pagi maupun malam hari mejadikannya primadona dikalangan tempat wisata lain.

Pada pelataran pagoda, pengunjung disambut dengan patung Sidharta Gautama duduk di bawah pohon Bodhi yang rindang sedangkan di area belakang terdapat patung budha tertidur berwarna cokelat dengan pakaian dan tubuh berwarna emas. Nuansa di dalam pagoda memberi kesan hangat dan tenang. Sehingga para pengunjung dapat merasakan ketenangan yang dikemas dalam bangunan berebentuk menara ini. Tidak hanya menikmati arsitektur bangunan pagoda, para pengunjung juga dapat merasakan kebudayaan Budha seperti ritual Tjiam Shi.

Ritual Tjiam Shi dipercaya dapat mengetahui nasib manusia. Para pengunjung hanya perlu menggoyangkan bambu-bambu yang telah memiliki tanda hingga salah satunya terjatuh. Namun perlu diingat bahwa tidak setiap pengunjung memiliki kemampuan membaca nasib dari bambu, sehingga tetap memerlukan bantuan dari petugas pagoda untuk membaca.

Beragam makna yang tersirat dalam setiap bangunan dapat dipercayai ataupun tidak sesuai keyakinan masing-masing. Sehingga manusia yang memahami makna tersebut diharapkan dapat menerapkannya dalam kehidupannya. Sedangkan bagi manusia awam, dapat menjadi tempat dan kesempatan untuk mempelajari dan menghanyutkan diri dengan budaya baru. Karena sejatinya tidak ada kesalahan untuk melestarikan warisan budaya.

 

 

Penulis : Sabrina Gita Salsabella.

Redaktur : Ika Nugrahaning Saputri

Sumber :

Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong, Pagoda Tertinggi di Indonesia

https://www.orami.co.id/magazine/pagoda-avalokitesvara

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *