Harapan Gie untuk Indonesia yang Belum Terwujud Sampai Saat Ini

 

(Wikipedia)

Film Gie merupakan biografi Indonesia melalui kacamata Seo Hok Gie yang diperankan oleh Nicholas Saputra. Sosok Gie digambarkan sebagai seorang Mahasiswa Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, keturunan Tionghoa yang terkenal idealis melalui tulisannya yang vokal terhadap ketidakadilan dan bentuk penyelewengan pemerintah pada masa orde lama sampai orde baru, tahun 1960-an.

Film yang disutradarai oleh Riri Riza, dan diproduksi oleh Mira Lesmana melalui Miles Films ini menjadi film terbaik yang tayang di bioskop Indonesia pada tahun 2005 terbukti dari kemenangan yang diraih pada ajang Festival Film Indonesia. Film ini hadir melalui pemikiran-pemikiran Soe Hok Gie yang ditulis dalam buku “Catatan-catatan Seorang Demostran”.

Gie sedari kecil memang terlihat gemar membaca, menulis dan menentang hal-hal yang menurutnya salah, termasuk melakukan pemberontakan terhadap gurunya, ketika melakukan kesalahan saat mengajar di kelas. Namun ketika ditanya oleh temannya, mengapa hidup sebagai pemberontak? Menurut Gie kita tidak mungkin bisa hidup bebas seperti ini, kalau bukan karena melawan. Mungkin karena Gie berkembang di lingkungan keluarga sastrawan, ayahnya adalah seorang penulis, yang membuatnya mendapat dukungan untuk selalu bersuara atas ketidakbenaran.

Kisah Gie seorang demostran berlanjut ketika ia berkuliah sebagai Mahasiswa Fakultas Sastra, di Universitas Indonesia, bersama teman-temannya yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM MAPALA), Gie gemar sekali mengikuti diskusi dan membuat acara diskusi melalui film, memperkenalkan pemikiran-pemikiran suatu tokoh kepada teman-temannya.

Melalui keberaniannya akan publikasi pemikiran kritisnya yang ia kemas dalam bentuk tulisan yang terbit setiap minggunya di surat kabar. Gie seringkali ditawari untuk bergabung dengan berbagai organisasi, yang menurutnya tidak mungkin tidak ditunggangi suatu kepentingan politik, karena pemikiran idealisnya, Gie menolak.

Gie juga bukan bagian dari pendiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) element utama tahun 1966, namun Gie turut aktif berjuang menggerakkan mahasiswa universitasnya yang anti kolonialis dan revolusioner untuk bersatu turun kejalan dan menggulingkan rezim Soekarno. Kalau kata Gie, “Kita punya pemimpin, kita punya bapak yang kita akui sebagai founding father di negeri ini, tapi buat gua bukan berarti dia punya kekuasaan absolut, untuk menentukan hidup kita, nasib kita, apa lagi kalau kita sadar ada penyelewengan, ketidakadilan. Kalau kita hanya menunggu, menerima nasib, kita tidak akan pernah tahu kesempatan apa yang sebenernya kita miliki dalam hidup ini.” Soekarno memang dihormatinya sebagai founding father, tetapi Gie tidak menutup mata akan penyelewengan yang dilakukan oleh presiden pertama Indonesia itu.

Pada saat Orde lama berakhir, kemudian orde baru dimulai, disaat teman-temannya yaitu belasan para pemimpin mahasiswa memilih untuk bergabung dalam parlemen. Soe Hok Gie tidak memiliki keberpihakan atau individu netral, walaupun ia ikut dalam proses menggulingkan rezim Soekarno, bukan berarti ia mendukung orde baru dan mendukung militer berkuasa, tulisannya murni karna keresahan-keresahannya atas ketidakadilan, tulisannya untuk mewakili rakyat kecil yang terlindas dan tertindas.

Motto hidupnya yang terkenal, “Lebih baik diasingkan dari pada menyerah pada kemunafikan.”  Jaka salah satu aktivis yang juga pemimpin mahasiswa, tak sengaja bertemu Gie dengan menaiki mobil mewah, tiba-tiba saja semua yang bergabung parlemen memilikinya, jika memang bentuk perjuangan mereka berbeda untuk meraih cita-cita yang sama (mungkin) yaitu mengubah Indonesia menjadi negara yang bersih dari korupsi, dan kehidupan politik yang tidak berpihak pada golongan, ras atau agama, Gie hanya berpesan pada Jaka:

“Tapi, semoga apa yang lo perjuangkan ga luntur sama diplomasi-diplomasi dan lobi-lobi untuk mempertahankan posisi lo disana”

Film yang memiliki tone kekuningan atau sepia tone ini, berhasil menggambarkan keadaan Indonesia tahun 1960an dengan begitu ciamik. Namun, banyak pesan-pesan tersirat yang hanya ditunjukkan melalui tindakan tanpa dialog, yang nantinya akan dijelaskan Gie melalui monolognya yang puitis. Walaupun terkadang membuat penonton berfikir, kualitas akting Nicholas Saputra memang sangat berperan besar, sehingga mempermudah penonton untuk memahami perasaan Gie walaupun tanpa dialog. Pemilihan pemeran Gie muda yang di perankan oleh Jonathan Mulia, sangat cocok, karena memiliki fitur wajah yang mirip dengan Nicholas Saputra. Penggambaran tiap tahunnya disusun dengan jelas, sehingga Riri Riza sebagai produser berhasil mengemas catatan harian milik Soe Hok Gie dengan sangat baik.

Film ini masih relevan untuk ditonton hingga saat ini, karakter Gie membangkitkan semangat kaum muda terutama mahasiswa dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, dan menjadi inspirasi untuk tidak bersikap apatis terhadap kondisi negeri ini sebagai bentuk kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *