Temanggung Jadi Pemberhentian Kedua ‘Bandeng Keliling’, Kolektif Hysteria: Penyakit Kejiwaan

Program Bandeng Keliling dari Kolektif Hysteria Semarang telah berada di pemberhentian keduanya, yakni Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada hari Jumat (7/2/2025), setelah sebelumnya singgah di Kota Magelang.

Bandeng Keliling sendiri, merupakan program lawatan dari Kolektif Hysteria yang pada tahun ini dikelilingkan ke-34 titik di Pulau Jawa dan Bali, dengan mengkampanyekan semangat manifesto “Tulang Lunak Bandeng Juwana”.

Seperti kota sebelumnya, manifesto tersebut dikemas ke dalam sebuah Film Dokumenter berjudul “Legiun Tulang Lunak: 20 Centimeters per Year”, yang diproduksi oleh Semaya Studio dan berisikan tentang perjalanan 20 tahun Kolektif Hysteria, terkait praktik-praktik berkeseniannya.

Dalam kesempatan kali ini, berkolaborasi dengan Komunitas Paron yang diwakili oleh Rega Bagoes sebagai narasumber dari tuan rumah, Yuswinardi selaku Founder Kolektif Hysteria, membuka sesi diskusi dengan menceritakan asal muasal nama komunitasnya.

“Hysteria itu sebenarnya (diambil dari) judul lagu,” ungkap Yuswinardi, dalam sesi diskusi di Spedadi Lab, RT 007/ RW 002, Balun, Caruban, Kandangan, Kabupaten Temanggung.

Pria yang kerap disapa Yus itu, mengatakan bahwa memang awalnya dari terbitan-terbitan sastra dan zine, lalu setahun kemudian bertambah anggota dan sepakat untuk membentuk kolektif.

Kembali pada penamaan, sembari bercanda Yus menjelaskan bahwa nama ‘Hysteria’ justru diambilnya sebab rasa ketertarikan dari video klip salah satu lagu Band Muse dengan judul yang sama.

“Aku pikir aku ngambil itu (nama Hysteria), karena aku tertarik dengan video clip-nya. Aku tuh nggak mudeng Bahasa Inggris. Tapi aku tuh tertarik dengan video clip-nya yang ‘mbanting-mbanting’ tv itu. Wah kayaknya cocok dengan apa yang aku pikirkan,” jelas Yus, sembari tertawa.

Ia menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan isi pikirannya adalah terbitan-terbitan awal yang diproduksi Hysteria, berkaitan erat dengan protes terhadap sistem dan memuat isu-isu sosial.

Tak hanya itu, Yus menambahkan bahwa pada era tahun 2000-an, banyak kolektif cenderung menamai diri mereka dengan nama-nama penyakit.

“Hysteria itu kan gejala kejiwaan. Nah kalau Eko Nugroho itu, Daging Tumbuh, itu juga penyakit kan,” ujar Yus.

Namun begitu, Yus menyadari bahwa menyoal tentang perjalanan praktik kolektif, Hysteria seolah menggali jalannya sendiri.

Salah satunya ialah ketika harus bersusah payah bertahan hingga 20 tahun terakhir, diakui Yus, di bawah komando Ahmad Khairudin yang saat ini menjadi Direktur Kolektif Hysteria, komunitas yang awalnya ia prediksi tidak akan bertahan lama itu menjelma menjadi kolektif yang militan.

“Kalau melihat dinamika yang terjadi di Hysteria, tentu memang cocok dengan manifesto ‘Tulang Lunak Bandeng Juwana’, di mana Hysteria punya koridornya sendiri dalam menjalani praktik kesenian di Kota Semarang dengan segala dinamika ekosistem yang dihadapi selama 20 tahun terakhir,” kata dia.

Diketahui sebelumnya, progam ini masuk dalam Event Strategis, Dana Indonesiana, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia (Kemenkebud RI) 2025.***

 

Penulis: Yasin Fajar A.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *