Semarang, 7 Maret 2026, LBH Semarang, Lauk Buku, dan Bara Puan berkolaborasi dalam memperingati Hari Perempuan Internasional (IWD) 2026 di Moenasiah & Lauk Buku Coffee Bookshop. Mereka mengadakan pertemuan jaringan perempuan sebagai ruang refleksi dan penguatan solidaritas gerakan perempuan. Momentum IWD 2026 kali ini dimaknai sebagai ruang aman untuk berbagi, memulihkan energi, dan merawat kembali daya tahan kolektif gerakan perempuan. Diselenggarakannya pertemuan ini sebagai bentuk respon atas dinamika gerakan perempuan di belakangan ini, termasuk menyempitnya ruang-ruang konsolidasi, meningkatnya beban kerja advokasi, serta situasi pasca aksi Agustus yang turut berdampak pada aktivisme perempuan.
Diskusi berlangsung mulai pukul 15.30 WIB yang dihadiri sekitar 20 peserta dari berbagai jaringan di Semarang. Pertemuan ini membahas berbagai isu mulai dari kondisi demokrasi, kesehatan reproduksi perempuan, hingga kesejahteraan pekerja perempuan.
“Tujuan dari agenda ini sebenarnya bukan untuk memantik hal-hal yang besar tapi kita coba untuk memantik hal-hal yang kecil, Melalui bagaimana cara kita untuk merawat ingatan dari para perempuan. Yang terdiri dari berbagai latar belakang yang ada di Semarang ini,” ujar Avrika Agustina selaku Koordinator Bara Puan.
Menurutnya, pertemuan ini menjadi ruang berbagi keresahan tentang kondisi sosial-politik serta tantangan yang masih dialami perempuan. Terutama terkait kesejahteraan dan perlindungan di dunia kerja.
Respon juga menarik datang dari salah satu mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta, Maria. Ia menilai jika peringatan IWD tidak hanya menjadi perayaan simbolik, tetapi juga ruang diskusi lintas perspektif.
“IWD tuh bukan sekedar mengenang perempuan gitu atau menggerakkan perempuan. Tapi, menurutku tuh justru kayak ruang temu untuk semua perempuan. Ataupun, juga laki-lakli atau, siapa saja kawan-kawan dari lintas gender. Untuk berbagi perspektif, pengalaman atau kesan mereka. Terkait tantangan-tantangan yang dialami oleh teman-teman perempuan selama ini,” ujarnya.
Ia menambahkan jika diskusi seperti ini menyenangkan untuk memperluas pemahaman serta dapat bertukar pikiran antar masyarakat tentang permasalahan yang masih dihadapi perempuan, termasuk stigma sosial dan standar kecantikan yang sering menyebabkan munculnya rasa tidak percaya diri.
Kegiatan IWD ditutup dengan penampilan dari rekan-rekan jaringan di Semarang, seperti teatrikal, puisi dan penampilan lainnya. Harapannya solidaritas antarperempuan dapat terus diperkuat dan mendorong keberanian yang mewakili pengalaman serta perjuangan mereka. Arvika juga mengajak perempuan untuk tetap bersuara dan saling merangkul.
“Teruslah bersuara meskipun suaramu kecil. Mungkin suara itu akan terdengar di ruang-ruang yang lain,” tegasnya.
Penulis: Agni
Editor: Dhea Gayatri
