Perlawanan Tan Malaka Terhadap Logika Mistika Bersenjata Madilog

Nama Tan Malaka mungkin terasa asing bagi sebagian orang karena sosoknya memang sering kali dihilangkan dari narasi besar buku sejarah sekolah kita. Hal ini terjadi bukan karena ia kurang berjasa, melainkan karena pemikirannya yang terlalu tajam sehingga ditakuti oleh mereka yang ingin menjaga kemapanan. Sebagai tokoh yang pertama kali menuliskan konsep Republik Indonesia lewat bukunya Naar de Republiek Indonesia pada 1925, Tan Malaka adalah pejuang yang percaya pada konsep Merdeka 100%. Baginya, kemerdekaan sejati bukan sekadar diplomasi di atas kertas, melainkan sebuah gerakan massa yang terorganisir melalui pendidikan politik yang mandiri. Ia menyadari bahwa musuh paling sulit dihadapi bukan hanya serdadu penjajah, melainkan pikiran rakyatnya sendiri yang masih terjebak dalam Logika Mistika.

 

Apa itu logika mistika ?

Logika mistika mencerminkan kondisi di mana kita mencari jawaban persoalan duniawi melalui pintu supranatural, seperti percaya pada jimat, dukun, hingga ramalan nasib. Pola pikir ini menjadi hambatan besar karena membuat masyarakat pasif dan hanya menerima nasib tanpa usaha nyata. Ibarat obat bius yang membuat kita buta terhadap akar masalah yang sesungguhnya. Kebutaan nalar ini paling nyata terlihat saat kita menghadapi masalah kesejahteraan. Ketika kondisi hidup yang sulit atau kemiskinan hanya dianggap sebagai “takdir” atau “kutukan”, kita cenderung abai bahwa di balik itu terdapat struktur ekonomi yang timpang dan kebijakan publik yang mungkin menindas. Logika mistika merupakan warisan kolonial dan feodal yang sengaja dipelihara untuk melemahkan daya kritis rakyat. Lebih jauh lagi, logika mistika bukan sekadar kekeliruan berpikir yang naif, melainkan instrumen untuk melanggengkan ketidakadilan. Dengan menggiring masyarakat agar percaya bahwa kemiskinan sistemik atau kerusakan alam adalah ‘kehendak gaib’, para pemegang otoritas sering kali terbebas dari tanggung jawab atas kebijakan yang timpang, kegagalan sistem, maupun eksploitasi yang merusak.

Di Indonesia, logika mistika sering kali menggantikan pendekatan ilmiah dalam menjelaskan fenomena alam maupun sosial. Akibatnya, investasi dalam riset menjadi kurang prioritas, dan masyarakat cenderung tidak terdorong untuk mencari solusi berbasis data. Ketika masyarakat lebih percaya pada hal-hal mistis daripada fakta, kemampuan berpikir mandiri menjadi tumpul, sehingga kita mudah termakan hoaks atau manipulasi. Jika para pengambil kebijakan juga terpengaruh pola pikir ini, kebijakan publik mulai dari kesehatan hingga penanggulangan bencana, tidak akan berbasis bukti ilmiah.

 

Solusi yang ditawarkan Tan Malaka

Untuk melawannya, Tan Malaka menawarkan Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika). Melalui Materialisme, ia menegaskan bahwa segala sesuatu harus bisa dibuktikan secara nyata, dengan Dialektika, ia mengajak kita melihat hubungan sebab-akibat yang dinamis, sementara Logika menjadi alat untuk menarik kesimpulan yang benar agar kita bisa bertindak tepat.

 

Meruntuhkan Logika Mistika dengan Nalar Ilmiah

Ironisnya, meski sudah hampir satu abad berlalu sejak Madilog ditulis, masyarakat kita saat ini masih sering menggunakan logika mistika sebagai jalan pintas dalam menjawab permasalahan yang dihadapi.  Contohnya ketika ada tetangga kaya mendadak, alih-alih mempelajari strategi investasi digitalnya, narasi yang muncul justru menuduh adanya pesugihan seperti babi ngepet, tuyul, pocong dan lain sebagainya. Begitu pula dalam kesehatan, banyak yang lebih memilih ke dukun karena merasa sakitnya adalah kiriman santet daripada melakukan pengecekan ke laboratorium untuk mengetahui penyebabnya. Pola pikir ini membuat kita buta terhadap masalah medis yang sebenarnya butuh penanganan teknologi sains.

Dampak logika mistika ini juga merambah ke isu lingkungan di daerah pesisir. Saat nelayan sulit mendapatkan ikan, narasi yang berkembang sering kali kembali pada urusan kurangnya sesajen bagi penunggu laut. Padahal, fakta ilmiah menunjukkan bahwa terumbu karang rusak akibat jangkar kapal batu bara dan pencemaran limbah industri seperti limbah tambak dan limbah pabrik tekstil yang dibuang sembarangan ke laut. Di sini, pendidikan kritis sangat diperlukan untuk melihat masalah secara jernih tanpa harus membuang budaya.

Kita ambil contoh lagi budaya sedekah laut atau larung sesaji. Tradisi ini tidak masalah sebagai bagian dari identitas budaya, namun jangan dijadikan jawaban ilmiah atas fenomena alam. Ada kasus mengenai dua desa pesisir yang bertetangga tapi memiliki nasib berbeda, desa yang jarang melakukan sedekah laut mengalami abrasi parah hingga jalannya rusak, sementara desa yang rutin mengadakan sedekah laut tiap tahun, pantainya tidak mengalami abrasi. Secara mistis, orang mungkin mengira itu karena ritualnya. Namun secara sains, jawabannya terletak pada pembangunan infrastruktur. Desa yang tidak mengalami abrasi tersebut memiliki dermaga pendaratan kapal yang secara teknis juga berfungsi sebagai pemecah ombak (breakwater).

Secara teknis, dermaga berfungsi sebagai penghalang fisik yang memitigasi energi kinetik gelombang laut. Saat ombak besar bergerak menuju pesisir, ia membawa energi besar yang berpotensi menyebabkan abrasi. Namun, keberadaan struktur dermaga yang solid memaksa ombak untuk bertabrakan dengan bangunan tersebut terlebih dahulu. Interaksi ini menyebabkan tenaga gelombang terpecah dan melemah secara drastis sebelum mencapai garis pantai. Akibatnya, air yang sampai ke daratan kehilangan daya gerus terhadap pasir maupun infrastruktur di sekitarnya. Perlindungan ini sepenuhnya merupakan hasil dari rekayasa fisik, bukan faktor supranatural.

Menjaga laut karena takut pada penunggu laut sudah tidak relevan lagi di era sekarang ini, dimana ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat. Kita seharusnya menjaga alam karena sadar akan fungsi ekologisnya, bukan karena takut kuwalat. Jika kita terus mengandalkan mistik untuk menjawab tantangan global seperti perubahan iklim atau revolusi industri 4.0, kita akan tertinggal jauh.

 

Pendidikan menurut Tan Malaka

Pada akhirnya, misi utama pendidikan menurut Tan Malaka adalah menciptakan manusia yang berani bertanya dan membuktikan segala sesuatu secara kritis. Pendidikan bukan tempat untuk mencetak manusia yang hanya patuh pada dogma, melainkan wadah melahirkan individu yang menguasai nalar ilmiah. Revolusi sejati adalah revolusi pikiran, beralih dari rasa takut pada hal gaib menuju pemahaman pada hukum alam yang nyata. Kemandirian bangsa hanya bisa terwujud jika kita berhenti mengandalkan kekuatan gaib dan mulai menguasai sains serta teknik, sebab hanya dengan pikiran yang merdeka dan penguasaan teknik yang mumpuni, kita bisa benar-benar berdaulat atas nasib sendiri.

 

Sudahkah Anda memerdekakan pikiran hari ini, atau masih membiarkan nalar terbelenggu oleh narasi ‘katanya’ yang menidurkan akal sehat?

Penulis : Nova Fitri

Editor : Syasi Julia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *