Semarang, 25 mei 2026, dalam rangka memperingati Hari Teater Sedunia beberapa jaringan kolektif seni di Semarang mengadakan forum diskusi dan refleksi terkait dinamika teater Kota Semarang. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Sekretariat Dewan Kesenian Semarang (Dekase).
Sekitar Pukul 17.00 WIB sejumlah perwakilan dari berbagai komunitas dan organisasi Semarang Raya mulai memenuhi Balai sekretariat untuk melaksanakan acara pertama mereka yaitu diskusi. Kemudian dilanjutkan dengan performa panggung bebas teatrikal yang dimeriahkan oleh kolektif seni Meramu Dapur Pertunjukan.
Loveo, selaku ketua pelaksana dalam wawancara oleh awak media vokal, memaparkan latar belakang mengapa diperlukannya ruang diskusi dan refleksi ini yaitu dikarenakan forum teater yang dulu sering menjadi wadah diskusi bersama kini terasa lebih individualis pasca pandemi, maka dari itu forum tersebut digunakan untuk mempertemukan dan mengakrabkan para pegiat teater.
Kartika salah satu pemantik dalam diskusi sore itu, juga menyampaikan mengenai alasan teater perlu berserikat,
”Menurut saya, wajibnya teater memang berserikat karena pada dasarnya kerja-kerja teater adalah kerja komunal. Insan teater adalah orang-orang yang membentuk koloni dan berproses atas dasar tujuan tertentu,” ucapnya.
Usai sesi diskusi sekitar pukul 18:30 acara dilanjutkan dengan pagelaran panggung bebas teatrikal yang dimeriahkan oleh beberapa kolektif seni, salah satunya Meramu Dapur Pertujukan. Pada penampilan kali ini Meramu membawakan teatrikal berjudul Meilankolia yang membahas pemutihan sejarah pada tragedi pemerkosaan masal Mei 1998.
Nia Dianti selaku sutradara dari pertunjukan teatrikal Meilankolia, memaparkan makna teatrikal ini bahwa Meilankolia diambil dari bahasa Inggris yaitu kata melankolia yang berarti perasaan sedih. Ia menjelaskan bahwa pementasan ini mengangkat kisah tragedi Mei 1998 untuk menggambarkan rasa sedih, sendu, serta trauma yang mendalam.
Nia Dianti, juga menambahkan alasan dibawakannya teatrikal Meilankolia yaitu guna merawat ingatan atas tragedi Mei 1998, karena Meramu sendiri selalu membawakan isu-isu kemanusian.
”Kemudian mulai mengkerucut tentang pemerkosaan di tahun 98, yang mengkerucut lagi yaitu etnis Tiong Hoa, dan harapan besar kami adalah agar teman-teman mengingat peristiwa 1998,” ucapnya.
Harapan pun juga disampaikan oleh Nia kepada teman-teman generasi sekarang untuk tetap menjaga dan melek terhadap originalitas sejarah baik maupun buruk. Persembahan dari kolektif Meramu Dapur Pertujukan berjalan dengan baik, sekaligus menjadi akhir dan penutup dari serangkaian acara peringatan hari Teater Sedunia