Gerak Nusantara Resmi Dideklarasikan, Usung Kedaulatan Rakyat Menuju Tatanan SejahteraGerak Nusantara Resmi Dideklarasikan, Usung Kedaulatan Rakyat Menuju Tatanan Sejahtera

 

Obor tersulut seiring deklarasi Gerak Nusantara di Sawah Karang, Desa Pundenrejo, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Senin (27/7/2026) pukul 20.45 WIB. Deklarasi yang diselenggarakan oleh Kelompok Gerak Nusantara, terdiri atas Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK), Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo (Germapun), dan elemen masyarakat.

Gunretno, selaku perwakilan dari JM-PPK dalam deklarasinya menyebutkan bahwa Gerak Nusantara menjadi penanda lahirnya gerakan rakyat yang mengajak masyarakat menghidupkan kembali kedaulatan melalui kebudayaan, musyawarah, dan gotong royong sebagai jalan menuju tatanan sejahtera.

“Hari ini kami mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk menghidupkan kembali kedaulatan melalui kebudayaan yang berlandaskan keselarasan dengan alam, kesetaraan antar manusia, serta kesejahteraan yang benar-benar diputuskan bersama,” tegasnya.

Gunretno, menjelaskan bahwa Gerak Nusantara bukanlah wadah yang dibentuk untuk menciptakan kelompok baru atau berjalan di luar aturan, melainkan sebagai ruang untuk saling mengingatkan apabila pelaksanaan peraturan belum berjalan sebagaimana mestinya.

“Gerak Nusantara meniko ora ko arap gawe gerombolan dewe opo meneh menyimpang teko aturan-aturan dewe, tapi memang ketika undang-undang niki tidak dijalankan secara penuh, yo dulur-dulur saling ndunungke (Gerak Nusantara ini tidak ingin membuat gerombolan sendiri apalagi menyimpang dari aturan sendiri, tapi memang ketika undang-undang ini tidak dijalankan secara penuh, ya saudara-saudara harus saling bercerita),” tuturnya.

Senada dengan itu, Mohammad atau yang sering disapa Lek Moh mengatakan bahwa Gerak Nusantara hadir sebagai gerakan masyarakat yang berpihak kepada rakyat kecil.

“Nusantara untuk rakyat khususnya rakyat kecil, dan diabaikan sama pemerintahan, kita bergerak. Kapan lagi kalau bukan sekarang? Atau siapalagi kalau bukan kita semua? Kita semua harus bersatu di dalam Nusantara kan, lalu saling guyub rukun,” pungkasnya.

Deklarasi Gerak Nusantara juga diwarnai penyalaan sekitar 2.002 obor sebagai simbol utama gerakan. Lek Moh, menjelaskan bahwa obor dipilih sebagai lambang cahaya yang menerangi kegelapan, terutama bagi masyarakat kecil yang masih menghadapi berbagai persoalan.

“Obor itu kan menerangi, menerangi kegelapan. Di pikir-pikir sekarang kan negorone dewe itu gelap, khususnya bagi wong cilik. Obor itu kan simbole wong cilik, terus supaya saling menerangi. Menerangi sama-sama teman, kalau ada, podho-podho ngilingno, podho-podho saling bantu nak ada masalah bisa terang (Obor itu kan menerangi, menerangi kegelapan. Di pikir-pikir sekarang kan negara kita itu gelap, khususnya bagi rakyat kecil. Obor itu kan simbolnya rakyat kecil, terus supaya saling menerangi. Menerangi sama-sama teman, kalau ada, sama-sama mengingatkan, sama-sama saling bantu jika ada masalah bisa terang),” katanya.

Gunretno berpesan bahwa perlu kebersamaan dalam melahirkan sebuah tatanan yang diharapkan.

“Pada hari ini, kami menyatakan lahirnya Gerak Nusantara sebagai Gerakan Rakyat Menuju Putusan Tatanan Sejahtera. Kita harus melahirkan perubahan dan untuk sekali lagi, maka tiada seorang pun yang berhak menentukan tatanan kesejahteraan secara sendiri-sendiri,” tutupnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *