
Identitas Film
Judul: Babi Buta Yang Ingin Terbang
Sutradara: Edwin
Produser: Meiske Taurisia, Edwin, Sidi Saleh
Penulis Naskah: Edwin
Pemeran: Ladya Cheryl (Linda), Carlo genta (Cahyono), Pong Hardjatmo (Halim), Andhara Early (Salma), Joko Anwar (Yahya), Wicaksono (Helmi)
Genre: Drama, Eksperimental
Durasi: 77 Menit
Tanggal Rilis: 03 Oktober 2008 (Indonesia)
Film ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’ ini mengisahkan kehidupan beberapa orang keturunan Tionghoa di Indonesia yang menjalani kesekharian mereka dengan berbagai tantangan dan perasaan terasing. Film yang rilis tahun 2008 ini menampilkan potongan-potongan kehidupan yang menggambarkan bagaimana rasanya menjadi “berbeda” di tempat yang seharusnya menjadi rumah sendiri.
Salah satu tokoh utama dalam film ini adalah Linda (yang diperankan oleh Ladya Cheryl), seorang perempuan keturunan Tionghoa yang bercita-cita menjadi penyanyi. Ia memiliki impian besar untuk masuk ke dunia hiburan, tetapi dibalik mimpinya itu, ada kenyataan yang harus ia hadapi—kenyataan bahwa ada batasan-batasan yang membuatnya sulit untuk benar-benar merasa diterima. Di sisi lain, ada juga Cahyono, seorang anak laki-laki yang suka bermain sulap. Ia sering menunjukkan trik-triknya di depan orang-orang, tetapi di dalam hatinya, ia tengah berusaha memahami siapa dirinya sebenarnya dan bagaimana dunia di sekitarnya memperlakukannya.
Film ini terdapat beberapa adegan yang menggambarkan bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa menghadapi diskriminasi dan perasaan yang tidak sepenuhnya diterima. Ada saat ketika seorang anak menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia, tetapi raut wajahnya menunjukkan keraguan—seakan ia bertanya-tanya apakah ia benar-benar bagian dari bangsa ini. Selain membahas identitas, film ini juga menyoroti isu-isu sosial yang lebih luas, seperti stereotip, prasangka, dan kebingungan generasi muda dalam menemukan jati diri mereka di tengah masyarakat. Dialog yang minim dan elemen sureal dalam film ini menjadikannya lebih sebagai pengalaman visual daripada sekadar cerita biasa.
Kelemahan dari film ini yaitu terasa membingungkan. Alur ceritanya tidak linier, seperti potongan-potongan adegan yang terpisah-pisah. Hal ini membuat penonton akan kesulitan memahami cerita secara keseluruhan. Dialog dalam film ini juga sangat minim dan sering kali terasa aneh atau tidak realistis. Sutradara lebih memilih menyampaikan pesan melalui gambar dan simbol, yang tidak selalu mudah dipahami semua orang. Meski punya beberapa kekurangan, film ‘Babi Buta yang Ingin Terbang’ tetap dianggap sebagai karya yang berani dan berbeda dalam perfilman Indonesia.
Penulis: Puspa Zerlinda
Redaktur: Ika Nugrahaning Saputri