Kelak, jika Pram tak Pernah Dibicarakan Lagi

Setiap orang pasti pernah berangkat dari perspektif awam tentang apa itu sastra? Khususnya yang berupa novel. Begitu pula dengan diri saya sendiri ketika dulu pertama kali masuk ke dalam jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sebagai mahasiswa baru yang masih bau kencur, saya pun dulu pernah beranggapan bahwa berbicara tentang novel hanyalah seputar dunia fiksi. Dunia yang seakan-akan sangat jauh dan tak terjamah dari kehidupan manusia. Pemikiran seperti inilah yang membuat saya dulu iseng-iseng berhadiah sok jadi pengarang. Cukup dengan berkata, “Bebas la wong fiksi kok!” segala perdebatan perihal logika bercerita selesai dalam sekejap. Ya maklum, referensi bacaanya masih seputar cinta-cintaan yang itu-itu mulu. Entah, hal ini masih bisa diwajarkan atau tidak. Jelasnya, sebuah kemunafikan apabila tidak pernah membaca novel yang bergenre semacam itu!

Seiring berjalannya waktu, saya mulai mengenal beberapa novel karya Pram—Pramoedya Ananta Toer—lewat buku-buku yang pernah saya baca. Sebelumnya, memang nama Pram terdengar tidak asing di telinga saya. Hanya sebatas tahu, “Oh, Pram yang menulis Bumi Manusia itu? Seorang penulis yang karyanya sangat dikenal dalam kesusastraan dunia.” Gumam saya dalam hati. Selebihnya saya tidak bisa menjelaskan tentang siapa itu Pram. Lagi pula, saya bukan ensiklopedia sastra yang berjalan. Di sini, saya hanya ingin merayakan sebuah perjumpaan. Perjumpaan yang mempertemukan saya dengan karya-karya Pram, meskipun masih dalam keadaan remang-remang tentang siapa dirinya.

Sekarang ada banyak literatur yang membicarakan tentang Pram. Bahkan, bisa dibaca sewaktu-waktu tanpa harus takut di-dor dari belakang oleh Orba. Jika mengerti situasi tegang yang terjadi pada saat itu. Rasanya menjadi sebuah dosa besar apabila tidak mencari tahu tentang Pram dan karya-karyanya lebih jauh. Pencarian ini bukan semata wayang untuk mendapatkan legitimasi “Si Paling Sastra” atau pun apalah. Saya hanya heran. Selama saya kuliah, Pram dengan segala gagasan revolusionernya jarang diperbincangkan lagi dalam diskusi mahasiswa. Terutama dalam lingkup mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus saya.

Hingga suatu ketika, terselenggara sebuah acara yang memperingati satu abad Pram dalam berbagai rangkaian. Acara ini digelar di Pendopo Ponpes, Al Itqon Bugen, Semarang pada Minggu (19/1/2025) yang diinisiasi oleh Bumi Manusia Project. Acara yang menarik bagi saya karena mempertemukan para pembaca Pram dari lintas generasi. Hal ini dapat dilihat dari para pengisi acara. Mulai dari mendatangkan Soesilo Toer, adiknya Pram. Lalu ada penulis perempuan muda dari Semarang, Tingkar Ayu Restantri. Selanjutnya ada seorang sutradara film dokumenter, Tries Supardi.

Di awal acara, moderator, Gunawan Budi Susanto yang kerap disapa dengan Kang Putu mempersilahkan Tingkar Ayu Restantri untuk menyampaikan pembacaannya terhadap salah satu karya Pram. Ia membicarakan novel Panggil Aku Kartini Saja. Tingkar merasa bahwa novel tersebut sangat relevan dengan dirinya sebagai seorang penulis perempuan. Menurutnya pandangan patriarki terhadap kaum perempuan dalam dunia pendidikan harus dilawan. Tak hanya itu, Tingkar juga menyampaikan beberapa proses-proses kreatif dan latar belakang Pram dalam novel tersebut.

Saya mengamati Tingkar yang agak kurang percaya diri—Entah karena bersanding dengan orang-orang yang lebih senior darinya atau pun apa. Seandainya saya berada di posisi yang sama. Mungkin saya akan merasakan hal yang serupa: Gagap dan terbata-bata. Namun, saya tetap mengangkat topi untuk dirinya. Sebagai generasi muda yang mewakili kaum perempuan untuk membicarakan karya-karya Pram. Toh, bagaimana pun juga membaca novel dan cerita pendek yang ditulis oleh Pram adalah upaya untuk mengenali dirinya. Singkat cerita, Kang Putu mengakhiri sesinya. Lalu, memberikan beberapa tantangan untuk Tingkar. Tantangan tersebut berupa menulis sebuah esai tentang Pram dari sudut pandang perempuan. Sungguh menarik!

Di penghujung acara, seseorang yang tak saya ingat namanya mengajukan pertanyaan kepada Soesilo Toer. Garis besar dari pertanyaan tersebut tentang mengapa karya-karya Pram jarang dipelajari di sekolah. Pertanyaan yang cukup menggelitik bagi saya. Hal ini karena saya merasakannya juga di kampus. Kok bisa, dari puluhan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di kampus saya hanya segelintir orang yang mendatangi diskusi-diskusi soal Pram? Apakah rumitnya birokrasi di kampus sangat mempengaruhi mereka? Saya rasa ada banyak faktor.

Katakan saja, karya-karya Pram banyak memuat unsur politis dan ideologi tertentu yang membuat mahasiswa sukar bersinggungan dengan hal itu. Pertanyaannya, memang di dunia ini apa yang tidak politik? Sejak manusia hidup dan saling berkomunikasi dengan satu sama lain, bukankah itu termasuk politik juga. Bahkan, gagasan ini dituliskan oleh Pram dalam bentuk yang lebih sederhana.

“Bahwa seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya itu adalah perbuatan politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak bisa lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan umat manusia.”

Kutipan tersebut saya ambil dari buku Kamus Pramoedya Ananta Toer karya Koesalah Soebagyo Toer. Kutipan ini pula yang mengubah pandangan saya tentang apa itu sastra. Lambat laun, saya mulai memahami konteks sastra lebih luas. Tidak seperti yang saya ceritakan di awal tadi.

Kembali pada topik, mengapa Pram jarang diajarkan di sekolah-sekolah. Saya menemukan sebuah artikel karya Max Lane, salah satu orang yang  menerjemahkan karya-karya Pram asal Australia. Ia menyinggung soal ketakutan negara terhadap karya-karya Pram apabila diajarkan di sekolah. Dirinya mengatakan bahwa dengan mempelajari sastra, rakyat akan menjadi tahu tentang perlawanan dan sejarah bangsanya dulu. Meskipun pada akhirnya, negara dan kurikulum pendidikannya yang baru merekomendasikan beberapa karya Pram untuk masuk ke dalam pembelajaran sekolah.

Apakah permasalahan selesai begitu saja? Oh, tentu tidak. Beberapa bulan lalu, saya sempat membaca beberapa artikel di dalam Web Badan Bahasa. Judul artikelnya pun tak kalah menggelitik “Mengapa Sastra di Sekolah Belum Pendagogis?” Pada intinya artikel tersebut mengurai betapa kompleksnya pengajaran sastra di sekolah-sekolah. Terutama ditinjau dari aspek mahasiswa dan gurunya. Lalu, di dalam artikel tersebut menyebutkan sebuah data bahwa tak sampai 0,5 persen dari ribuan guru Bahasa Indonesia yang pernah membaca Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Entah, sampel ini diambil berdasarkan apa kualifikasinya. Jika memang yang terjadi di lapangan demikian, bukankah angka ini patut menjadi perhatian bersama?

Tentu saja, saya mencoba tetap optimis bagaimana pun juga kondisinya! Saya hanya tak bisa membayangkan. Jika kelak, Pram tak pernah lagi dibicarakan. Saya juga berharap ada kelas semacam Membaca Pram yang dulu pernah diadakan oleh Kang Putu. Agar nama Pram tak berakhir hanya sebatas “Seorang penulis besar asal Indonesia”.

 

 

Penulis : Radit Bayu

Editor : Sabrina Gita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *