
Semarang, 22 Juli 2026. Jateng Guyub yang tergabung dari perwakilan 28 kabupaten Jawa Tengah serta berbagai jaringan kolektif Semarang menggelar aksi solidaritas tepatnya di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah.
Aksi ini bergerak atas keresahan masyarakat Jawa Tengah akan darurat ekonomi yang saat ini mereka rasakan. Diantaranya polemik yang terjadi yaitu, kenaikan harga kebutuhan pokok, kerusakan lingkungan dan perampasan ruang hidup, PHK massal dan upah murah, perampasan tanah petani, kriminalisasi rakyat, hingga permasalahan akses pendidikan. Tidak hanya itu, aksi ini merupakan bentuk solidaritas masyarakat Jawa Tengah dalam menagih Janji Gubernur yaitu Ahmad Lutfi. Adapun tajuk “Nagih sing Janjine Ngopeni” merupakan salah satu suara tagihan yang mereka gaungkan.
Haikal, salah satu bagian LBH Semarang menyebutkan alasan aksi ini dilakukan selama tiga hari yaitu untuk mendesak pernyataan sikap dari gubernur Jawa Tengah atas polemik yang tengah terjadi saat ini.
“Masih tetap berjalan untuk mendesak sikap dari gubernur konkretnya akan seperti apa statement dia hari ini, mungkin penyampaian besok akan statementnya seperti apa.”
Salah satu tuntutan yang mendominasi pada aksi ini yaitu menghentikan kriminalisasi terhadap petani dan pejuang lingkungan di Jateng, pasalnya terdapat 16 petani yang mendapat kriminalisasi dan intimidasi. Joko Prianto selaku perwakilan koordinator masyarakat Rembang, menyampaikan keluhannya terhadap keadaan ini.
“Ya kami melihat memang ini ya, kita ini berjuang untuk kelestarian lingkungan ini satu bentuk kecintaan negara dan bangsa ini, tetapi apa yang kita dapat justru kita dibungkam, kita dikriminalisasi,” ungkapnya.
Aksi ini dimulai dari pukul 14.00 WIB dengan rentetan berbagai orasi dan pernyataan sikap masing-masing daerah. Kemudian sekitar pukul 15.00 WIB dilanjutkan dengan prosesi “Nyiweran” oleh salah satu perwakilan warga Jawa Tengah, yang diistilahkan untuk membersihkan segala bentuk ”Kedzaliman”. Prosesi ini dilakukan dengan membakar dupa lalu berjalan mengelilingi Kantor gubernur sembari diiringi tembang, prosesi dilanjut dengan tabur bunga sebagai simbolik Kebersihan.
Haikal kembali menyampaikan harapannya terhadap aksi yang telah dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah yaitu adanya tindak lanjut dari Gubernur untuk segera membahas dan mendapatkan jalan keluar dari polemik-polemik yang ada.
“Kalau aksi hari ini tuntutan kita tersampaikan semua ke gubernuran gitu, dan untuk besok mudah-mudahan bisa, tuntutan-tuntutan itu sudah di draft gitu sama gubernur dan dibahas,” tuturnya.
Melalui aksi solidaritas ini, Jateng Guyub berharap Gubernur Jawa Tengah segera membuka ruang dialog serta mengambil langkah nyata untuk menindaklanjuti berbagai persoalan yang dinilai semakin membebani kehidupan Masyarakat.
Penulis : Dhea Gayatri
Editor : Syasi Julia