Gencar Pembangunan, Minim Parkiran

 

Suara deru motor bercampur klakson terdengar riuh di halaman Gedung Utama Universitas PGRI Semarang (UPGRIS). Mahasiswa yang baru datang sibuk mencari celah untuk memarkirkan kendaraannya. Sayangnya, celah itu semakin sulit ditemukan. Sebagian motor dipaksa berhimpitan, sebagian lain justru diparkir melintang, menutup jalur keluar. Pemandangan serupa juga bisa ditemui di Gedung Pusat dan area Kampus 4. Ketiga titik tersebut sama-sama menjadi tempat padat dengan aktivitas mahasiswa.

Kondisi kacau itu kini tak hanya dirasakan langsung, tetapi juga terdokumentai di dunia maya. Sebuah akun Instagram anonim dengan username @parkir_upgris konsisten mengunggah video-video parkir aneh mahasiswa UPGRIS, mulai dari motor yang parkir berhimpitan, parkir yang menutupi jalur pejalan kaki, hingga yang menutupi akses keluar masuk parkiran.

Salah satu unggahan mereka pada 16 Juni 2025 bahkan sempat viral. Video yang menampilkan motor diparkir tepat pada akses keluar masuk Gedung Baru itu ditonton hingga 14 ribu kali. Dalam hitungan hari unggahan tersebut menjadi perbincangan. Video tersebut berhasil membuat mahasiswa kesal, heran, hingga menjadikannya bahan lelucon.

“Akun itu bagus sih. Video-video di situ memang menunjukkan kualitas parkir mahasiswa kita. Namun, jika dipikir lagi, sebenarnya masalah utamanya adalah kekurangan lahan parkir. Itu yang miris,” ujar Dyas, mahasiswa arsitektur yang menanggapi keberadaan akun Instagram @parkir_upgris.

Masalah parkir bukan hal baru di UPGRIS. Setiap awal tahun ajaran, kehadiran mahasiswa baru menambah volume kendaraan di area kampus. Seperti pada tahun ini, momen itu terasa semakin dekat bersamaan dengan digelarnya Pekan Orientasi Mahasiswa Baru (POEMA). Ribuan mahasiswa baru akan resmi menjejakan kaki di kampus, membawa serta kendaraan mereka, dan menambah panjang daftar cerita soal sulitnya mencari tempat parkir.

“Kalau sekarang saja sudah susah untuk cari parkir, bagaimana nanti pas POEMA dan setelahnya” uangkap Aldo mahasiswa teknologi pangan.

Kondisi ini semakin pelik dengan pembangunan yang terjadi di area Kampus 4. Gerbang Kampus 4 dipermegah, sementara area parkir P2 yang sebelumnya Menampung banyak kendaraan justru dirombak. Alih-alih diperluas, lahan parkir kini kian menyempit karena sebagian ruang dialihfungsikan menjadi bangunan baru.

“Ruang yang seharusnya jadi parkiran malah dialih fungsikan jadi gudang, kan tambah sempit ya. Sudah begitu, bukannya membangun parkiran kok malah membangun gerbang dengan tembok-tembok ga jelas itu,” kata Ilham, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI).

Alhasil, mahasiswa harus berebut ruang parkir di antara pembangunan yang gencar. Gedung semakin megah, tapi lahan untuk sekadar memarkirkan kendaraan kian terpinggirkan.

Lembaga Pers Mahasiswa Vokal telah mencoba menghubungi pihak kampus untuk mengonfirmasi persoalan ini, khususnya kepada Wakil Rektor II yang membidangi fasilitas kampus. Surat wawancara telah dilayangkan sejak Senin, 22 Juni 2025. Namun hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pihak kampus.

Ketidakhadiran suara dari pihak kampus membuat mahasiswa lebih banyak bersuara di ruang-ruang alternatif mahasiswa seperti sosial media atau forum mahasiswa. Bagi sebagian orang, akun @parkir_upgris memang jadi hiburan. Namun bagi banyak mahasiswa lainnya, akun itu adalah cermin dari masalah nyata, tentang ruang parkir UPGRIS yang semakin sesak, terhimpit pembangunan, dan tak terkendali.

Entah sampai kapan mahasiswa harus berdesakan di antara motor dan mobil yang semrawut. Untuk sementara, @parkir_upgris seolah menjadi arsip ketidak beraturan parkir yang ada, sekaligus menjadi pengingat bahwa ruang kampus bukan hanya soal memperindah gerbang, tapi juga soal memberi ruang parkir yang nyaman untuk mahasiswanya.

 

Penulis: Rizqho Aji Prayoga

Reporter: Andika Setya

Editor: Sabrina Gita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *