
Sumiati yang biasanya dipanggil “Yu Sumi” lahir pada tahun 1970-an yang kini usianya sekitar 55 tahun. Seorang ibu rumah tangga, petani, dan aktivis dari Pale, Pundenrejo, Pati. Bermula dari seorang buyutnya bernama Mbah Duyod yang sudah menggarap lahan yang diurus secara turun-temurun lalu diteruskan oleh ayahnya. Akan tetapi dikarenakan ayahnya sudah lanjut usia maka dilanjutkan oleh Yu Sumi sampai terjadinya perampasan lahan pertanian oleh PT LPI yang hingga sekarang belum ada titik terang. Yu Sumi memiliki dua anak Perempuan dan tiga cucu. Ia tinggal dengan dengan anak-anaknya serta cucu-cucunya, dan sangat peduli dengan kesejahteraan mereka. Yu Sumi dikenal sebagai ibu yang kuat dan gigih dalam memperjuangkan hak-hak keluarganya dan masyarakat sekitarnya.
Yu Sumi dan Germapun
Yu Sumi memulai perjuangannya dari Germapun (Gerakan Masyarakat Petani Pundenrejo) pada tahun 2000-an. Sebagai pejuang wanita yang menurunkan perjuangan dari ayahnya atas perampasan tanah terhadap masyarakat Pundenrejo. Menurutnya menjadi pejuang adalah keharusan baginya yang tidak pernah berhenti sampai masyarakat benar-benar telah mendapatkan tanahnya kembali dan mendapatkan hak-haknya. Yu Sumi memiliki alasan kuat mengapa dia tidak menyerah, serta dukungan yang terus diberikan dari keluarganya membuat dia percaya diri dan tidak pantang menyerah.
“Itu bukan tanah saja, kalau Yu Sumi ya, perjuangan keluarga, ekonomi itu pertama, kedua perjuangan anak, anak-anak saya sudah ditinggal-tinggal, padahal anak saya punya anak kecil. Gimana, bayangkan sedangkan Yu Sumi audiensi, mediasi, kesana-kemari, belum ada titik temu, kalau anak saya merasa kesel, sedangkan ibu saya berjuang kaya gitu kok belum ada titik temu,” ujar Yu Sumi.
Kenangan Masa Kecil yang Indah Masih Membekas
Sejak kecil Yu Sumi sudah terbiasa dengan pertanian, pada saat bapak dan ibunya ke sawah Yu Sumi sering membawakan bekal sederhana namun mengesankan, menurutnya kacang pajang dan sambal itu sudah nikmat. Selain itu, pada waktu pagi ia menjaga tanaman dari burung yang memakan padi dengan mengusir burung sambil berteriak “Woi, Woi, Woi!”. Di sawah terdapat sumber mata air yang sering Ia pakai bersama teman-temannya untuk mandi sebelum berangkat sekolah. Lalu setelah sepulang sekolah dirinya kembali lagi ke sawah untuk mencabuti rumput dan menjaga padi dari burung. Membantu orang tua disawah adalah kebiasaan sehari-harinya, tidak lupa bahwa dirinya suka mencari “tutu” untuk dimasak, dari kenangan itulah yang membuat dirinya menyadari bahwa menjadi petani sama dengan menjadi pejuang yang harus terus berjuang.
Perlawanan Yu Sumi dalam Menghadapi Premanisme
Seperti yang sudah kita tahu bahwa dalam kasus PT LPI melawan Warga Pundenrejo, tindakan premanisme sudah menjadi makanan basi yang terus dilemparkan agar semangat perlawanan kian meredup. Perjuangan Yu Sumi dalam membersamai Germapun sudah 25 tahunan lalu menjadi lebih aktif pada tahun 2020-an pada waktu pandemi. Dikarenakan pengeklaiman, pengusikan, pengintimidasian dan perlakuan premanisme dari pihak PT LPI semakin lama semakin menjadi. Dalam hal ini membuat Yu Sumi menjadi “penjaga” istilahnya di Pundenrejo. Menjadi penjaga tidak mudah seperti yang dibayangkan, penjaga berarti tidak pernah gentar untuk protes atas ketidakadilan. Dalam perjalanannya, sewaktu-waktu pernah menyebabkan Yu Sumi stress, takut dan susah tidur dimana setiap paginya setelah memasak dirinya harus menghadapi para preman-preman tersebut.
Seperti pada peristiwa di bulan puasa lalu saat dirinya menginap di sebuah aup-aupan. Dua malam sudah ada orang yang mengintimidasi, saat waktu sahur dirinya pulang ke rumah, kemudian dirinya kembali jam 4 pagi ia menemui bahwa aup-aupan itu sudah dirobohkan. Dengan bantuan psikolog dari Komnas HAM dan lembaga lain yang membantu, Yu Sumi dapat bangkit kembali dari masalah kesehatan psikis dan mentalnya. Keluarga yang merasa iba melihatnya menyuruh Ia untuk menyudahi perjuangannya akan tetapi Yu Sumi tetap teguh dan tak gentar dalam perjuangannya.
“Kadang kan… aku kan mundur, aku gak bisa mundur. Aku mundur lah, naik bareng-bareng bersama-sama, mundur bersama-sama. Kalau aku disuruh mundur sendiri, aku gak mundur. Aku harus berjuang sampai selesai, sampai selesai, sampai menang, sampai sekarang,” ucap Yu Sumi penuh semangat.
Dengan pengalaman dan semangat yang dimiliki, Yusumi adalah contoh nyata dari seorang perempuan yang kuat dan gigih dalam memperjuangkan hak-haknya dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya untuk anak cucu di masa depan. Ia adalah inspirasi bagi masyarakat sekitarnya dan dapat menjadi contoh bagi generasi muda untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Harapan Yu Sumi adalah agar tanah yang diambil oleh PT LPI dapat dikembalikan kepada warga petani Pundenrejo dan digunakan untuk kepentingan mereka. Ia berharap agar perjuangannya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan keluarganya dan masyarakat sekitarnya.
Penulis: Safana Berliana
Editor: Ika Nugraha