Fakta Unik dan Menarik tentang Klenteng Tri Noto Buko Buwono

Sejarah Klenteng Tri Noto Buko Buwono masih ada kaitannya dengan budaya tionghoa dan budaya kejawen yang dibuktikan dengan adanya Keris yang bernama Eyang Daru Dono. Jadi sebelum adanya bangunan klenteng ini dahulu tempat ini adalah hutan lebat “alas” dalam bahasa jawa, alas atau hutan ini berupa pepohonan dan alang-alang yang rimbun. Dihutan tersebut terdapat dua pohon beringin yang sangat tua yang ditunggu oleh Eyang Daru Dono.

Singkat cerita pada tahun 1960-an bangsa Tionghoa mulai membangun tempat peribadatan. Dalam proses pembersihan oleh bangsa Tionghoa terdapat dua pohon beringin yang memiliki penunggu. Penunggu itu yang disebut Eyang Daru Dono. Saat pembersihan oleh bangsa Tionghoa mereka mencoba berbagai cara untuk memindahkan Eyang Daru Dono tetapi, Eyang Daru Dono tidak ingin pindah dari tempat tersebut karena sudah tugasnya untuk melindungi area tersebut. Kemudian, terjadi kesepakatan dan pembangunan Klenteng tetap dilanjutkan dan Eyang Daru Dono tetap berada di area tersebut dengan bukti keris Eyang Daru Dono.

Bangunan klenteng Tri Noto Buko Buwono ini diresmikan pada 20 Agustus 2009 Walikota Semarang saat itu, Bibit Waluyo dibuka sebagai tempat peribadatan hingga saat ini menurut Kongco (orang yang merawat klenteng). 

Selain dari sejarahnya yang unik, karena terdapat unsur kejawennya. Keunikan lainnya di dalam Klenteng Tri Noto Buko Buwono terdapat 3 patung Budha serta adanya 3 dewa pengadilan yang tugasnya mencatat amal baik dan buruk. Ketiga dewa tersebut yang akan memandu perjalanan kematian Tjo Tjo yaitu Joe Tjioe, Pan Koe, dan Swie Djien 

Di satu sisi sebagai tempat ibadah, klenteng ini juga dapat dijadikan sebagai tempat pernikahan bagi umat Tridharma.

Adapun ritus tertentu untuk klenteng merawat Tri Noto Buko. Salah satunya, pengurus klenteng akan menyajikan teh, buah, dan lokjay di hari besar. Sedangkan untuk membersihkan Kangcho Makcho (dewa-dewa) ada terdapat di hari tertentu. Misalnya, seminggu sebelum imlek sudah harus bersih.

Jika dalam beribadah juga ada yang unik yaitu harus menyajikan 5 buah yang berbeda-beda seperti pear, jeruk, apel, buah naga, dan manggis. Manggis sendiri merupakan buah kesukaan dewa. Filosofi warna merah dan kuning selalu identik dengan budaya tionghoa. Warna merah dan kuning mempunyai makna yaitu kuning berarti kemakmuran dan kesetiaan untuk berkumpul bersama dan menjalin persaudaraan sedangkan warna merah identik dengan keberanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *