Mengenang Pemberontakan PETA di Blitar Tahun 1945

Per tanggal 14 Februari, tanah air kita memperingati salah satu hari bersejarah yang menjadi pemantik perjuangan bangsa menuju kemerdekaan. Disaat Jepang lengah pada Perang Dunia II (1939/1945), Pasukan Pembela Tanah Air (PETA) memanfaatkan momentum untuk merencanakan pemberontakan. Dari peristiwa ini pepatah “Senjata Makan Tuan” benar adanya. PETA yang awalnya dibentuk untuk membantu Jepang berbalik mennyerang koloni Jepang. Selain itu kita juga mengenal sosok Soeprijadi atau biasa dikenal dengan Supriyadi, anggota PETA yang memimpin pemberontakan ini. Di bawah komando pria yang lahir di Trenggalek ini pemberontakan PETA meletus, walau pada akhirnya bisa dibungkam oleh Jepang kembali. Beberapa tentara PETA yang terlibat diadili di Jakarta, sementara Supriyadi menghilang dan jejaknya tidak diketahui hingga sekarang.

Awal Mula Pembentukan PETA

Sejarah perjalanan kemerdekaan Indonesia bukan hanya bangsa Indonesia saja yang berjuang, tapi ada kontribusi Jepang dalam membantu dengan membentuk pasukan khusus yaitu PETA. Pembela tanah Air (PETA) adalah tentara sukarela yang dibentuk pada masa Jepang. Panglima Tentara Ke-16 Kumakici Harada dengan mengeluarkan peraturan Osamu Seiri No. 44 berisi tentang pembentukan PETA. Peraturan tersebut dikeluarkan pada tanggal 3 Oktober 1943 di Bogor, Jawa Barat oleh Guenseikan seorang pemimpin tertinggi pemerintahan militer Jepang yang berkedudukan di Jakarta.

Pembentukan PETA dilatarbelakangi oleh kondisi pasukan Jepang yang semakin berkurang selama perang Pasifik dan membutuhkan tambahan pasukan untuk mengantisipasi serangan Sekutu di Jawa dan Sumatra. PETA menjadi tentara territorial untuk mempertahankan Jawa, Bali, dan Sumatra oleh Jepang. Bukan hanya itu saja, pembentukan pasukan ini juga didasari oleh keinginan golongan nasionalis agar pemuda Indonesia memperoleh pelatihan militer dan dilibatkan dalam perang melawan Sekutu. Bagi bangsa Indonesia, PETA bertujuan untuk membangkitkan kobaran semangat juang para pemuda yang mendapat pelatihan militer dan sebagai persiapan kekuatan militer apabila Indonesia sewaktu-waktu memproklamirkan kemerdekaan.

Diketahui bahwa Pejabat Angkatan Darat ke-16 Jepang membuat rancangan PETA sebagai pasukan gerilya terdesentralisasi akan digunakan jika sekutu menyerang Jawa. Pasukan yang berasal dari PETA akan ditempatkan di dareah asalnya dan akan digunakan untuk pertahanan lokal. Pertempuran PETA yang akan dilakukan hanya dengan menyusun Tingkat Batalyon atau Daidan, tiap Batalyon beranggotakan sekitar 500-600 orang. Penyusunan struktur kepangkatan PETA didasarkan pada jabatan. Anggota PETA memakai seragam dengan model yang sama seperti yang dikenakan oleh tantara Jepang. Walaupun PETA dibentuk oleh Jepang, pasukan ini dipimpin oleh para perwira Indonesia sedangkan Perwira Jepang bertugas sebagai pelatih atau penasihat.

Proses perekrutan anggota PETA dilakukan oleh Bappen (Dinas Intel Tentara Ke-16). Para pemuda usia 18-25 tahun direkrut dan diberi pelatihan militer yang menekankan solidaritas, disiplin, kekuatan fisik dan retorika patriotisme heroik. Sebagian besar anggota PETA berasal dari kelompok terpelajar. Pelatihan PETA pertama kali dilakukan pada tanggal 15 Oktober 1943 di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bogor yang diberi nama Bo-ei Giyugun Kanbu Renseitai.

Mengapa PETA Memberontak?

Beberapa faktor yang memicu pemberontakan PETA di Blitar antara lain: Peninjauan oleh Jepang; Anggota PETA sering kali dipaksa untuk melakukan tugas yang berat dan tidak manusiawi, lalu Perlakuan kejam dari tentara Jepang membuat mereka merasa tertekan dan tidak dihargai. Selain eksploitasi sumber daya dan tenaga kerja, beban pajak yang tinggi, perampasan hasil pertanian, perlakuan Jepang pada kaum wanita yang dijadikan Fujinkai, dan perlakuan diskriminasi dimana prajurit pribumi atau orang Indonesia wajib memberi hormat kepada tentara Jepang sekalipun pangkatnya lebih rendah. Kecewa dengan perlakuan koloni Jepang yang semena-mena kejamnya, pada 14 Februari 1945 pemberontakan meletus di Blitar, Jawa Timur. Shodanco Supriyadi memimpin langsung, mereka melakukan serangkaian aksi protes dan serangan terhadap pasukan Jepang. Anggota PETA menyerang markas-markas tentara Jepang dan melakukan sabotase terhadap infrastruktur yang digunakan oleh Jepang.

Kekalahan Pemberontakan PETA

Pemberontakan PETA memang berhasil merebut beberapa persenjataan dan menguasai beberapa kota. Akan tetapi, karena perlawanan yang belum terorganisir dengan baik dan kurangnya dukungan dari pasukan PETA di daerah lain, Jepang bisa dengan mudah membungkam pemberontakan tersebut. Jepang mulai mengerahkan pasukan untuk mencari dan menyisir pasukan yang mendukung Supriyadi untuk ditangkap, diadili, bahkan dihukum mati. Pelarian Supriyadi masih menjadi misteri bagi sejarah Indonesia.

Dampak Pemberontakan PETA Bagi Generasi Selanjutnya

Dampak pemberontakan PETA di Blitar bisa dibilang dapat menciptakan gelombang semangat juang yang menggerakkan rakyat Indonesia menuju kemerdekaan. Meskipun mengalami kegagalan dalam jangka pendek, peristiwa ini menjadi salah satu hal yang tidak penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan. Peristiwa pemberontakan tersebut juga meningkatkan kesadaran politik di kalangan rakyat Indonesia tentang pentingnya organisasi dan persatuan dalam menghadapi penjajahan. Banyak anggota PETA yang menyadari bahwa perjuangan mereka tidak hanya untuk kepentingan militer, tetapi juga untuk hak-hak rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, Banyak anggota PETA yang akhirnya beralih menjadi pejuang kemerdekaan setelah Jepang kalah saat perang dunia II. PETA juga bisa dibilang menjadi riwayat pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan cikal bakal dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Beberapa tokoh yang dilahirkan dari PETA yaitu mantan presiden Jenderal Besar TNI Soeharto dan Jenderal Besar TNI Soedirman. Mereka berkontribusi dalam membangun TNI dan memperkuat pertahanan negara setelah Indonesia merdeka. Warisan PETA juga dapat dimaknai sebagai semangat nasionalisme dan perjuangan yang diwariskan kepada generasi selanjutnya. Jangan biarkan segala bentuk penjajahan ada dalam diri kita!

Selamat Memperingati Hari Pemberontakan PETA!

 

 

 

Penulis: Naning Rubi

Editor: Ika Nugrahaning Saputri

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *