Ruang Raung: Seni sebagai Bahasa Perlawanan

Sabtu malam, 24 Mei 2026, halaman Grile Temcy (Bagel’s Club) Semarang dipenuhi oleh ratusan orang dari berbagai latar belakang. Mulai dari aktivis, mahasiswa, seniman, musisi, hingga komunitas masyarakat peduli lingkungan. Mereka semua hadir dengan tujuan yang sama yaitu untuk merebut kembali ruang dan waktu yang selama ini dirasa semakin sempit. Acara yang digagas oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang ini diberi nama ”Ruang Raung”, sebuah tagline yang sekaligus menjadi semangat untuk bersuara, sekaligus membuktikan bahwa berteriak tidak selalu harus dengan demo di jalanan.

Tema besar yang diusung malam itu adalah ”Re-Klaim Ruang Waktu Sipil”. Tata, salah satu representan dari Baratuan yang turut hadir sebagai penanggap dalam diskusi. Ia menjelaskan bahwa tema ini lahir dari kegelisahan kolektif. Menurutnya, masyarakat sipil saat ini mengalami dua penyempitan sekaligus, dari mulai penyempitan ruang untuk berpendapat dan berekspresi, hingga penyempitan waktu akibat berbagai tekanan struktural yang menyita perhatian dan energi.

Pembeda acara Ruang Raung dengan acara gigs pada umumnya adalah rangkaian acara yang disusun secara berlapis. Sebelum band-band seperti Kendeng Squad, Ejakulator, dan SukaTani naik panggung, sore harinya terlebih dahulu diisi dengan rilis dan diskusi jurnal kritis LBH Semarang yang memuat berbagai tulisan tentang permasalahan hukum dan sosial di Jawa Tengah. Diskusi publik ini tidak hanya menjadi ajang menuangkan pemikiran, tetapi juga menjadi ruang bertukar cerita dan perspektif antarindividu yang berasal dari daerah dan komunitas yang berbeda.

Bagus Aji, mahasiswa UNNES asal Pati yang datang karena kedekatan dengan komunitas Jaringan Masyarakat Peduli Kendeng (JMPPK), mengaku justru paling terkesan dengan format acara yang menggabungkan diskusi dan musik. “Yang bagus adalah ada ruang berpikir, ruang kritis buat kita tahu kondisi apa yang sedang terjadi. Setelah berpikir bareng, akhirnya ditutup dengan Gigs, dan itu tumpah ruah banget,” ungkapnya.

Sementara itu, Opam Budi, menegaskan bahwa kehadirannya juga didorong oleh kecintaan pada seni lokal. Bagi Opam, momen seperti ini adalah cara untuk membuktikan bahwa skena punk dan ruang gerakan sosial bisa saling mengisi.

Tata, yang malam itu juga tampil sebagai salah satu penanggap diskusi, membawa analisis yang lebih tajam. Ia menyebut bahwa penyempitan ruang dan waktu bukan hanya soal kebijakan yang represif, melainkan juga soal bagaimana sistem ekonomi kapitalis merambah ke ruang-ruang paling personal sekalipun. Mulai dari pilihan untuk “sekadar ngopi” bersama teman sebagai bentuk pemulihan dari stres, hingga keputusan untuk jatuh cinta dan membangun hubungan, semuanya kini tak lepas dari kalkulasi ekonomi.

Ia juga menyoroti bagaimana praktik serangan fajar dalam pemilu menjadi bukti nyata dari penyempitan ruang berpikir. Ketika seseorang menerima uang seratus ribu rupiah karena tidak punya pilihan lain untuk menjamin makan besok, maka itulah bentuk paling konkret dari bagaimana kemiskinan merampas kebebasan berpikir seseorang. “Orang-orang itu sudah tahu itu salah, tapi kondisi yang diciptakan sistem membuat mereka tidak punya pilihan,” tegasnya.

Salah satu pesan paling kuat yang mengalir sepanjang malam itu adalah bahwa perlawanan tidak harus selalu berbentuk demonstrasi di jalanan. Tata mengingatkan bahwa di tengah ruang yang semakin disempitkan, justru kita perlu menciptakan ruang baru yang lebih beragam dan inklusif. Malam itu, keberagaman itu terlihat nyata, ada yang berjuang lewat tulisan akademik di jurnal, ada yang lewat kolektif ekonomi, ada yang lewat puisi, ada yang lewat musik.

Dari sisi informasi, Bagus juga mencatat bahwa banyak calon peserta yang kebingungan mencari lokasi, dan tidak sedikit yang menemukan tautan registrasi sudah tertutup sebelum mereka mendaftar. Ia berharap LBH Semarang bisa menyebarkan informasi lebih luas, tidak hanya terpusat di wilayah Semarang, tetapi juga menjangkau daerah-daerah di sekitarnya yang selama ini belum banyak terpapar isu-isu serupa.

Ruang Raung mungkin hanya berlangsung satu malam. Tapi percakapan yang lahir dari sana, semangat yang tersulut, dan kesadaran yang tumbuh perlahan akan terus hidup lebih lama dari sekedar nostalgia sebuah gigs. Karena memang begitulah cara sebuah ruang perlawanan bekerja: bukan dengan ledakan yang cepat padam, tapi dengan bara yang dijaga bersama.

 

Penulis:  Pradifta Yuliana

Editor:  Syasi Julia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *