Djawahir Muhammad: Penghidup Kesenian Jawa Tengah

Eling-eling sira manungso ora suwe nggonmu urip

Malakikat jurupati plirak-plirik marang sira

Sepenggal bait dari puisi berjudul “Semarang Surga yang Hilang” karya Djawahir Muhammad mengingatkan bahwasannya kehidupan di dunia hanya sementara dan penuh dengan pengawasan.

Dari sekian  banyaknya budayawan, seniman, dan sejarawan di kota dengan sebutan atlas ini, nama Djawahir Muhammad menjadi salah satu yang menarik untuk dikulik. Sebutannya sebagai “aktivis kesenian”, penulis, politikus, serta pengamat sosial yang kritis. Riwayat hidupnya mungkin berhenti pada tahun 2022, namun karya-karyanya masih dikenang dan lantang bersuara.

Pendiri Teater Kuncup dan Teater Aktor Studio

Drs. Djawahir Muhammad, M.Pd, lahir di Semarang, pada 14 Januari 1954. Semasa muda ia memanfaatkan waktunya di dunia kesenian utamanya sastra dan teater. Namanya mulai dikenal melalui karya sastranya berupa puisi, cerita pendek, dan esai yang diunggah di sejumlah surat kabar nasional. Sedangkan diranah teater, pada tahun 1970-an ia mendirikan Teater Kuncup, dimana selain bergerak di bidang teater, tetapi juga sastra. Teater ini sering menyelenggarakan lomba baca puisi dengan tajuk ”Semarang dalam Sajak”. Puisi-puisi yang dibacakan bertema tentang Kota Semarang dengan segenap problematikanya. Selain Teater Kuncup tepat usianya beranjak 31 tahun, ia mendirikan Teater Aktor Studio yang aktivitasnya serupa dengan Teater Kuncup. Selain sebagai seniman, Djawahir juga pernah berkecimpung dalam ranah organisasi, salah satunya di organisasi Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) sebagai sekretaris umum dan sempat menjabat ketua bidang kreativitas.

Karya-Karya Djawahir Muhammad

Karya yang dihasilkan Djawahir terdiri dari skenario drama, puisi, cerpen, dan esai yang sudah dipublikasikan di berbagai surat kabar di Indonesia. Buku yang sudah diterbitkan yaitu “Semarang Sepanjang Jalan Kenangan” (1996) dan “Membela Semarang” (2011). Selain itu Djawahir juga menjadi penulis teatp rubrik Gambang Semarang di Jawa Pos edisi  Radar Semarang.

Sempat Bergabung dalam Dewan Kesenian Jawa Tengah

Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) merupakan organisasi mitra kerja Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 430/78/1993 tanggal 3 Agustus 1993. Ia bersama Dr. Bambang Sadono S.H., M.H., Drs. Soetrisman, M.Sc., Prof. Ir. Eko Budihardjo, M.Sc, Drs. Yudiono K.S., S.U., dan Prof. Drs. Darmanto Jatman, S.U., merintis dan mendirikan organisasi ini guna memberikan ruang bicara kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengenai kesenian di Provinsi Jawa Tengah. Program kerja awal dari DKJT adalah menjadi wadah untuk berbagai kalangan seniman dan budayawan untuk membuktikan prestasi yang dapat menumbuhkan simpati dan dukungan berbagai pihak.  Oleh karena itu, sampai dengan Musyawarah Daerah DKJT, 27-28 November 1996 di Balaikota Semarang belum membahas program pembangunan gedung kesenian, dengan alasan lebih mengutamakan program pembentukan Dewan Kesenian Daerah (DKD) di tingkat kabupaten/kota se-Jawa Tengah.

Karir Politik Djawahir Muhammad

Djawahir juga pernah tercatat pernah menjadi Anggota komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jateng dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Selain itu Dewan Evaluasi Kota (DEK) Jawa Tengah, anggota Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang, Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Tengah. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Museum Perkembangan Islam Masjid Agung Jawa Tengah dan Kepala Sanggar Batik Semarang 16, ketua Teater Kuncup, ketua Teater Aktor Studio, ketua yayasan Kreasi, Paguyuban Peminat Kebudayaan Semarang “Kembang Goyang”, Ketua Bidang Sosial Budaya SDM Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Kaligawe, dan Sekretaris Umum Biro Seni Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Golkar Jateng.

Djawahir Muhammad meninggal dunia di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND), Tembalang, Semarang. Pada kamis, 22 September 2022 pukul 20.20. Kalangan seniman di Semarang merasakan duka mendalam atas kepergian tokoh kesenian ini. Meskipun demikian, karyanya akan abadi dan jasanya akan selalu dikenang.

Penulis: Andika Setya Wardana/Amalia Rahma

Editor: Ika Nugrahaning Saputri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *