
Bagaimana jika seni pertunjukan musik, vokal, tari dan lawakan dari budaya Jawa dan Tionghoa disatukan? Itulah Gambang Semarang.
Sebagai Ibu Kota Jawa Tengah, Semarang dikenal sebagai kota dengan keragaman budaya yang unik. Sejak zaman kolonial, kota ini telah menjadi tempat percampuran berbagai budaya, termasuk Jawa, Tionghoa, Arab, dan Eropa. Perpaduan budaya tersebut melahirkan beragam tradisi dan seni lokal yang khas, salah satunya adalah Gambang Semarang.
Selain Gambang Semarang, kota ini juga punya tradisi lain seperti Dugderan, yaitu perayaan umat muslim dalam menyambut bulan Ramadhan. Serangkaian acara lengkap beserta kuliner khas seperti lumpia dan wingko babat yang juga dipengaruhi budaya Tionghoa. Sayangnya, dari sekian banyak tradisi yang ada, Gambang Semarang kini semakin jarang terdengar.
Mengenal Gambang Semarang
Gambang Semarang merupakan kesenian musik tradisional yang berkembang di kalangan masyarakat peranakan Tionghoa di Semarang pada awal abad ke-20. Kesenian ini memiliki keterkaitan erat dengan Gambang Kromong dari Betawi, yang merupakan hasil perpaduan antara musik Jawa dan Tionghoa.
Dulu, Gambang Semarang sering dimainkan di acara perayaan atau pesta. Musiknya menggunakan alat seperti gambang (alat musik dari bilah kayu), kendang, gong, serta alat gesek seperti tehyan atau sukong. Lagu-lagunya ceria, liriknya sederhana, dan sering kali menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat Semarang dengan bahasa Jawa dan dialek khas setempat.
Gambang Semarang Sudah Jarang Diminati
Pada perkembangannya, Gambang Semarang mengalami penurunan. Dapat dikatakan kesenian ini hampir terlupakan, bahkan di kota kelahirannya sendiri. Kehidupan para seniman Gambang Semarang tidak terawat dengan baik. Apresiasi masyarakat terhadap Gambang Semarang tidak lagi sebesar dulu. Saat ini, Gambang Semarang sudah jarang diminati, terutama oleh anak muda. Kurangnya pemain baru membuat seni ini semakin sulit bertahan. Ditambah lagi, media jarang menampilkan Gambang Semarang, sehingga banyak orang bahkan tidak tahu kesenian ini masih ada.
Selera masyarakat yang terus berubah juga menjadi tantangan besar bagi pelestarian Gambang Semarang. Musik modern seperti pop dan K-pop lebih diminati oleh generasi muda, sementara musik tradisional semakin terpinggirkan. Padahal, beberapa komunitas seni masih berusaha melestarikannya dengan mengadakan pertunjukan di acara budaya dan festival. Sayangnya, upaya ini belum cukup untuk mengembalikan kejayaan Gambang Semarang.
Perlu Sinergitas dalam Melestarikan Gambang Semarang
Gambang Semarang adalah seni musik tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Kota Semarang. Namun, seni musik ini kini hampir hilang karena kurangnya regenerasi, minimnya dukungan, dan perubahan selera masyarakat. Jika tidak segera dilestarikan, Gambang Semarang bisa benar-benar punah dan hanya tinggal cerita. Oleh karena itu, perlu ada usaha dari berbagai pihak—baik pemerintah, komunitas seni, maupun masyarakat—untuk menghidupkan kembali Gambang Semarang.