
Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada tanggal 8 Maret setiap tahunnya merupakan momentum penting untuk memperingati perjuangan perempuan dalam mencapai kesetaraan gender. Sebagai peringatan Hari Perempuan Internasional tahun 2025, komunitas Barapuan (perkumpulan perempuan yang bercita-cita mewujudkan keadilan dan menghilangkan segala bentuk aneh) mengadakan acara tepatnya di TPQ “AL-FIRDAUS” Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat mulai dari anak-anak setempat, ibu-ibu pekerja dan ibu rumah tangga, segenap mahasiswa, hingga perwakilan Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI).
Tambakrejo merupakan kampung nelayan yang pernah mengalami penggusuran akibat Proyek normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT) Kota Semarang oleh Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana (BBWS) pada tahun 2018. Hasilnya sebanyak 97 Kepala Keluarga terpaksa pindah ke bawah flay over dan menjadi barak pengungsian kurang lebih 2 tahun. Kemudian, pada tanggal 21 februari 2021 mulai dibangun deretan rumah yang berukuran 6× 8 m oleh Pemerintah Kota Semarang tanpa adanya surat tanah, sebagai Hunian Sementara (Huntaran) selama 5 tahun. Dari kejadian kelam itu, warga mengalami trauma hingga enggan untuk menceritakan kembali. Acara ini mengusung tema “Bergerak Bersama Berdampak Bersama” karena untuk berdiskusi berbagai hal dan bisa terjun langsung ke desa Tambakrejo.
“Untuk membahas hal yang keliatan di sekitar mereka, kita bikin tema ini dan kita turun langsung ke tambakrejo itu harapan kita, kita bisa melakukan kegiatan yang nyampe ke masyarakatnya langsung jadi kita engga cuma ngomong dan berdiskusi aja tapi kita juga liat kondisi aktual di perempuan pesisir seperti apa”, ujar Tata selaku koordinator dari komunitas Barapuan.
Acara yang berlangsung menjelang buka puasa Ramadhan ini berisi berbagai macam kegiatan seperti lomba mewarnai untuk anak-anak, bazar pakaian, sesi diskusi bersama ibu-ibu nelayan di
Tambakrejo, buka bersama, hingga ditutup dengan sesi foto bersama. Ia juga menambahkan bahwa esensi dari peringatan IWD ini adalah untuk melihat fakta bahwa sebagian banyak perempuan belum hidup baik-baik saja atau untuk merefleksikan dan mengalikan apakah perempuan benar itu sudah mendapatkan haknya sebagai perempuan, mendapatkan keadilan dan kesetaraan.
Dalam acara tersebut, diadakan obral baju mulai dari harga Rp 3.000 hingga Rp 20.000,-, mayoritas pengunjung adalah ibu-ibu Kelurahan Tambakrejo. Selain itu, juga diadakan diskusi untuk lebih mengenal keseharian warga Kelurahan Tambakrejo. Salah satu warga menyatakan mengapa ia tertarik datang ke acara ini karena kesempatan untuk bisa menyuarakan isi hati mereka.
“Karna kawan-kawan pelajar itu bagi kami ibu rumah tangga itu harapan besar lah untuk mewujudkan sesuatu kehidupan, kehidupan yang sejahtera yang layak, karna pelajar ini bisa menjadi jembatan kami para ibu rumah tangga yang notabenya ikut jangkauan tangan koruptor mereka itu sangat sulit tanpa adanya bantuan dari kawan kawan seluruh pelajar untuk selalu mendampingi warga pesisir tambakrejo disini”, ujar Ibu Nur lailatul faziroh (40) selaku warga Tambakrejo.
Ia juga menambahkan bahwa banyak tantangan yang dihadapi warga desa Tambakrejo salah satunya adalah ekosistem dari mata pencaharian warga desa yang semakin punah, sehingga pendapatan mereka semakin berkurang,
“Untuk saya sebagai ibu rumah tangga juga sebagai istri nelayan memang penuh tantangan bukan hanya tantangan, tapi memang tantangan itu selalu datang karna kehidupan ekonomi juga dengan pendidikan yang harus kami usahakan untuk anak kami biar menjadi masa depan yang lebih baik untuk ini rumah tangga dan nelayan ini memang sulit karna nelayan sekarang itu memang tidak seperti penghasilannya memang berkurang karna kepunahan ekosistem dari laut sekarang ini ” dia menambahkan.
Acara Rembug Perempuan Pesisir ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap warga di Kelurahan Tambakrejo. Warga berharap dari adanya acara ini, perekonomian warga desa yang ada di kelurahan Tambakrejo bisa mencapai apa yang diharapkan dan mendapatkan kehidupan yang layak serta kesejahteraan bagi keluarga para nelayan.
Penulis: Halwa

Editor: Ika Nugraha