
- Krumunan masyarakat memadati halaman depan kantor Gubernur Jawa Tengah pada Selasa malam (25/3/2025). Mereka berkumpul untuk menyaksikan laga ke-7 Grup C putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026, di mana Tim Nasional Indonesia berhadapan dengan Bahrain. Layar besar yang dipasang di area terbuka menjadi pusat perhatian. Sementara para suporter duduk tanpa alas kaki, mengikuti pertandingan dengan penuh semangat.
Suasana di lokasi tidak hanya diwarnai euforia sepak bola, tetapi juga ekspresi keresahan atas situasi sosial dan politik yang tengah terjadi. Di antara sorak-sorai penonton, berbagai tulisan dan spanduk berisi pesan protes terbentang di sudut-sudut sekitar Gubernuran. Kalimat seperti “Cabut UU TNI”, “Gamma Never End Game”, dan “Kami Lelah dengan Kekerasan” terlihat jelas di beberapa titik. Selain itu, terdengar teriakan slogan menolak pengesahan Undang-Undang TNI yang dianggap berpotensi mengancam demokrasi, serta tuntutan keadilan atas kematian Gamma, siswa SMK Negeri 4 Semarang yang diduga menjadi korban kekerasan aparat.
Tanpa Koordinator, Semua Berhak Terlibat
Doni, salah satu peserta nobar, menegaskan bahwa acara ini berlangsung secara spontan tanpa ada pihak tertentu yang mengoordinir. Ia menyebutnya sebagai bentuk okupasi perkotaan, di mana masyarakat mengambil alih ruang publik sebagai tempat berekspresi secara kolektif.
“Semua orang yang datang di sini adalah pengkoordinir. Jadi acara ini tidak memiliki inisiator tunggal. Setiap orang berhak menentukan batas keterlibatannya masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, hadirnya berbagai bentuk protes dalam acara nobar ini bukanlah sesuatu yang mengganggu, melainkan bagian dari hak dalam menggunakan ruang publik.
“Kami semua memiliki hak untuk beraktivitas di ruang publik, termasuk menyuarakan suatu isu. Ini juga jadi penegas bahwa negara dan aparat harus terbiasa dengan hal-hal seperti ini,” imbuhnya.

Sepak Bola dan Suara Rakyat
Fathan, peserta lainnya, menganggap aksi protes yang berlangsung bersamaan dengan nobar ini sebagai hal yang wajar dan justru menunjukkan bahwa sepak bola tidak bisa terlepas dari kenyataan sosial.
“Kami di sini bukan hanya untuk mendukung Timnas, tapi juga menyuarakan keresahan kami. Sepak bola itu milik rakyat, begitu juga suara kami,” ujarnya.
Di sekitar area nobar, beberapa peserta memilih untuk berdiskusi secara santai di antara keramaian. Tidak ada orasi resmi maupun pembagian selebaran, hanya percakapan kecil yang menggema di sela-sela sorak-sorai mendukung Timnas.
Acara ini menjadi bukti bahwa ruang publik bukan hanya tempat hiburan dan perayaan, tetapi juga arena bagi masyarakat untuk mengungkapkan kegelisahan mereka. Ketika sebagian orang meninggalkan lokasi pertandingan usai, sebagian lainnya masih bertahan, terlibat dalam diskusi yang mengalir begitu saja. Di balik semangat mendukung Timnas, ada semangat lain yang terus menyala: perjuangan atas hak dan keadilan.
Penulis: Rizqho Prayoga
Reporter : Ardi
Editor: Sabrina Gita