
Minggu, (15/6/2025) tepat pukul 15.30 WIB, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang menggelar forum warga. Acara tersebut merupakan serangkaian Festival Rakyat “Weruh Punden” 2025 dengan tujuan temu jaringan Warga Pundenrejo x Solidaritas. Forum diikuti oleh Warga Pundenrejo yang berlokasi di rumah Yu Sulas salah satu warga Dusun Jering, Desa Pundenrejo. Kegiatan dilakukan untuk memperkuat jaringan solidaritas antar warga pundenrejo dan berpikir strategi kedepan sebagai bentuk antisipasi serta pertahanan warga Pundenrejo. Forum difasilitasi oleh Dika selaku Pendamping Hukum LBH Semarang, Adi dari Corong Api, Zaenal perwakilan Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) dan Alif Mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
Pertemuan dibuka oleh Dika (LBH) bersama Adi (Corong Api) dengan menanyakan keluh kesah dan perasaan yang ingin diutarakan selama konflik yang berlangsung dengan PT Laju Perdana Indah. Terdapat sedikit pemaparan dari Alif (Mahasiswa UIN Walisongo Semarang) dengan memberikan pandangan berdasarkan hasil penelitiannya tentang konflik agraria Petani Pundenrejo dengan PT. LPI. Selanjutnya, sedikit pemaparan dari Zaenal (YLBHI) yang memberikan pandangan terait konflik dan beberapa saran upaya seperti penguatan terhadap opinion legal.
Tanggapan dari beberapa warga muncul dengan menceritakan perasaan selama ini dalam meghadapi berbagai intimidasi dari pihak PT LPI. Keluhan warga yang digodok dalam forum ini adalah mengenai pelang PT. LPI di tanah sengketa. Menurut warga, perusahaan akan terus mengklaim tanah tersebut karena masih terdapat celah yang kuat. Tanah tersebut ditumbuhi tebu oleh perusahaan, dan meskipun dipanen atau dipangkas tebu tersebut tidak akan hilang seutuhnya. Sebab, tebu memiliki tunas yang akan selalu tumbuh. Upaya dalam menghadapi segala bentuk intimidasi adalah dengan penguatan solidaritas warga yang harus terus terjalin. Sehingga lambat laun akan terbentuk kekuatan solidaritas itu sendiri jika terjadi tindakan opresi dari pihak perusahaan.
“Solidaritas harus tetap terjalin, harus terus kuat ngoten. Untuk menghadapi tindakan dari PT. LPI seperti kemarin,” ujar Sarmin warga Pundenrejo.
Hal ini mendapat tanggapan dari warga lainnya. Bahwa masukan tersebut memang diperlukan akan tetapi faktanya masih terdapat beberapa warga yang tidak turut serta yang disebabkan oleh urusan domestik. Diskusi tentang strategi untuk menghadapi permasalahan ini dilanjut dengan memikirkan langkah untuk kedepannya.
Tanggapan lain muncul dari beberapa warga, diantaranya Lek Moh, Yu Sumi dan Yu Sulas. Tindakan pertahanan beberapa kali sudah dipikirkan, namun kembali lagi terkadang menemukan titik kelelahan karena belum kuatnya solidaritas antar warga. Sehingga retorika dan gemboran perlu direalisasikan agar tercapai progres,
“Kalau hanya diskusi saja, berpikir saja, ngomong saja nggak jalan-jalan ya selamanya kita gini terus. Kita mesti kompak,” tambah Lek Moh.
Kemudian Solidaritas Pakel, Tanasaghara turut memberikan dukungan kepada Warga Pundenrejo, bercerita tentang perjuangan Warga Pakel dengan PT Bumi Sari yang menurutnya memiliki kesamaan perjuangan dengan permasalahan yang sedang terjadi di Pundenrejo. Kawan-kawan Jawa Timur turut bersolidaritas dengan permasalahan yang dialami warga Pundenrejo dan memberikan semangat untuk terus memperjuangkan tanah yang seharusnya menjadi hak hidup warga Pundenrejo.
Hangatnya forum tersebut diakhiri sebelum suara adzan maghrib berkumandang. Dalam forum tersebut terlahir gerakan solidaritas baru yang semakin tinggi. Warga Pundenrejo bersama masa solidaritas membubarkan diri sambil bersalaman. Layaknya keluarga, warga dan gerakan solidaritas yang bersal dari seniman, LBH, YLBH, hingga mahasiswa membaur bersama di tempat makan setelah diskusi. Bahkan diluar forum diskusipun, diskusi kecil masih terjadi dengan sempilan guyonan dari warga.
Reporter/Penulis: Ardi Seila
Editor: Ika Nugraha