
Apa jadinya jika kebebasan kreatif para seniman bertemu dengan hangatnya keterbukaan warga di sebuah gang buntu? Kampung Petemesan memberikan jawabanya, sebuah ruang dimana seni tak lagi berjarak dengan kehidupan. Di jantung Kota Semarang yang padat, tepatnya di Kelurahan Purwodinatan, terdapat sebuah gang buntu yang kini menjadi titik sentrum baru bagi anak muda dan seniman. Kampung Petemasan, kini tidak lagi dikenal sebagai sudut kota yang gelap, melainkan telah bersulih rupa menjadi galeri terbuka yang penuh warna.
Awal Mula dan Inspirasi
Transformasi ini tidak terjadi dalam semalam. Rangga, selaku ketua Karang Taruna banyak bercerita mengenai kampung ini saat di wawancarai awak LPM vokal. Sebelumnya warga setempat tidak terlalu mengenal apa itu seni mural, bagi mereka, coretan di tembok identik dengan vandalisme yang mengganggu,
“Kalau kegiatan mural itu dari tahun 2017-an lah, 2017-2018. Itu kita pertama kali collab sama Hysteria, sama Rokok 76 juga turut ikut serta men-suport (Mendukung). Berarti di tahun 2017 itu pertama kali desa Petemasan mulai menginisiasi mural-mural, kolaborasi sama Hysteria, dan Rokok 76,” ungkap Rangga.
Inspirasi besar gerakan ini berakar dari keberhasilan Kampung Pelangi yang sempat viral di Semarang. Warga Petemasan menginginkan kampung mereka memiliki identitas visual yang baru dan segar di tengah hiruk pikuk pusat kota.
Seni yang Bercerita: Filosofi di Balik Tembok
Setiap goresan mural di kampung ini bukanlah sekadar hiasan tanpa makna. Setiap karya memiliki filosofi dan keterikatan sejarah dengan warga lokal. Mural Kuda, mengingatkan kembali pada sejarah masa lalu di mana wilayah tersebut dulunya merupakan area kandang kuda. Mural Tiga Dewa, terinspirasi dari mayoritas penduduk setempat yang merupakan etnis Tionghoa, sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas kultural mereka. Mural Kelinci, dibuat dengan konsep berbagi untuk menyambut perayaan Paskah.
Strategi “Aturen Awuren” dan Perawatan Kampung
Keberlanjutan napas seni di Kampung Petemasan tidak lepas dari sebuah strategi unik yang diusung oleh kolektif Hysteria. Wicaksana, selaku bagian dari kolektif Hysteria mengatakan bahwa “Aturan Awuren” sebagai prinsip. Wicaksana mengatakan bahwa Aturen Awuren ini mencangkup aspek kebebasan bernegosiasi, yang menjadi fondasi utama di mana para seniman diberikan ruang seluas-luasnya untuk berdialog dan bernegosiasi langsung dengan warga mengenai berbagai isu lokal sebelum mulai berkarya.
Kekuatan jaringan juga menjadi kunci, berawal dari keterlibatan hanya empat seniman, kini gerakan ini telah meluas hingga merangkul puluhan kreator dari berbagai wilayah seperti Kendal, Salatiga, hingga Tangerang Selatan. Warga dan Karang Taruna juga aktif menjaga fisik mural. Jika warna mulai pudar, mereka melakukan perbaikan secara mandiri. Selain itu, tema mural diperbarui secara berkala, setidaknya setiap satu atau dua tahun sekali untuk menjaga kesegaran visual kampung.
Kehadiran seni mural ini pada akhirnya membawa dampak nyata bagi kehidupan masyarakat setempat. Dari sisi interaksi sosial, kegiatan ini menjadi jembatan bagi warga yang sebelumnya jarang bersosialisasi untuk mulai berkumpul, bekerja sama, dan saling membantu dalam setiap kegiatan seni yang berlangsung. Antusiasme lintas generasi pun terlihat sangat tinggi, mulai dari anak anak hingga ibu ibu, semua terlibat aktif memberikan dukungan, terutama saat penyelenggaraan acara besar yang direncanakan setiap tahunnya menghadirkan pertunjukan musik dan hiburan lainya.
Terdapat harapan ekonomi yang besar dari transformasi ini, kampung ini diproyeksikan berkembang menjadi destinasi menarik dengan berbagai tempat nongkrong atau kedai kopi. Harapannya, kunjungan wisatawan yang datang untuk menikmati mural dapat mendorong ekonomi rumah tangga, memberikan peluang bagi warga untuk berjualan dan meningkatkan taraf hidup mereka tanpa harus meninggalkan kampung halaman.
Sebagaimana ditegaskan oleh Wicaksana selaku dari kolektif Hysteria mengenai urgensi utama mempertahankan seni di kampung ini adalah untuk mencegah stagnasi nilai budaya Indonesia dan kekampungan, agar jangan sampai bangunan jiwanya koyak dan diremehkan akibat terlalu fokus pada pembangunan fisik tanpa sentuhan rasa dan budaya.
#Seni #SeniMural
Penulis: Satrya Erlangga
Editor: Dhea Silvia Gayatri