
Tiga Lembaga Tinggi Mahasiswa UPGRIS menyelenggarakan Open House dengan tema “Bersinergi dalam Berorgansasi serta Transformasi menuju Integritas” sebagai sarana Advokasi Mahasiswa. Open House dihadiri oleh Pimpinan dan Mahasiswa yang tergabung dalam Ormawa Lemawa UPGRIS pada Kamis (20/02/2025) di Gedung Pusat Lantai 7 UPGRIS.
Open House Tiga Lembaga Tinggi diawali dengan pembukaan oleh Rektor UPGRIS Dr. Sri Suciati M.Hum. Dilanjutkan dengan dialog Mahasiswa bersama Lembaga Universitas.
Penyampaian Rekomendasi Kongres Mahasiswa 2024, disampaikan langsung kepada Rektor, Wakil Rektor, dan disaksikan oleh Dekan Fakultas. Rekomendasi dibedah dengan pemangkasan dari 100 aspirasi menjadi 40 aspirasi yang kemudian ditinjau langsung oleh lembaga. Tinjauan tersebut disebabkan oleh beberapa alasan.
“Ada 100. Cuma memang kita pilah pilih, karena mengingat di rektorat memang sibuk dan ada acara lain begitu, kita memikirkan dari semua itu kita mewakili yang penting dulu mba, emang semua penting tapi mencari yang lebih mewakili itu semua” ucap Zakka selalu ketua panitia Open House .
Bedah Rekomendasi berisi 31 Aspirasi Mahasiswa mengenai Sarana dan Pra sarana seperti, biaya sewa gor, sewa sewa fasilitas untuk acara kampus, penambahan kelas, penambahan parkiran, dan Wi-fi. Dan 9 aspirasi yang menyentuh bidang akademik seperti, penambahan pendidik, ruang kelas, serta transparansi akademik.
Ke-40 aspirasi tersebut merupakan tanggungjawab yang harus direalisasikan. Beberapa aspirasi telah dijawab dengan tegas oleh Rektor. Seperti pada penyewaan tempat untuk kegiatan pelajar khususnya Balairung yang dibedakan antara harga pelajar dan pihak luar ketika menyewa.
“Penyewaan Mahasiswa dan Orang Luar berbeda, Orang Luar 40 juta, Ketika Mahasiswa menggunakan Balairung harga sewanya 9 jt. Jadi memang sudah dibedakan harga Mahasiswa dan pihak luar” ucap Rektor.
Universitas juga berupaya memberikan kenyamanan kepada mahasiswanya untuk berkegiatan.
“UPGRIS memfasilitasi kegiatan mahasiwa, jika fasilitas yang kurang kita akan mencoba melakukan penambahan, agar mereka merasa nyaman dalam berorganisasi” imbuhnya.
Namun, jawaban tersebut sepertinya belum memenuhi kepuasan siswa.
“Prihal dari tanggapan Open House ini terkesan diadakan secara formatif. Karena saya rasa ketika komunikasi dengan pihak rektorat pun hanya menjawab seadanya dan mencari aman seperti itu. Jadi saya rasa rekomendasi-rekomendasi yang disampaikan saat Kongres kemarin itu masih sekedar abu abu dan ngambang begitu” ucap Kristo ketua BEM FTI UPGRIS.
Usai mendengarkan diskusi mahasiswa, acara dilanjutkan dengan mendengarkan pemaparan program kerja serta agenda dari Tiga Lembaga Tinggi (BEM U, DPM, dan LKM).
“Dan untuk sesi keduanya, pemaparan Tiga Lembaga Tinggi pun saya rasa cukup terfokus karena dengan tingkat Tiga Lembaga Tinggi, saya rasa mereka masih terlalu kanak-kanakan ketika menampilkan presentasi apa yang mereka paparkan” Kristo.
Menurut ketua panitia Open House , tujuannya adalah selain mendengarkan aspirasi mahasiswa juga sebagai evaluasi terkait program yang akan dijalankan dalam satu periode ke depan.
“Terutama ajang evaluasi untuk Tiga Lembaga Tinggi selain kongres itu Open House ya. Karena itu menjadi referensi kita, dimana letak kesalahannya, kita harus bagaimana? Soalnya mau bagaimanapun Tiga Lembaga Tinggi juga bisa salah begitu”.
Melihat bagaimana Open House terlaksana tahun ini, perlu adanya ruang diskusi aktif seperti yang disampaikan Kristo bahwa Open House tidak hanya dilakukan secara formatif saja yaitu sekedar komunikasi antara mahasiswa dan jajaran rektorat lalu pemaparan, akan tetapi ditambah inovasi yang ada, sesuai dengan urgensi kebutuhan yang ada. Sudah disinggung mengenai forum prihal student Government , tetapi ternyata tetap diadakan secara formatif.
Penulis: Sabrina Gita
Editor: Ika Nugraha