
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai digencarkan pada (06/01/2025). Peluncuran program unggulan Prabowo – Gibran ini ditujukan kepada anak-anak sekolah mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Program gratis ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah Fundamental seperti Stunting pada anak Indonesia. Sampai saat ini program “Makan Siang Gratis” masih belum merata. Seperti di daerah di Blora.
Di daerah Blora sendiri baru dilaksanakan uji coba program ini pada (13/01/2025) di beberapa sekolah seperti SMP N 6 Blora dan SMK N 2 Blora.
“Dari yang saya tau di Blora ini baru uji coba yang sudah dilaksanakan di SMP N 6 Blora dan SMK N 2 Blora,” ujar Sukron guru SD N 1 Ngawen (10/02/2015).
Beberapa guru juga berharap program ini segera dilakukan secara menyeluruh agar para siswa dapat merasakan program unggulan MBG, seperti yang diujarkan Izul selalu guru MA YUKK Raden Fatah,
“Harapan saya program ini segera dilaksanakan tepat waktu agar kesehatan siswa terjaga, dan disiarkan secara merata” (13/02/2025).
Namun program MBG ini nyatanya berdampak pada pemangkasan anggaran sekolah dasar dan menengah senilai 8 triliun. Seperti yang diungkapkan oleh Mendikasmen Abdul Mu’ti dalam rapat dengan DPD. Awalnya Mu’ti mengatakan ia mendapat tambahan anggaran sebesar 33,5 triliun kemudian anggaran tersebut dikurangi 8 triliun, jadi 25 triliun. Akan tetapi Mu’ti mengemukakan bawasannya dana yang ada saat ini akan digunakan secara efisien dan tepat sasaran. Tidak sampai situ saja kemendiktisaintek juga terkena pemangkasan anggaran. Jendral Kemendiktisaintek Togar M. Simatupang.
“Jika dipotong, khawatir gunung akan naikin UKT” ujarnya kepada Tempo, Selasa (11/02/2025).
Adapun APBN Kemendiktisaintek yang dialokasikan sebesar 1,2 Triliun dari total 57,6 Triliun. Secara keseluruhan Kemendiktisaintek terkena pemangkasan sebesar 22,5 triliun. Togar menjelaskan bahwa memikirkan mencari solusi dengan melakukan rekonstruksi anggaran, menyusunnya kembali berdasarkan potensi yang ada untuk menghilangkan sumber pemborosan. Namun setelah rekonstruksi dilakukan, ia mengaku bahwa Kemendiktisaintek hanya mampu menetapkan sekitar 10 persen dari total pemangkasan sebesar Rp 22,5 triliun.
Sektor pendidikan dihadapkan pada dampak MBG yang positif namun juga merugikan. Akankah kebijakan ini sudah benar dalam mempersiapkan generasi emas atau malah menyajikan pada pendidikan pendidikan? Keresahan ini membuat pendidik merasakan kekecewaan terkait alokasi anggaran.
Sehingga pemerintah juga harus cermat dan tepat dalam mengambil keputusan. Bukan hanya karena program ini berjalan, malah menyebabkan banyak penghematan anggaran pendidikan bangsa ini. Sehingga sekarang banyak paradoks yang terjadi di Pendidikan Indonesia. Kesejahteraan: “Jika murid sejahtera maka guru sengsara, tapi jika guru sejahtera maka murid sengsara”.
Pemeriintah perlu teliti dalam penyaluran dana untuk MBG di sekolah. Penyaluran harus lebih transparan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Semua itu merupakan bentuk paksaan dari kurangnya fokus pemerintah terhadap pendidikan. Mari kita wujudkan generasi emas melalui saling kolaborasi dan lebih ditekankan lagi.
Penulis: Mutiara Dewi Aisyah’Andika Wisnu Pratama
Editor: Sabrina Gita Salsabella