
Memahami suatu perkotaan tidak hanya bisa dilihat dari satu disiplin keilmuan, hal inilah yang menjadi dasar PekaKota Institute. Sebuah platform pembelajaran isu perkotaan, dibawah naungan Kolektif Hysteria. Pada prinsipnya PekaKota sebagai ruang yang mendorong keterlibatan warga dalam proses pembentukan kota, dengan menekankan kerja-kerja lintas disipliner.
Sebagai langkah nyata dalam mewujudkan hal tersebut PekaKota Institute maupun Kolektif Hysteria, dalam beberapa program bekerja sama dengan berbagai perguruan tinggi. Salah satunya dengan program studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), kolaborasi ini dimulai sejak tahun 2016 dan sampai sekarang.
Kerjasama yang sudah terjalin ini rencana akan diperluas ke beberapa program studi dari berbagai perguruan tinggi. Hal ini tentu bertujuan untuk memperluas disiplin keilmuan, sebagai upaya memahami kota.
Dalam upaya memperkuat kolaborasi antara komunitas dan dunia akademik, PekaKota Institute dan Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menyelenggarakan “Temu Jaringan Kampus” di ruang DTS 1 gedung Fakultas Teknik, pada hari Rabu (30/04/2025).
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Prodi PWK Unissula Dr. Hj. Mila Karmilah, ST., MT. Selain itu turut dihadiri tujuh perguruan tinggi di Semarang dan sekitarnya, diantaranya UNIKA Soegijapranata, Universitas Diponegoro (Undip), ISI Surakarta, UIN Walisongo, Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS).
Selain dari kalangan akademisi, pertemuan kali ini turut dihadiri perwakilan dari Kolektif Hysteria dan PekaKota Institute. Acara Temu Jaringan Kampus dibuka dengan pemaparan dari head project PekaKota Institute, yakni Nella Siregar.
Dalam pemaparan kali ini Nella menyampaikan ke perwakilan kampus yang datang bahwasannya acara kali ini bertujuan untuk membuka peluang kerja lintas kampus. Harapan kedepannya dari kolaborasi yang sudah dijalin Kolektif Hysteria dengan kampus, bisa berdampak pada aspek-aspek sosial yang berkaitan dengan isu perkotaan. Kolaborasi ini bisa dikemas dalam sebuah program bersama.
Salah satu program dari Kolektif Hysteria yang kerap kali menjalin kolaborasi dengan kampus, yakni di Penta Klabs. Sebuah Art Site Project Biennale dua tahunan yang mengangkat isu sosial melalui pendekatan seni, riset, dan kegiatan utama berisi pameran serta simposium. Keterlibatan kampus kerap kali dalam kegiatan simposium.
“Kami ingin Penta Klabs tidak hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi juga ruang temu gagasan, ruang interaksi antar disiplin, dan laboratorium sosial untuk menghadirkan solusi berbasis komunitas,” ungkap Nella Siregar.
Dalam sesi tersebut juga Nella memperkenalkan tiga wilayah kerja utama Kolektif Hysteria yakni di kampung urban salah satunya di Kampung Bustaman, kampung pesisir di Tambakrejo, dan kampung rural Sekar Arum, yang masing-masing memiliki tantangan khas dan menuntut pendekatan interdisipliner.
“Di Tambakrejo, kami tidak hanya bicara soal relokasi, tapi tentang memori ruang. Di Sekar Arum, kami mendekati masalah lewat metode etnografi, bukan intervensi teknokratik,” jelas Nella.
Kolaborasi Nyata antara Kampus dan Komunitas
Salah satu hal yang disoroti dalam pemaparan Nella dalam pertemuan ini adalah keberhasilan kolaborasi Hysteria dan Unissula Tiga kali pelaksanaan Penta KLabs di tahun 2016, 2018, dan 2022 Kolektif Hysteria bekerja sama dengan PWK Unissula dalam simposium.
Selain dalam Penta KLabs, kerjasama yang terjalin PWK Unissula dengan Kolektif Hysteria. Meliputi kegiatan magang mahasiswa, beberapa kali PWK merekomendasikan mahasiswanya untuk magang Hysteria. Tidak hanya menjadi wadah magang mahasiswa, karena aktivitas yang dilakukan Hysteria berbasis kampung kota, jadi secara tidak langsung kalangan akademisi mengimplementasikan Tri Dharma perguruan tinggi, yakni pengabdian masyarakat.
Merespon yang disampaikan Nella terkait kerjasama, yang sudah terjalin Hysteria dengan PWK Unissula. Mila Karmilah selaku Kaprodi PWK Unissula menyatakan bahwa kerja sama ini bisa dijadikan sebuah role model bagi beberapa perguruan tinggi yang hadir pada Temu Jaringan Kampus. Bahwasanya kampus dan komunitas bisa berkolaborasi dalam suatu kegiatan, yang bisa berdampak langsung pada masyarakat dan mahasiswa.
“Hysteria membuka ruang belajar yang tidak bisa kami dapatkan hanya dari ruang kelas. Mereka mengajarkan realitas, bukan hanya teori,” respon Mila.
Minat dan Komitmen Kampus Lain
Penjelasan dari Nella yang mewakili PekaKota Institute dan pernyataan yang dilontarkan Kaprodi PWK Unissula, memantik perwakilan dari beberapa kampus yang datang.
Laura Andri RM,S.S.,M.Hum perwakilan dari program studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip, menyampaikan keinginan untuk mengembangkan kolaborasi secara lebih formal melalui penyusunan MoU dan melibatkan mahasiswa dalam pengabdian lintas fakultas, khususnya dari Planologi dan Sastra.
Senada dengan itu, Fidelis Aggiornamento Saintio, M.I.Kom. perwakilan dari program studi Ilmu Komunikasi UNIKA Soegijapranata. Menunjukkan ketertarikan untuk turut serta, namun menekankan pentingnya pemahaman awal terhadap isu-isu sosial yang diangkat Hysteria.
Sementara itu, ISI Surakarta menyoroti peran seni dalam menjembatani ruang-ruang sosial kultural di masyarakat.
“Kami ingin melihat bagaimana praktik seni bisa hadir bukan hanya sebagai ekspresi, tapi sebagai intervensi sosial,” ujar perwakilan dari ISI.
Perwakilan dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) UPGRIS yakni Dr. Setia Naka Andrian, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa bentuk kerja sama ini hendaknya tidak berhenti pada tataran administratif seperti dokumentasi atau nota kesepahaman semata. Ia menegaskan pentingnya adanya hasil nyata dari kolaborasi tersebut yang bisa dirasakan secara langsung oleh mahasiswa, dosen, maupun masyarakat luas.
“Kita tidak ingin kerja sama ini berhenti di foto-foto atau dokumen MoU. Harus ada jejak nyata yang bisa dinikmati mahasiswa, dosen, dan masyarakat,” tegas Setia Naka.
Melalui pertemuan “Temu Jaringan Kampus” ini, terlihat bahwa sinergi antara sebuah kolektif dan perguruan tinggi membuka peluang besar untuk menghadirkan ruang belajar alternatif yang kontekstual dan berdampak langsung pada masyarakat.
Pendekatan lintas disiplin yang diusung Kolektif Hysteria bersama PekaKota Institute menjadi contoh konkret bagaimana seni, riset, dan pengabdian masyarakat dapat saling menguatkan dalam memahami dinamika perkotaan. Dengan komitmen bersama dari berbagai institusi pendidikan tinggi, kolaborasi ini diharapkan tidak hanya melahirkan kegiatan seremonial, tetapi juga membangun ekosistem pembelajaran partisipatif yang berkelanjutan dan bermakna.
Penulis: Yasin Fajar
Editor: Ika Nugraha