Selamat Hari Buku Sedunia, Bermula Tinta di Dinding Gua menjadi Jendela Peradaban

Siapa sangka coretan pada dinding menjadi akar dari terciptanya sebuah buku. Manusia menggunakan batu dan dinding gua sebagai media untuk bercerita, bahkan dahulu manusia purba sekitar 2400 SM menggunakan kulit sapi dan kulit rusa untuk menggambar. Seiring dengan perkembangan waktu, pada 2700 SM ditemukan kertas yang terbuat dari tanaman papirus yang ditemukan di Makam dan Kuil Mesir Kuno. Dengan adanya kertas papirus, media tulisan dari batu dan dinding gua beralih pada kertas tersebut. Kertas ini memiliki karakteristik sangat kuas, tahan lama, elastis dan dibuat secara alami. Kertas Papirus mulai digunakan di Mesir Kuno sekitar 3000 SM dan menjadi catatan penting dalam peradaban Mesir Kuno.

Dilansir dari Ruang Buku, tulisan pertama kali muncul sekitar 3200 SM di Mesir Kuno dan Mesopotamia (sekarang menjadi Irak). Bentuk tulisan yang dikenal “Piktograf” dengan metode gambar sederhana untuk menjelaskan objek. Sedangkan, Mesir Kuno menggunakan sistem tulisan “Hieroglif” yang rumit, menggunakan gambar dan simbol untuk mewakili frasa kata. Perkembangan berikutnya terjadi sekitar 600 M, lahirlah buku bergambar pertama dengan tampilan warna-warni yang disebut Iluminated Manuscripts, sedangkan rakyat Yunani dan Romawi menciptakan lapisan lilin yang dituangkan di atas lembaran kertas. Buku berisi tulisan pertama lahir di Cina, Masyarakat menggunakan murbei putih, Ganja rami dan bahan-bahan lain yang diolah menjadi bubuk kertas dan dicetak menjadi lembaran-lembaran kertas.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization menetapkan 23 April sebagai Hari Buku Sedunia. Dilansir dari rri.co.id, tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan wafatnya beberapa penulis legenda seperti William Shakespeare, Miguel de Cervantes dan Inca Garcilaso de la Vega. Setiap tahun UNESCO dan organisasi internasional mewakili tiga sektor utama industry buku yaitu penerbit, penjual buku dan perpustakaan memilih Ibu Kota Buku Dunia. Kota yang terpilih akan mempromosikan buku dan membaca untuk semua kelompok usia dan lapisan masyarakat lainnya. Saat ini UNESCO menetapkan 25 Ibu Kota Buku Dunia dari Madrid, Spanyol (2001) hingga Rio de Janeiro, Brasil (2025). Tahun ini Kota Rio de Janeiro melaksanakan proyek dengan tema “Read Your Way” untuk mendorong anak-anak menemukan cara membaca dengan gaya sendiri dan menemukan kenikmatan dalam prosesnya.

Berdasarkan data dari UNESCO, minat membaca di Indonesia masih rendah dengan Indeks Minat Baca hanya 0,001% yang artinya dari 1.000 orang hanya satu orang yang rajin membaca. Survei GoodStats per Januari-Februari 2025 menunjukkan fakta hanya satu dari lima orang yang rutin membaca buku setiap hari, sementara 17% responden hanya membaca sesekali dan 15,4 % lainnya bahkan jarang membaca buku. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar Masyarakat Indonesia cenderung memilih buku dengan genre aplikatif seperti buku pengembangan diri (65%), nonfiksi (60,1%) dan pendidikan (57,4%). Buku fiksi seperti novel, cerita pendek dan fiksi ilmiah dengan persentase 50,6% .

Buku menjadi jendela perubahan untuk bangsa yang lebih baik. Masyarakat dengan pola pikir yang tumbuh dan berkembang dapat menjadi awal dari kemajuan masyarakat itu sendiri. Seseorang yang membaca satu buku dapat melahap habis pemikiran sang penulis hanya dalam waktu beberapa hari. Melahirkan berbagai pertanyaan dan sudut pandang akan fenomena yang terjadi di sekitar kita, sehingga seseorang dapat melihat lebih luas akan peristiwa yang dialami. Buku bukan hanya tentang perubahan pola piker tetapi juga penting untuk peradaban bangsa. Merawat ingatan dan Sejarah masa lalu dengan membaca buku merupakan awal dari kemajuan bangsa itu sendiri. Selamat Hari Buku Sedunia.

Penulis: Seila Ardiyanti

Editor: Ika Nugrahaning Saputri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *