

Semarang, 26 Februari 2026, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Semarang Raya melakukan aksi pembekuan rasa di depan Polda Jawa Tengah tepatnya pukul 16.30 WIB bertajuk “Marhaban Ya Melawan.”
Aksi kali ini dilaksanakan sebagai respon atas kasus remaja Ariyanto Tawakal (14) di Maluku Utara, yang kehilangan nyawa oleh oknum polisi Brimob. Hal ini memicu empati ratusan mahasiswa dari 15 perguruan tinggi di Semarang untuk turun ke jalan. Massa aksi melakukan Long March dari depan Undip Pleburan hingga depan POLDA Jawa Tengah, dengan membawa poster dan spanduk yang berisi tuntutan ditengah derasnya hujan.
Dengan kondisi yang tak terduga, hal itu tidak menghalangi semangat siswa untuk melanjutkan aksinya. Runtutan kegiatan diawali dengan orasi dari berbagai mahasiswa, kemudian dilanjutkan dengan membagikan takjil kepada pengguna jalan dan massal sambil menunggu waktu berbuka puasa. Usai maghrib, para massa melakukan shalat gaib dan doa bersama dengan menyalakan lilin, tabur bunga, dan teatrikal.
Aksi kali ini menuntut kejelasan dan mendesaknya reformasi polri secara struktural. Hingga hari ini, Reformasi polri yang diusung pada Agustus tahun lalu masih belum ada kemajuan dari pihak kepolisian. Ini merupakan aksi pertama pada tahun ini yang ditujukan terhadap aparat karena tidak adanya perubahan dan selalu kembali hal yang sama. Aksi ini juga serta membersamai di berbagai daerah lainnya.
“Kita menambahkan, kita di sini mengugat, di sini kita menuntut bagaimana kemajuan dan juga bentuk keberjalanan dan keinginan dari polri yang diusung reformasi pada agustus tahun lalu.”
Kemudian diperlukan Netralitas Intitusi dengan memaksa penarikan personel polisi dari segala bentuk keterlibatan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih agar polisi hanya fokus pada keamanan masyarakat.
Serta Evaluasi Pejabat Negara dengan melakukan pencopotan jabatan kepada Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai, karena dinilai mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kontroversial dan tidak berpihak kepada korban pelanggaran HAM.
Aksi kali ini berlangsung dengan damai dan kondusif. Kevin juga meyebutkan, jika polri dari Jawa Tengah tidak menjelaskan lebih lanjut permasalahan setelah aksi ini, massa akan datang kembali dengan jumlah yang lebih banyak dan ekanan yang lebih jauh.
Gun, salah satu warga lokal yang ikut serta dalam aksi pada hari ini, mengungkapkan bahwa ia tergerak dari kekecewaan dan terpantik dengan banyaknya isu yang muncul dari kepolisian dan pemerintah.
“Yang pertama, saya sudah melihat dari media sosial banyak isu yang berkeliaran dari pihak itu kepolisian, pihak itu pemerintah, Makanya saya mengikuti acara aksi pada hari ini,” ujarnya.
Gun, berpesan dengan penuh harapan agar negara ini cepat membaik, tidak lupa dia memberikan harapan kepada instansi kepolisian,
“Saya harap pihak kepolisian itu lebih memperbaiki sistem kinerja mereka sih,” tambahnya.
Aksi berakhir dengan kondusif pada pukul 19.00 WIB. Massa membubarkan diri meninggalkan Gedung Polda Jawa Tengah dengan sisa lilin yang tetap menyala dan taburan bunga mawar di lokasi.